199. Samura Ibnu Jundub r.a.meriwayatkan : Rasulullah SAW sering sekali bertanya kepada sahabat-habatnya : adakah seseorang daripada kamu yang bermimpi ? maka salah satu daripada mereka akan menceritakan mimpinya dan Rasulullah SAW akan menjelaskannya. Suatu pagi Nabi SAW bersabda : malam tadi dua orang datang kepadaku (dalam mimpi ) dan membangunkan saya dan berkata : pergilah bersama dengan kami. Saya berangkat dengan mereka dan kami melewati seorang laki-laki yang berbaring, dan seorang lagi berdiri dari sebelah atas kepalanya, ia memagang batu karang yang besar, dan ia melemparkan batu itu ke kepala laki-laki ( yang sedang berbaring itu ) sehingga batu itu meremukkan kepalanya. Batu itu terlempar jauh sehingga sampai ke hujung jalan, kemudian orang yang melempar itu menyusulnya dan membawa batu itu kembali ketika dia sampai kepada orang itu, kepalanya telah pulih dalam keadaannya yang normal. Pelempar itu kemudian melakukan hal yang sama sebagaimana ia telah lakukan sebelumnya. Saya bertanya kepada sahabat-sahabatku Subhanallah siapakah kedua orang ini ? mereka berkata : Mari kita berjalan terus ! Maka kami meneruskan perjalanan dan kami datang kepada seorang laki-laki yang sedang berbaring diatas belakangnya; dan seorang laki-laki yang lain berdiri sebelah atas kepalanya dengan sebuah kail besi , dan ia meletakkan kail itu dari satu sisi mulut laki-laki itu, menrobek pipi salah satu daripada mukanya, hidungnya dan matanya sampai ke tengkuk, dan demikian pula ia melakukan hal yang sama pada pipi sebelah yang lain. Ketika ia mencabik-cabik salah satu bagian dari muka orang itu bagian yang satu telah kembali dalam keadaan yang normal, kemudian ia kembali kepada bagian yang pertama utuk mengulanginya. Saya bertanya kepada kedua sahabatku : Subhanallah ! Siapakah kedua orang ini ? Mereka meminta saya untuk pergi kemudian kami meneruskan perjalanan dan kami sampai pada sesuatu seperti tannur ( semacam oven bakar, sebuah lobang yang biasanya terbuat dari tanah untuk membakkar roti. Rasulullah SAW bersabda : Dalam oven itu terdengar suara ribut dan jeritan. Kami melihat ke dalamnya dan mendapatkan laki-laki dan wanita dalam keadaan telanjang dan nyala api yang sampai kepada mereka dari bawah, dan apabila api itu sampai kepada mereka mereka menjerit dengna suara yang keras. Saya bertanya kepada mereka ; Siapakah mereka ini ? Mereka meminta saya untuk pergi, maka kami meneruskan perjalanan. Kemudian kami datang sampai kesebuah sungai yang berwarna merah seperti darah. Rasuklullah SAW menmbahkan : dan sesungguhnya ! dalam sungai itu ada seorang laki-laki yang sedang berenang, dan pada tepinya ada seorang laki-laki yang sudah mengumpulkan batu-batu. Lelaki yang sedang berenang itu datang mendekat kepada laki-laki dengan batu-batu itu. Orang yang terdahulu membuka mulutnya dan orang yang kemudian ( yang berada pada tepi sungai ) melemparkan batu kedalam mulutnya, kemudian dia pergi dan berenang kembali. Ia kembali, dan setiap kali ini di ulangi. Saya bertanya kepada kedua sahabatku : siapakah mereka ? mereka berkata kepadakku : Teruskan! Teruskan ! maka kami meneruskan perjalanan sehingga kami datang pada seorang laki-laki dengan wajah yag menjijikkan, wajah yang sangat menjijikkan yang tak pernah terlihat ! selain dia ada api dan ia sedang menyalahkannya dan berlari mengelilingi api itu. Saya bertanya sahabat-sahabatku : siapakah orang ini ? mereka berkata kepadaku : teruskan–teruskan maka kami meneruskan perjalanan sehingga kami sampai pada sebuah taman yang daun hijaunya sangat lebat, yang memiliki warna dari semua sumber. Ditengah-tengah kebun itu ada seorang laki-laki yang sangat tinggi dan saya dpat melihat kepalanya ; karena sangat tinggi, dan disekelilingnya ada kanak-kanak dalam jumlah yang besar yang tidak pernah saya liha sesuatu seperti itu. Saya bertanya kepada sahabat-sahaatku : siapakah ini? Mereka menjawab : teruskan teruskan ! maka kami teruskan perjalanan sehingga kami datang kepada sebuah taman yyang sangat anggun, lebih besar dan lebih baik daripada yang pernah saya lihat ! kedua sahabatku berkata kepadaku : pergilah dan naiklah. Rasulullah SAW menampakkan : maka kami naik sehingga kami mendapati sebuah kota yang dibangun daripada emas yang bata-batannya terbuat dari emas dan perak, dan kami pergi kegerbangnya, dan pintunya terbuka maka kami masuk dalam kota itu, dan kami mendapatkan di dalamnya laki-laki dengan separuh badannya sangat tampan sebagaimana orang yang paling tampan yang pernah engkau lihat. Separuh yang lain badan mereka sejelek orang yang paling jelek yang pernah kamu lihat. Kedua sahabat ku memerintahkan orang-orang ini untuk terjun kedalam sungai itu sesungguhnya ada sebuah sungai yang mengalir ( melewati ) yang airnya putih seperti susu. Orang–orang yang pergi dan mencelupkan didalamnya dan kemudian kembali kepada kami dengan kejelekkan mereka yang tertutup dan menjadi tampan keseluruhannya. Rasulullah SAW menambahkan : Kedua sahabat-sahabatku kemudian sambil menunjuk berkata kepada ku, itulah tempat buat kamu, yaitu Jannatul And . Saya mengangkat pandangan saya dan sesuungguhnya saya melihat disana sebuah mahligai seperti awan putih ! Kemudian kedua sahabat iu berkata kepadaku : bahwa istana itu adalah kepunyaanmu. Saya berkata kepada mereka. بارك الله فيكما Artinya : Semoga Allah memberkahi kalian berdua ! ijinkan saya untuk masuk kedalamnya. Mereka menjawab : Buka sekarang, tetapi engkau akan memasukinya ( pada suatu hari ). Saya berkata kepada mereka : saya telah melihat banyak kejadian pada malam ini. Apa kah makna dari semua ini ? Mereka menjawab : Kami akan memberitahu kamu : Peristiwa orang pertama yang kamu lalui, kepalanya sedang di lempari dengan batu, ia adalah simbol seoorang yang mempelajari Al Qur’an dan kemudian tidak membacanya atau tidak beramal dengan perintah-perintahnya, dan tidur tanpa mengerjakan shalat. Dan bagi orng kamu lalui keatasnya kedua sisi mulutnya, hidung dan matanya disobek dari depan ke belakang, ia adalah simbol laki-laki yang kleuar darai rumahnya pada waktu pagi dan menyebarkan kebohongan-kebohongan yang menyebar keseluruh dunia. Dan laki-laki dan perempuan yag telanjang itu, yang kamu lihat dalam oven seperti bangunan adalah pezina laki-laki dan wanita. Laki-laki yang engkau lihat sedang berenang disungai dan yag diberikan batu unuk dietelan adalah pemakan riba , dan laki-laki yang kelihatan jelek yang kamu lihat dekat api yang sedang dinnyalakannya dan pergi mengelilinginya adalah Malik penjaga neraka, dan laki-laki yang tinggi yang engkau melihatnya dalam taman adalah Ibrahim a.s., dan kanak-kanak yang mengelilinginya adalah kanak-kanak yang mati dalam keadaan fitrah. Periwayat menambahkan : Sebagian orang islam bertanya kepada nabi SAW wahai Rasulullah ! bagaimanakah dengan kanak-kanak orang musrikin, yang mana Rasulullah menjawab : dan juga kanak-kanak orang musrikin. Rasulullah saw menambahkan : orang yang engkau lihat separuh tampan dan separuh jelek, adalah orang-orang yang bersama dengan amalan-amalan baik memiliki juga amalan-amalan yang buruk akan tetapi Allah mengampuni mereka. ( HR.Bukhari )
Percakapan Laa ilaa ha ilallah
Monday, December 31, 2012
Fadhilat Menikah
“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)
“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21)
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat 49)
“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra 32)
“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur 26)
“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An Nisaa : 4)
“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)
“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi)
“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat) dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah syaithan” (Al Hadits)
“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)
“Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas ra).
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syetan” (Al Hadits)
“Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)
“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” (H.R. At-Turmidzi)
“Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada separuh yang lain” (Al Hadits)
“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits)
“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)
“Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)
“Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)
“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)
“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)
“Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Ya،¦la dan Thabrani)
“Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)
“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)
“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)
“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)
“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)
“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)
“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)
“Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad)
“Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)
“Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21)
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat 49)
“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra 32)
“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur 26)
“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An Nisaa : 4)
“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)
“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi)
“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat) dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah syaithan” (Al Hadits)
“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)
“Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas ra).
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syetan” (Al Hadits)
“Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)
“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” (H.R. At-Turmidzi)
“Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada separuh yang lain” (Al Hadits)
“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits)
“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)
“Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)
“Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)
“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)
“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)
“Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Ya،¦la dan Thabrani)
“Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)
“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)
“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)
“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)
“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)
“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)
“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)
“Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad)
“Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)
“Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sunday, December 30, 2012
Iman dan Amal Soleh Adalah Seiring
Iman dan Amal Soleh Adalah Seiring
Posted by Khairul Rashidi on Thursday, October 1, 2009
Hadith Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:”Iman dan amal adalah dua perkara yang seiring.” Riwayat Al-hakim
Huraian
Pengajaran hadis:
i) Iman mengikut pengertian syarak adalah keyakinan yang teguh dalam hati, mengakui dengan lidah dan melaksanakan dengan anggota. Inilah yang dinamakan ketaatan, amal yang soleh dan perlakuan yang baik.
ii) Seorang yang benar-benar beriman adalah mereka yang zahirnya sama dengan batinnya, mereka benar dalam keimanan dan ikhlas dalam melakukan amalan. Merekalah golongan ‘as-Sodiqun’ yang diperintah oleh Allah S.W.T agar kita sentiasa mendampingi mereka (bersahabat dengan mereka).
iii) Oleh sebab tingginya kedudukan iman maka Allah S.W.T telah menjadikan iman itu sebagai syarat asas penerimaan terhadap sesuatu amalan yang dilakukan di mana tidak akan ada satu amalan pun yang akan diterima oleh Allah melainkan setelah ada iman di dalam diri pelakunya.
iv) Sesiapa yang mendakwa beriman dengan lidahnya tetapi iman itu tidak meresap ke dalam hatinya maka dia merupakan orang yang munafiq. Ciri-ciri munafiq itu ialah kata-katanya bercanggah dengan perbuatannya dan amalannya ketika di khalayak ramai dan ketika dia bersendirian serta apa yang dizahirkannya adalah berbeza dengan apa yang disembunyikannya.
v) Iman dan amal soleh adalah seiring. Iman tidak akan sempurna tanpa amal soleh di mana Allah telah menyebutkan perkara ini sebanyak 60 kali di dalam al-Quran.
http://ii.islam.gov.my/hadith/hadith1.asp?keyID=205
Posted by Khairul Rashidi on Thursday, October 1, 2009
Hadith Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:”Iman dan amal adalah dua perkara yang seiring.” Riwayat Al-hakim
Huraian
Pengajaran hadis:
i) Iman mengikut pengertian syarak adalah keyakinan yang teguh dalam hati, mengakui dengan lidah dan melaksanakan dengan anggota. Inilah yang dinamakan ketaatan, amal yang soleh dan perlakuan yang baik.
ii) Seorang yang benar-benar beriman adalah mereka yang zahirnya sama dengan batinnya, mereka benar dalam keimanan dan ikhlas dalam melakukan amalan. Merekalah golongan ‘as-Sodiqun’ yang diperintah oleh Allah S.W.T agar kita sentiasa mendampingi mereka (bersahabat dengan mereka).
iii) Oleh sebab tingginya kedudukan iman maka Allah S.W.T telah menjadikan iman itu sebagai syarat asas penerimaan terhadap sesuatu amalan yang dilakukan di mana tidak akan ada satu amalan pun yang akan diterima oleh Allah melainkan setelah ada iman di dalam diri pelakunya.
iv) Sesiapa yang mendakwa beriman dengan lidahnya tetapi iman itu tidak meresap ke dalam hatinya maka dia merupakan orang yang munafiq. Ciri-ciri munafiq itu ialah kata-katanya bercanggah dengan perbuatannya dan amalannya ketika di khalayak ramai dan ketika dia bersendirian serta apa yang dizahirkannya adalah berbeza dengan apa yang disembunyikannya.
v) Iman dan amal soleh adalah seiring. Iman tidak akan sempurna tanpa amal soleh di mana Allah telah menyebutkan perkara ini sebanyak 60 kali di dalam al-Quran.
http://ii.islam.gov.my/hadith/hadith1.asp?keyID=205
Bencana Turun Ketika Umat Tidak Buat Usaha Dakwah
Usaha dakwah seperti air hujan. Jika hujan di tempat yang kontang seperti padang pasir pun maka tempat itu akan subur menjadi wadi. Tetapi jika hujan tidak turun walaupun di tempat yang subur dan hijau, maka lambat laun tempat itu akan menjadi kontang dan mati.
Satu jemaah dari Pakistan telah dihantar ke Rusia dan telah bertemu dengan seorang ulama. Ulama itu menceritakan bahawa pada satu masa dulu semasa kominis, 60 ulama di tempatnya telah dibunuh dengan memasukkan mereka ke dalam mesin pemecah batu di lombong batu. Dia telah terselamat kerana sentiasa membawa botol arak sebagai helah. Selepas itu ulama tersebut telah menangis dan menangis dan berkata bahawa ulama2 tersebut telah dibunuh kerana tidak buat kerja seperti yang kamu buat sekarang.
Allah turunkan azab di tempat2 orang Islam untuk rotan umat ini kerana berlaku zalim. Zalim kerana tinggalkan perintah Allah yang utama untuk umat ini iaitu usaha dakwah. Kita kata Amerika & the gang zalim tetapi kitalah yang sebenarnya zalim.
Di akhirat nanti sebahagian dari umat ini akan dihalau sebanyak 3 kali dari telaga Kauthar oleh Nabi sendiri kerana ketika di dunia tidak pernah mengerutkan dahi apabila melihat kerosakan pada agama. Sekali halau mereka akan jauh dari Nabi sejauh mata memandang.
Allah telah beri diri dan harta kepada kita supaya dapat digunakan untuk membina dan memajukan agama. Tetapi bila diri dan harta disalah guna maka akan jadi penyakit dan masalah. Sama seperti penggunaan dadah pada asalnya adalah sebagai ubat tetapi bila disalah guna akan jadi sebab kerosakan. Bila umat ini guna diri dan harta untuk agama maka agama akan maju tetapi bila guna untuk dunia maka dunia akan maju.
Jemaah pertama yang dihantar ke Perancis adalah jemaah dari Bangladesh pada tahun 1983. Pada masa itu tiada satu masjid pun di sana walaupun ada 4 juta orang Arab. Jemaah telah menyewa sebuah bilik dan memulakan usaha di sana. Sekarang telah ada 2000 buah masjid. Markas di St Denim setinggi 3 tingkat akan penuh setiap kali azan dilaungkan.
Elders kata bila usaha Nabi dibuat maka kota London & Paris akan bertukar seperti kota Mekah & Madinah iaitu hidupnya amalan agama. Tetapi bila usaha tak dibuat maka kota Mekah & Madinah akan menjdi seperti kota London & Paris iaitu tempat bershopping.
Di markas London telah boleh azan menggunakan loudspeaker. Gereja2 banyak ditukar kepada masjid. Gereja dibeli dengan harga murah kerana tiada sambutan orang ramai walaupun loceng dibunyikan setiap hari. Bukan puluhan tapi ratusan gereja ditukar sehingga perlimen Britain mengharamkan penjualan gereja kepada mana2 badan. Kiblat gereja adalah ke masjidil Aqsa, jadi bila ditukar kepada masjid maka kedudukan kiblat diubah beberapa darjah sahaja ke kanan iaitu ke arah kaabah.
Sepanyol dulunya adalah negara Islam tetapi bila usaha Nabi ditinggalkan maka masjid2 telah menjadi muzium, gudang, kilang dan sebagainya. Berkat dari usaha jemaah2 yang bergerak maka sekarang masjid Cardoba di Sepanyol yang sekarang telah menjadi muzium dan bar telah dibuka sedikit ruang untuk kegunaan orang Islam menunaikan solat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan Sepanyol ubah masjid Cordoba dari muzium dan bar kepada masjid sebenar maka ini tak akan berjaya. Tetapi dengan usaha Nabi, sedikit demi sedikit Allah buat perubahan.
Ada tempat2 lain yang tiada masjid, bila jemaah dihantar ke sana maka orang Islam di sana mula bartaubat dan bersolat serta mengamalkan agama. Mereka bersolat di jalan2, di taman2 dan di mana sahaja sehingga kerajaan tempatan di situ terpaksa buat masjid untuk orang Islam beribadat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan tu buat masjid maka tak akan berjaya.
Bila kaum wanita ada fikir agama maka mereka akan didik anak2 cara hidup agama. Halakah ta’lim dan muzakarah sifat sahabat perlu dibuat di rumah setiap hari selama satu jam supaya dapat tanam jiwa agama kepada anak2. Jika tidak anak2 akan terpengaruh dengan kartun, robot, hantu dan lain-lain. Wanita juga akan jadi penggalak suami dan anak2 untuk beri pengorbanan untuk agama dan keluar di jalan Allah. Seperti isteri2 Nabi dan sahabat yang galakkan suami dan anak2 mereka.
Yakinlah bahawa setiap susah payah kita untuk agama akan pasti diganjari oleh Allah di akhirat dengan ganjaran yang besar. Setiap amal yang dibuat ketika keluar di jalan Allah akan digandakan sekurang2nya 700,000 kali ganda malah lebih lagi.
Untuk belajar usaha ini maka kita kita diminta keluar jemaah masturat 3 hari, 10 atau 15 hari dan 40 hari IPB.
Satu jemaah dari Pakistan telah dihantar ke Rusia dan telah bertemu dengan seorang ulama. Ulama itu menceritakan bahawa pada satu masa dulu semasa kominis, 60 ulama di tempatnya telah dibunuh dengan memasukkan mereka ke dalam mesin pemecah batu di lombong batu. Dia telah terselamat kerana sentiasa membawa botol arak sebagai helah. Selepas itu ulama tersebut telah menangis dan menangis dan berkata bahawa ulama2 tersebut telah dibunuh kerana tidak buat kerja seperti yang kamu buat sekarang.
Allah turunkan azab di tempat2 orang Islam untuk rotan umat ini kerana berlaku zalim. Zalim kerana tinggalkan perintah Allah yang utama untuk umat ini iaitu usaha dakwah. Kita kata Amerika & the gang zalim tetapi kitalah yang sebenarnya zalim.
Di akhirat nanti sebahagian dari umat ini akan dihalau sebanyak 3 kali dari telaga Kauthar oleh Nabi sendiri kerana ketika di dunia tidak pernah mengerutkan dahi apabila melihat kerosakan pada agama. Sekali halau mereka akan jauh dari Nabi sejauh mata memandang.
Allah telah beri diri dan harta kepada kita supaya dapat digunakan untuk membina dan memajukan agama. Tetapi bila diri dan harta disalah guna maka akan jadi penyakit dan masalah. Sama seperti penggunaan dadah pada asalnya adalah sebagai ubat tetapi bila disalah guna akan jadi sebab kerosakan. Bila umat ini guna diri dan harta untuk agama maka agama akan maju tetapi bila guna untuk dunia maka dunia akan maju.
Jemaah pertama yang dihantar ke Perancis adalah jemaah dari Bangladesh pada tahun 1983. Pada masa itu tiada satu masjid pun di sana walaupun ada 4 juta orang Arab. Jemaah telah menyewa sebuah bilik dan memulakan usaha di sana. Sekarang telah ada 2000 buah masjid. Markas di St Denim setinggi 3 tingkat akan penuh setiap kali azan dilaungkan.
Elders kata bila usaha Nabi dibuat maka kota London & Paris akan bertukar seperti kota Mekah & Madinah iaitu hidupnya amalan agama. Tetapi bila usaha tak dibuat maka kota Mekah & Madinah akan menjdi seperti kota London & Paris iaitu tempat bershopping.
Di markas London telah boleh azan menggunakan loudspeaker. Gereja2 banyak ditukar kepada masjid. Gereja dibeli dengan harga murah kerana tiada sambutan orang ramai walaupun loceng dibunyikan setiap hari. Bukan puluhan tapi ratusan gereja ditukar sehingga perlimen Britain mengharamkan penjualan gereja kepada mana2 badan. Kiblat gereja adalah ke masjidil Aqsa, jadi bila ditukar kepada masjid maka kedudukan kiblat diubah beberapa darjah sahaja ke kanan iaitu ke arah kaabah.
Sepanyol dulunya adalah negara Islam tetapi bila usaha Nabi ditinggalkan maka masjid2 telah menjadi muzium, gudang, kilang dan sebagainya. Berkat dari usaha jemaah2 yang bergerak maka sekarang masjid Cardoba di Sepanyol yang sekarang telah menjadi muzium dan bar telah dibuka sedikit ruang untuk kegunaan orang Islam menunaikan solat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan Sepanyol ubah masjid Cordoba dari muzium dan bar kepada masjid sebenar maka ini tak akan berjaya. Tetapi dengan usaha Nabi, sedikit demi sedikit Allah buat perubahan.
Ada tempat2 lain yang tiada masjid, bila jemaah dihantar ke sana maka orang Islam di sana mula bartaubat dan bersolat serta mengamalkan agama. Mereka bersolat di jalan2, di taman2 dan di mana sahaja sehingga kerajaan tempatan di situ terpaksa buat masjid untuk orang Islam beribadat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan tu buat masjid maka tak akan berjaya.
Bila kaum wanita ada fikir agama maka mereka akan didik anak2 cara hidup agama. Halakah ta’lim dan muzakarah sifat sahabat perlu dibuat di rumah setiap hari selama satu jam supaya dapat tanam jiwa agama kepada anak2. Jika tidak anak2 akan terpengaruh dengan kartun, robot, hantu dan lain-lain. Wanita juga akan jadi penggalak suami dan anak2 untuk beri pengorbanan untuk agama dan keluar di jalan Allah. Seperti isteri2 Nabi dan sahabat yang galakkan suami dan anak2 mereka.
Yakinlah bahawa setiap susah payah kita untuk agama akan pasti diganjari oleh Allah di akhirat dengan ganjaran yang besar. Setiap amal yang dibuat ketika keluar di jalan Allah akan digandakan sekurang2nya 700,000 kali ganda malah lebih lagi.
Untuk belajar usaha ini maka kita kita diminta keluar jemaah masturat 3 hari, 10 atau 15 hari dan 40 hari IPB.
Bayan Masturot: Alloh Turunkan Bencana Ketika Umat Tidak Buat Usaha Dakwah
Filed under: Bayan Masturoh, Iman dan Amal Soleh — Tinggalkan Komentar 9 April 2011Posted on 2 Maret 2010 by dalamdakwah
Usaha dakwah seperti air hujan. Jika hujan di tempat yang kontang seperti padang pasir pun maka tempat itu akan subur menjadi wadi. Tetapi jika hujan tidak turun walaupun di tempat yang subur dan hijau, maka lambat laun tempat itu akan menjadi kontang dan mati.
Satu jemaah dari Pakistan telah dihantar ke Rusia dan telah bertemu dengan seorang ulama. Ulama itu menceritakan bahawa pada satu masa dulu semasa kominis, 60 ulama di tempatnya telah dibunuh dengan memasukkan mereka ke dalam mesin pemecah batu di lombong batu. Dia telah terselamat kerana sentiasa membawa botol arak sebagai helah. Selepas itu ulama tersebut telah menangis dan menangis dan berkata bahawa ulama2 tersebut telah dibunuh kerana tidak buat kerja seperti yang kamu buat sekarang.
Allah turunkan azab di tempat2 orang Islam untuk rotan umat ini kerana berlaku zalim. Zalim kerana tinggalkan perintah Allah yang utama untuk umat ini iaitu usaha dakwah. Kita kata Amerika & the gang zalim tetapi kitalah yang sebenarnya zalim.
Di akhirat nanti sebahagian dari umat ini akan dihalau sebanyak 3 kali dari telaga Kauthar oleh Nabi sendiri kerana ketika di dunia tidak pernah mengerutkan dahi apabila melihat kerosakan pada agama. Sekali halau mereka akan jauh dari Nabi sejauh mata memandang.
Allah telah beri diri dan harta kepada kita supaya dapat digunakan untuk membina dan memajukan agama. Tetapi bila diri dan harta disalah guna maka akan jadi penyakit dan masalah. Sama seperti penggunaan dadah pada asalnya adalah sebagai ubat tetapi bila disalah guna akan jadi sebab kerosakan. Bila umat ini guna diri dan harta untuk agama maka agama akan maju tetapi bila guna untuk dunia maka dunia akan maju.
Jemaah pertama yang dihantar ke Perancis adalah jemaah dari Bangladesh pada tahun 1983. Pada masa itu tiada satu masjid pun di sana walaupun ada 4 juta orang Arab. Jemaah telah menyewa sebuah bilik dan memulakan usaha di sana. Sekarang telah ada 2000 buah masjid. Markas di St Denim setinggi 3 tingkat akan penuh setiap kali azan dilaungkan.
Elders kata bila usaha Nabi dibuat maka kota London & Paris akan bertukar seperti kota Mekah & Madinah iaitu hidupnya amalan agama. Tetapi bila usaha tak dibuat maka kota Mekah & Madinah akan menjdi seperti kota London & Paris iaitu tempat bershopping.
Di markas London telah boleh azan menggunakan loudspeaker. Gereja2 banyak ditukar kepada masjid. Gereja dibeli dengan harga murah kerana tiada sambutan orang ramai walaupun loceng dibunyikan setiap hari. Bukan puluhan tapi ratusan gereja ditukar sehingga perlimen Britain mengharamkan penjualan gereja kepada mana2 badan. Kiblat gereja adalah ke masjidil Aqsa, jadi bila ditukar kepada masjid maka kedudukan kiblat diubah beberapa darjah sahaja ke kanan iaitu ke arah kaabah.
Sepanyol dulunya adalah negara Islam tetapi bila usaha Nabi ditinggalkan maka masjid2 telah menjadi muzium, gudang, kilang dan sebagainya. Berkat dari usaha jemaah2 yang bergerak maka sekarang masjid Cardoba di Sepanyol yang sekarang telah menjadi muzium dan bar telah dibuka sedikit ruang untuk kegunaan orang Islam menunaikan solat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan Sepanyol ubah masjid Cordoba dari muzium dan bar kepada masjid sebenar maka ini tak akan berjaya. Tetapi dengan usaha Nabi, sedikit demi sedikit Allah buat perubahan.
Ada tempat2 lain yang tiada masjid, bila jemaah dihantar ke sana maka orang Islam di sana mula bartaubat dan bersolat serta mengamalkan agama. Mereka bersolat di jalan2, di taman2 dan di mana sahaja sehingga kerajaan tempatan di situ terpaksa buat masjid untuk orang Islam beribadat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan tu buat masjid maka tak akan berjaya.
Bila kaum wanita ada fikir agama maka mereka akan didik anak2 cara hidup agama. Halakah ta’lim dan muzakarah sifat sahabat perlu dibuat di rumah setiap hari selama satu jam supaya dapat tanam jiwa agama kepada anak2. Jika tidak anak2 akan terpengaruh dengan kartun, robot, hantu dan lain-lain. Wanita juga akan jadi penggalak suami dan anak2 untuk beri pengorbanan untuk agama dan keluar di jalan Allah. Seperti isteri2 Nabi dan sahabat yang galakkan suami dan anak2 mereka.
Yakinlah bahawa setiap susah payah kita untuk agama akan pasti diganjari oleh Allah di akhirat dengan ganjaran yang besar. Setiap amal yang dibuat ketika keluar di jalan Allah akan digandakan sekurang2nya 700,000 kali ganda malah lebih lagi.
Untuk belajar usaha ini maka kita kita diminta keluar jemaah masturat 3 hari, 10 atau 15 hari dan 40 hari IPB.
Filed under: Bayan Masturoh, Iman dan Amal Soleh — Tinggalkan Komentar 9 April 2011Posted on 2 Maret 2010 by dalamdakwah
Usaha dakwah seperti air hujan. Jika hujan di tempat yang kontang seperti padang pasir pun maka tempat itu akan subur menjadi wadi. Tetapi jika hujan tidak turun walaupun di tempat yang subur dan hijau, maka lambat laun tempat itu akan menjadi kontang dan mati.
Satu jemaah dari Pakistan telah dihantar ke Rusia dan telah bertemu dengan seorang ulama. Ulama itu menceritakan bahawa pada satu masa dulu semasa kominis, 60 ulama di tempatnya telah dibunuh dengan memasukkan mereka ke dalam mesin pemecah batu di lombong batu. Dia telah terselamat kerana sentiasa membawa botol arak sebagai helah. Selepas itu ulama tersebut telah menangis dan menangis dan berkata bahawa ulama2 tersebut telah dibunuh kerana tidak buat kerja seperti yang kamu buat sekarang.
Allah turunkan azab di tempat2 orang Islam untuk rotan umat ini kerana berlaku zalim. Zalim kerana tinggalkan perintah Allah yang utama untuk umat ini iaitu usaha dakwah. Kita kata Amerika & the gang zalim tetapi kitalah yang sebenarnya zalim.
Di akhirat nanti sebahagian dari umat ini akan dihalau sebanyak 3 kali dari telaga Kauthar oleh Nabi sendiri kerana ketika di dunia tidak pernah mengerutkan dahi apabila melihat kerosakan pada agama. Sekali halau mereka akan jauh dari Nabi sejauh mata memandang.
Allah telah beri diri dan harta kepada kita supaya dapat digunakan untuk membina dan memajukan agama. Tetapi bila diri dan harta disalah guna maka akan jadi penyakit dan masalah. Sama seperti penggunaan dadah pada asalnya adalah sebagai ubat tetapi bila disalah guna akan jadi sebab kerosakan. Bila umat ini guna diri dan harta untuk agama maka agama akan maju tetapi bila guna untuk dunia maka dunia akan maju.
Jemaah pertama yang dihantar ke Perancis adalah jemaah dari Bangladesh pada tahun 1983. Pada masa itu tiada satu masjid pun di sana walaupun ada 4 juta orang Arab. Jemaah telah menyewa sebuah bilik dan memulakan usaha di sana. Sekarang telah ada 2000 buah masjid. Markas di St Denim setinggi 3 tingkat akan penuh setiap kali azan dilaungkan.
Elders kata bila usaha Nabi dibuat maka kota London & Paris akan bertukar seperti kota Mekah & Madinah iaitu hidupnya amalan agama. Tetapi bila usaha tak dibuat maka kota Mekah & Madinah akan menjdi seperti kota London & Paris iaitu tempat bershopping.
Di markas London telah boleh azan menggunakan loudspeaker. Gereja2 banyak ditukar kepada masjid. Gereja dibeli dengan harga murah kerana tiada sambutan orang ramai walaupun loceng dibunyikan setiap hari. Bukan puluhan tapi ratusan gereja ditukar sehingga perlimen Britain mengharamkan penjualan gereja kepada mana2 badan. Kiblat gereja adalah ke masjidil Aqsa, jadi bila ditukar kepada masjid maka kedudukan kiblat diubah beberapa darjah sahaja ke kanan iaitu ke arah kaabah.
Sepanyol dulunya adalah negara Islam tetapi bila usaha Nabi ditinggalkan maka masjid2 telah menjadi muzium, gudang, kilang dan sebagainya. Berkat dari usaha jemaah2 yang bergerak maka sekarang masjid Cardoba di Sepanyol yang sekarang telah menjadi muzium dan bar telah dibuka sedikit ruang untuk kegunaan orang Islam menunaikan solat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan Sepanyol ubah masjid Cordoba dari muzium dan bar kepada masjid sebenar maka ini tak akan berjaya. Tetapi dengan usaha Nabi, sedikit demi sedikit Allah buat perubahan.
Ada tempat2 lain yang tiada masjid, bila jemaah dihantar ke sana maka orang Islam di sana mula bartaubat dan bersolat serta mengamalkan agama. Mereka bersolat di jalan2, di taman2 dan di mana sahaja sehingga kerajaan tempatan di situ terpaksa buat masjid untuk orang Islam beribadat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan tu buat masjid maka tak akan berjaya.
Bila kaum wanita ada fikir agama maka mereka akan didik anak2 cara hidup agama. Halakah ta’lim dan muzakarah sifat sahabat perlu dibuat di rumah setiap hari selama satu jam supaya dapat tanam jiwa agama kepada anak2. Jika tidak anak2 akan terpengaruh dengan kartun, robot, hantu dan lain-lain. Wanita juga akan jadi penggalak suami dan anak2 untuk beri pengorbanan untuk agama dan keluar di jalan Allah. Seperti isteri2 Nabi dan sahabat yang galakkan suami dan anak2 mereka.
Yakinlah bahawa setiap susah payah kita untuk agama akan pasti diganjari oleh Allah di akhirat dengan ganjaran yang besar. Setiap amal yang dibuat ketika keluar di jalan Allah akan digandakan sekurang2nya 700,000 kali ganda malah lebih lagi.
Untuk belajar usaha ini maka kita kita diminta keluar jemaah masturat 3 hari, 10 atau 15 hari dan 40 hari IPB.
Thursday, December 27, 2012
The First Caliph: Abu Bakr As-Sideeq
(632-634 A.C.)
"If I were to take a friend other than my Lord, I would take Abu Bakr as a friend." [Hadith]
Election to the Caliphate
The Prophet's closest Companion, Abu Bakr, was not present when the Holy Prophet (peace be on him) breathed his last in the apartment of his beloved wife of later years, Aisha, Abu Bakr's daughter. When he came to know of the Prophet's passing, Abu Bakr hurried to the house of sorrow.
"How blessed was your life and how beatific is your death," he whispered as he kissed the cheek of his beloved friend and master who now was no more.
When Abu Bakr came out of the Prophet's apartment and broke the news, disbelief and dismay gripped the community of Muslims in Medina. Muhammad (peace be on him) had been the leader, the guide and the bearer of Divine revelation through whom they had been brought from idolatry and barbarism into the way of God. How could he die? Even Umar, one of the bravest and strongest of the Prophet's Companions, lost his composure and drew his sword and threatened to kill anyone who said that the Prophet was dead. Abu Bakr gently pushed him aside, ascended the steps of the lectern in the mosque and addressed the people, saying
"O people, verily whoever worshipped Muhammad, behold! Muhammad is indeed dead. But whoever worships God, behold! God is alive and will never die."
And then he concluded with a verse from the Qur'an:
"And Muhammad is but a Messenger. Many Messengers have gone before him; if then he dies or is killed, will you turn back upon your heels?" [3:144]
On hearing these words, the people were consoled. Despondency gave place to confidence and tranquility. This critical moment had passed. But the Muslim community was now faced with an extremely serious problem: that of choosing a leader. After some discussion among the Companions of the Prophet who had assembled in order to select a leader, it became apparent that no one was better suited for this responsibility than Abu Bakr. A portion of the speech the First Caliph gave after his election has already been quoted in the introduction.
Abu Bakr's Life
Abu Bakr ('The Owner of Camels') was not his real name. He acquired this name later in life because of his great interest in raising camels. His real name was Abdul Ka'aba ('Slave of Ka'aba'), which Muhammad (peace be on him) later changed to Abdullah ('Slave of God'). The Prophet also gave him the title of 'Siddiq' - 'The Testifier to the Truth.'
Abu Bakr was a fairly wealthy merchant, and before he embraced Islam, was a respected citizen of Mecca. He was three years younger than Muhammad (peace be on him) and some natural affinity drew them together from earliest child hood. He remained the closest Companion of the Prophet all through the Prophet's life. When Muhammad first invited his closest friends and relatives to Islam, Abu Bakr was among the earliest to accept it. He also persuaded Uthman and Bilal to accept Islam. In the early days of the Prophet's mission, when the handful of Muslims were subjected to relentless persecution and torture, Abu Bakr bore his full share of hardship. Finally when God's permission came to emigrate from Mecca, he was the one chosen by the Prophet to accompany him on the dangerous journey to Medina. In the numerous battles which took place during the life of the Prophet, Abu Bakr was always by his side. Once, he brought all his belongings to the Prophet, who was raising money for the defense of Medina. The Prophet asked "Abu Bakr, what did you leave for your family?" The reply came: "God and His Prophet."
Even before Islam, Abu Bakr was known to be a man of upright character and amiable and compassionate nature. All through his life he was sensitive to human suffering and kind to the poor and helpless. Even though he was wealthy, he lived very simply and spent his money for charity, for freeing slaves and for the cause of Islam. He often spent part of the night in supplication and prayer. He shared with his family a cheerful and affectionate home life.
Abu-Bakr's Caliphate
Such, then, was the man upon whom the burden of leadership fell at the most sensitive period in the history of the Muslims.
As the news of the Prophet's death spread, a number of tribes rebelled and refused to pay Zakat (poor-due), saying that this was due only to the Prophet (peace be on him). At the same time a number of impostors claimed that the prophethood had passed to them after Muhammad and they raised the standard of revolt. To add to all this, two powerful empires, the Eastern Roman and the Persian, also threatened the new-born Islamic state at Medina.
Under these circumstances, many Companions of the Prophet, including Umar, advised Abu Bakr to make concessions to the Zakat evaders, at least for a time. The new Caliph disagreed. He insisted that the Divine Law cannot be divided, that there is no distinction between the obligations of Zakat and Salat (prayer), and that any compromise with the injunctions of God would eventually erode the foundations of Islam. Umar and others were quick to realize their error of judgment. The revolting tribes attacked Medina but the Muslims were prepared. Abu Bakr himself led the charge, forcing them to retreat. He then made a relentless war on the false claimants to prophethood, most of whom submitted and again professed lslam.
The threat from the Roman Empire had actually arisen earlier, during the Prophet's lifetime. The Prophet had organized an army under the command of Usama, the son of a freed slave. The army had not gone far when the Prophet had fallen ill so they stopped. After the death of the Prophet the question was raised whether the army should be sent again or should remain for the defence of Medina. Again Abu Bakr showed a firm determination. He said, "I shall send Usama's army on its way as ordered by the Prophet, even if I am left alone."
The final instructions he gave to Usama prescribed a code of conduct in war which remains unsurpassed to this day. Part of his instructions to the Muslim army were:
"Do not be deserters, nor be guilty of disobedience. Do not kill an old man, a woman or a child. Do not injure date palms and do not cut down fruit trees. Do not slaughter any sheep or cows or camels except for food. You will encounter persons who spend their lives in monasteries. Leave them alone and do not molest them."
Khalid bin Waleed had been chosen by the Prophet (peace be on him) on several occasions to lead Muslim armies. A man of supreme courage and a born leader, his military genius came to full flower during the Caliphate of Abu Bakr. Throughout Abu Bakr's reign Khalid led his troops from one victory to another against the attacking Romans.
Another contribution of Abu Bakr to the cause of Islam was the collection and compilation of the verses of the Qur'an.
Abu Bakr died on 21 Jamadi-al Akhir, 13 A.H. (23 August 634 A.C.), at the age of sixty-three, and was buried by the side of the Holy Prophet (peace be on him). His caliphate had been of a mere twenty-seven months duration. In this brief span, however, Abu Bakr had managed, by the Grace of God, to strengthen and consolidate his community and the state, and to secure the Muslims against the perils which had threatened their existence.
"If I were to take a friend other than my Lord, I would take Abu Bakr as a friend." [Hadith]
Election to the Caliphate
The Prophet's closest Companion, Abu Bakr, was not present when the Holy Prophet (peace be on him) breathed his last in the apartment of his beloved wife of later years, Aisha, Abu Bakr's daughter. When he came to know of the Prophet's passing, Abu Bakr hurried to the house of sorrow.
"How blessed was your life and how beatific is your death," he whispered as he kissed the cheek of his beloved friend and master who now was no more.
When Abu Bakr came out of the Prophet's apartment and broke the news, disbelief and dismay gripped the community of Muslims in Medina. Muhammad (peace be on him) had been the leader, the guide and the bearer of Divine revelation through whom they had been brought from idolatry and barbarism into the way of God. How could he die? Even Umar, one of the bravest and strongest of the Prophet's Companions, lost his composure and drew his sword and threatened to kill anyone who said that the Prophet was dead. Abu Bakr gently pushed him aside, ascended the steps of the lectern in the mosque and addressed the people, saying
"O people, verily whoever worshipped Muhammad, behold! Muhammad is indeed dead. But whoever worships God, behold! God is alive and will never die."
And then he concluded with a verse from the Qur'an:
"And Muhammad is but a Messenger. Many Messengers have gone before him; if then he dies or is killed, will you turn back upon your heels?" [3:144]
On hearing these words, the people were consoled. Despondency gave place to confidence and tranquility. This critical moment had passed. But the Muslim community was now faced with an extremely serious problem: that of choosing a leader. After some discussion among the Companions of the Prophet who had assembled in order to select a leader, it became apparent that no one was better suited for this responsibility than Abu Bakr. A portion of the speech the First Caliph gave after his election has already been quoted in the introduction.
Abu Bakr's Life
Abu Bakr ('The Owner of Camels') was not his real name. He acquired this name later in life because of his great interest in raising camels. His real name was Abdul Ka'aba ('Slave of Ka'aba'), which Muhammad (peace be on him) later changed to Abdullah ('Slave of God'). The Prophet also gave him the title of 'Siddiq' - 'The Testifier to the Truth.'
Abu Bakr was a fairly wealthy merchant, and before he embraced Islam, was a respected citizen of Mecca. He was three years younger than Muhammad (peace be on him) and some natural affinity drew them together from earliest child hood. He remained the closest Companion of the Prophet all through the Prophet's life. When Muhammad first invited his closest friends and relatives to Islam, Abu Bakr was among the earliest to accept it. He also persuaded Uthman and Bilal to accept Islam. In the early days of the Prophet's mission, when the handful of Muslims were subjected to relentless persecution and torture, Abu Bakr bore his full share of hardship. Finally when God's permission came to emigrate from Mecca, he was the one chosen by the Prophet to accompany him on the dangerous journey to Medina. In the numerous battles which took place during the life of the Prophet, Abu Bakr was always by his side. Once, he brought all his belongings to the Prophet, who was raising money for the defense of Medina. The Prophet asked "Abu Bakr, what did you leave for your family?" The reply came: "God and His Prophet."
Even before Islam, Abu Bakr was known to be a man of upright character and amiable and compassionate nature. All through his life he was sensitive to human suffering and kind to the poor and helpless. Even though he was wealthy, he lived very simply and spent his money for charity, for freeing slaves and for the cause of Islam. He often spent part of the night in supplication and prayer. He shared with his family a cheerful and affectionate home life.
Abu-Bakr's Caliphate
Such, then, was the man upon whom the burden of leadership fell at the most sensitive period in the history of the Muslims.
As the news of the Prophet's death spread, a number of tribes rebelled and refused to pay Zakat (poor-due), saying that this was due only to the Prophet (peace be on him). At the same time a number of impostors claimed that the prophethood had passed to them after Muhammad and they raised the standard of revolt. To add to all this, two powerful empires, the Eastern Roman and the Persian, also threatened the new-born Islamic state at Medina.
Under these circumstances, many Companions of the Prophet, including Umar, advised Abu Bakr to make concessions to the Zakat evaders, at least for a time. The new Caliph disagreed. He insisted that the Divine Law cannot be divided, that there is no distinction between the obligations of Zakat and Salat (prayer), and that any compromise with the injunctions of God would eventually erode the foundations of Islam. Umar and others were quick to realize their error of judgment. The revolting tribes attacked Medina but the Muslims were prepared. Abu Bakr himself led the charge, forcing them to retreat. He then made a relentless war on the false claimants to prophethood, most of whom submitted and again professed lslam.
The threat from the Roman Empire had actually arisen earlier, during the Prophet's lifetime. The Prophet had organized an army under the command of Usama, the son of a freed slave. The army had not gone far when the Prophet had fallen ill so they stopped. After the death of the Prophet the question was raised whether the army should be sent again or should remain for the defence of Medina. Again Abu Bakr showed a firm determination. He said, "I shall send Usama's army on its way as ordered by the Prophet, even if I am left alone."
The final instructions he gave to Usama prescribed a code of conduct in war which remains unsurpassed to this day. Part of his instructions to the Muslim army were:
"Do not be deserters, nor be guilty of disobedience. Do not kill an old man, a woman or a child. Do not injure date palms and do not cut down fruit trees. Do not slaughter any sheep or cows or camels except for food. You will encounter persons who spend their lives in monasteries. Leave them alone and do not molest them."
Khalid bin Waleed had been chosen by the Prophet (peace be on him) on several occasions to lead Muslim armies. A man of supreme courage and a born leader, his military genius came to full flower during the Caliphate of Abu Bakr. Throughout Abu Bakr's reign Khalid led his troops from one victory to another against the attacking Romans.
Another contribution of Abu Bakr to the cause of Islam was the collection and compilation of the verses of the Qur'an.
Abu Bakr died on 21 Jamadi-al Akhir, 13 A.H. (23 August 634 A.C.), at the age of sixty-three, and was buried by the side of the Holy Prophet (peace be on him). His caliphate had been of a mere twenty-seven months duration. In this brief span, however, Abu Bakr had managed, by the Grace of God, to strengthen and consolidate his community and the state, and to secure the Muslims against the perils which had threatened their existence.
The Wives of the Prophet SAW
Umm Salamah Hind bint Abi Umayyah ibn al-Mughira
She was Umm Salamah Hind bint Abi Umayyah ibn al-Mughira. On her marriage with the Prophet, she was to stay in the house of Zainab bint Khuzaimah. There she found a jar full of barley, a hand-mill, some macaroni, and a pot containing a little butter. She milled some barley and prepared a meal for the Prophet and herself. That was all they took as a wedding-feast.
She was popularly known by the name of Umm Salamah because of her son Salamah from her first husband Abdullah ibn Asad. She embraced Islam with her husband and is considered to have been one of the earliest Muslims. She first migrated to Abyssinia with her husband and from there she came to Makkah.
Some time later, when people started to migrate to Medinah, her husband, Abu Salamah, also decided to proceed to Medinah. He saddled his camel, and mounted his wife on it, together with their son Salamah who was then only a child. Then he set out, leading the camel. The relatives of Umm Salamah intercepted him and snatched the camel's rope from him and drove it back to Makkah. In the meantime, the relatives of Abu Salamah fell upon the little boy Salamah and dragged him between them, till they dislocated his shoulder. Abu Salamah was let go his way to Medinah. Umm Salamah was left alone with her relatives. She wept day and night for about a year, till one of her cousins saw her plight. He took pity on her. He interceded. Her son was restored to her. She was later allowed to go away to Medinah. Umm Salamah was wise and brave. She saddled her camel and set forth to join her husband in Medinah. The mother and the child were soon on the path leading to the City of the Prophet. At Tan'im she met 'Uthman ibn Talha. He was astonished to find her going all alone, risking herself to any freebooters on the way.
'Uthman could not face this situation. He got down from his camel and led the camel of Umm Salamah by the halter. 'Uthman was a chivalrous Arab. At every stop or watering-place he would make her camel kneel for her, and then withdraw and allow her to alight with convenience. He would then tie the camel to a tree, and himself would go a little away from her and lie down under another tree. After a few days they were in Quba' (Madinah). He said to Umm Salamah: "Your husband lives in this village. So enter it with the blessing of Allah! "'Uthman then left her and went back to Makkah.
Whenever Umm Salamah thought of her sufferings, she used to proclaim: "By Allah, never have I seen a family in Islam which suffered what the family of Abu Salamah did. Nor have I ever seen a nobler man than 'Uthman ibn Talha!" [Ibn Hisham, pp.213-14]
She lived with her husband Abu Salamah in Quba', till, in the Battle of Uhud, he was mortally wounded. This was a great blow! Now she was left alone, with two children, Salamah and Zainab.
After the completion of the waiting period, when the Prophet proposed to her, she offered three excuses, "I am a very jealous (gayur) woman (for she deeply loved her husband Abu Salamah); I have children; and I am old." The Prophet said that his age was more than hers; Allah and His Messenger would look after her children and, as for her jealousy, he would pray to Allah to remove that from her. She was married in the year 4 A.H. and her dowry was some goods worth ten dirhams.
Earlier, at Hudaibiyah, when the Prophet had commanded the people to slaughter their sacrificial animals and get their heads shaved, and the people were sulking in distress for nothing, he came into his tent. He was feeling indignant. In utter disgust, he said to Umm Salamah: "Thrice have I commanded the people to slaughter their animals and shave their heads. But look how listless and indolent they are!" Here came the feminine intuition to the rescue. She softly said: "O Prophet of Allah, you can't make these fifteen hundred men do what they don't want. Just do your own duty, which Allah has imposed on you. Go ahead and perform your own rites yourself—in an open place so that every one of them can see you."
The Prophet realised the sense of this advice. He stepped out of the tent. He saw that the sun had risen and it was bright everywhere in the vast desert. He went up to the herd. Everybody was now watching him. Even the polytheists of Makkah who had stayed there overnight saw him picking up for himself the Abu Jahl's camel, which had a white, shining, silver nose-ring. He brought it out into the open. He hobbled it and slaughtered it, pronouncing: "Allahu Akbar! Allahu Akbar!…"
Then in a short time he called Khirash ibn Umayya al-Khuza'i, who came up and shaved his head. When the Muslims saw what the Messenger had done, they leapt up and followed him in slaughtering the animals and shaving their heads.
She had heard from the Prophet that if any Muslim was in trouble, he should say this prayer: "O Allah keep my reward for this trouble and make a better alternative for me than this." She said that when Abu Salamah died, she remembered that hadith which he used to tell her and began to say it. When she wanted to say, "O Allah, give me a better replacement," her heart used to say, "Who could be better than Abu Salamah?" But when she began that prayer the Prophet was the replacement of Abu Salamah. [Nasai]
Umm Salamah reports that she was with Allah's Messenger along with Maymunah when Ibn Umm Maktum came into their house. The Prophet told them to veil themselves. She said, "Allah's Messenger, is he not blind and unable to see us?" He replied, "Are you blind and unable to see him?" [Ahmad, Tirmidi and Abu Dawud]
Though all the wives of the Prophet were learned women and possessed great knowledge, A'isha and Umm Salamah had no rivals. Mahmud ibn Labid said, "The wives of the Prophet were treasuries of hadith but A'isha and Umm Salamah had no equal." Marwan ibn Hakim enquired about problems from them and openly said, "Why should we ask others while the wives of the Prophet are among us?" [Musnad] Abu Hurairah and Ibn Abbas, in spite of their own wide knowledge, came to them for certain things and a huge group of tabi'in (followers of the companions) benefited from their advice. [Musnad]
She could read the Qur'an in the style of the Prophet. Once someone asked, "How did the Prophet read the Qur'an?" She said, "He read each verse separately from the other," and then showed how by reading the Qur'an herself. [Musnad] She narrated 378 hadith and is included in the third degree of companion narrators of hadith (Sahabah Muhaddethiin). She was very much interested in listening to hadith.
Once she was doing her hair, when the Prophet stood to deliver the Khutbah (address) and said, "O people!" She at once tied up her hair and stood up and listened to the Khutbah.(Musnad). Once the companions asked her about the Prophet's inward (basin) condition. She said, "His outward and inward (condition) is the same." When the Prophet came and was told of this, he said, "You have done well." [Musnad] She was very simple and lived a very pious life. Once she wore a necklace containing some portion of gold, but the Prophet avoided her so she broke the necklace. [Musnad] The Prophet was in her house when he called Fatimah, Hasan and Husain and put a blanket over them and said, "O Allah! These are my household; remove impurity from them and purify them." Umm Salamah heard this prayer and said, "O Allah's Messenger, am I included among them?" He said, "You are in your own position and (you are) good." [Tirmidi]
She was the last of the wives of the Prophet to die. She died at the age of eighty four in the year 63 A.H., after the martyrdom of Husain. Abu Hurairah offered her funeral prayer and she was buried in the Jannat al-Baqi.
Friday, December 21, 2012
Wednesday, December 19, 2012
Companions of Nabi SAW : Abdullah ibn Mas'ud
When he was still a youth, not yet past the age of puberty, he used to roam the mountain trails of Makkah far away from people, tending the flocks of a Quraysh chieftain, Uqbah ibn Muayt. People called him "Ibn Umm Abd" -- the son of the mother of a slave. His real name was Abdullah and his father's name was Mas'ud.
The youth had heard the news of the Prophet who had appeared among his people but he did not attach any importance to it both because of his age and because he was usually far away from Makkan society. It was his custom to leave with the flock of Uqbah early in the morning and not return until nightfall.
One day while tending the flocks, Abdullah saw two men, middle-aged and of dignified bearing, coming towards him from a distance. They were obviously very tired. They were also so thirsty that their lips and throat were quite dry. They came up to him, greeted him and said, "Young man, milk one of these sheep for us that we may quench our thirst and recover our strength."
"I cannot," replied the young man. "The sheep are not mine. I am only responsible for looking after them."
The two men did not argue with him. In fact, although they were so thirsty, they were extremely pleased at the honest reply. The pleasure showed on their faces.
The two men in fact were the blessed Prophet himself and his companion, Abu Bakr Siddiq. They had gone out on that day to the mountains of Makkah to escape the violent persecution of the Quraysh.
The young man in turn was impressed with the Prophet and his companion and soon became quite attached to them.
It was not long before Abdullah ibn Mas'ud became a Muslim and offered to be in the service of the Prophet. The Prophet agreed and from that day the fortunate Abdullah ibn Mas'ud gave up tending sheep in exchange for looking after the needs of the blessed Prophet.
Abdullah ibn Mas'ud remained closely attached to the Prophet. He would attend to his needs both inside and outside the house. He would accompany him on journeys and expeditions. He would wake him when he slept. He would shield him when he washed. He would carry his staff and his siwak (toothbrush) and attend to his other personal needs.
Abdullah ibn Mas'ud received a unique training in the household of the Prophet. He was under the guidance of the Prophet, he adopted his manner and followed his every trait until it was said of him, "He was the closest to the Prophet in character."
Abdullah was taught in the "school" of the Prophet. He was the best reciter of the Qur'an among the companions and he understood it better than them all. He was therefore the most knowledgeable on the Shariah. Nothing can illustrate this better than the story of the man who came to Umar ibn al-Khattab as he was standing on the plain of Arafat and said: "I have come, O Amir al-Mu'mineen, from Kufah where I left a man filling copies of the Qur'an from memory."
Umar became very angry and paced up and down beside his camel, fuming.
"Who is he?" he asked.
"Abdullah ibn Mas'ud," replied the man.
Umar's anger subsided and he regained his composure.
"Woe to you," he said to the man. "By God, I don't know of any person left who is more qualified in this matter than he is. Let me tell you about this."
Umar continued: "One night the Messenger of God, peace be upon him, was having a conversation with Abu Bakr about the situation of Muslims. I was with them. When the Prophet left, we left with him also and as we passed through the mosque, there was a man standing in Prayer whom we did not recognize. The Prophet stood and listened to him, then turned to us and said, 'Whoever wants to read the Qur'an as fresh as when it was revealed, then let him read according to the recitation of Ibn Umm Abd.'
After the Prayer, as Abdullah sat making supplications, the Prophet, peace be on him, said, 'Ask and it will be given to you. Ask and it will be given to you.' Umar continued: "I said to myself -- I shall go to Abdullah ibn Mas'ud straight away and tell him the good news of the Prophet's ensuring acceptance of his supplications. I went and did so but found that Abu Bakr had gone before me and conveyed the good news to him. By God, I have never yet beaten Abu Bakr in the doing of any good."
Abdullah ibn Mas'ud attained such a knowledge of the Qur'an that he would say, "By Him besides Whom there is no god, no verse of the book of God has been revealed without my knowing where it was revealed and the circumstances of its revelation. By God, if I know there was anyone who knew more of the Book of Allah, I will do whatever is in my power to be with him."
Abdullah was not exaggerating in what he said about himself. Once Umar ibn al-Khattab met a caravan on one of his Journeys as caliph. It was pitch dark and the caravan could not be seen properly. Umar ordered someone to hail the caravan. It happened that Abdullah ibn Mas'ud was in it.
"From where do you come?" asked Umar.
"From a deep valley," came the reply.
"And where are you going?" asked Umar.
"To the ancient house," came the reply.
"There is a learned person (alim) among them," said Umar and he commanded someone to ask the person: "Which part of the Qur'an is the greatest?"
" 'God. There is no god except Him, the Living, the Self-subsisting. Neither slumber overtakes Him nor sleep,' " replied the person answering, quoting the Ayat al-Kursi (the verse of the Throne).
"Which part of the Qur'an is the most clear on justice?"
" 'God commands what is just and fair, the feeding of relatives,' " came the answer.
"What is the most comprehensive statement of the Qur'an?"
" 'Whoever does an atom's weight of good shall see it, and whoever does an atom's weight of evil shall see it.' "
"Which part of the Qur'an gives rise to the greatest hope?"
" 'Say, O my servants who have wasted their resources, do not despair of the mercy of God. Indeed, God forgives all sins. He is the Forgiving, the Compassionate.' "
Thereupon Umar asked: "Is Abdullah ibn Mas'ud among you?"
"Yes, by God," the men in the caravan replied.
Abdullah ibn Mas'ud was not only a reciter of the Qur'an, a learned man or a fervent worshipper. He was in addition a strong and courageous fighter, one who became deadly serious when the occasion demanded it.
The companions of the Prophet were together one day in Makkah. They were still few in number, weak and oppressed. They said, "The Quraysh have not yet heard the Qur'an being recited openly and loudly. Who is the man who could recite it for them?"
"I shall recite it for them," volunteered Abdullah ibn Mas'ud.
"We are afraid for you," they said. "We only want someone who has a clan who would protect him from them."
"Let me," Abdullah ibn Mas'ud insisted, "Allah shall protect me and keep me away from their evil." He then went out to the mosque until he reached Maqam Ibrahim (a few meters from the Ka'bah). It was dawn and the Quraysh were sitting around the Ka'bah. Abdullah stopped at the Maqam and began to recite: "In the name of God, the Beneficent, the Merciful. The Merciful is God. He has taught the Qur'an. He has created man and taught him the clear truth. "
He went on reciting. The Quraysh looked at him intently and some of them asked: "What is Ibn Umm Abd saying?"
"Damn him! He is reciting some of what Muhammad brought!" they realized.
They went up to him and began beating his face as he continued reciting. When he went back to his companions, the blood was flowing from his face.
"This is what we feared for you," they said.
"By God," replied Abdullah, "the enemies of God are not more comfortable than I at this moment. If you wish. I shall go out tomorrow and do the same."
"You have done enough," they said. "You have made them hear what they dislike."
Abdullah ibn Masiud lived to the time of Khalifah Uthman, may God be pleased with him. When he was sick and on his death-bed, Uthman came to visit him and said: "What is your ailment?"
"My sins."
"And what do you desire?"
"The mercy of my Lord."
"Shall I not give you your stipend which you have refused to take for years now?"
"I have no need of it."
"Let it be for your daughters after you."
"Do you fear poverty for my children? I have commanded them to read Surah Al-Waqi'ah every night for I have heard the Prophet saying, 'Whoever reads Al-Waqi'ah every night shall not be effected by poverty ever.' "
That night, Abdullah passed away to the company of his Lord, his thoughts moist with the remembrance of God and with the recitation of the verses of His Book.
The youth had heard the news of the Prophet who had appeared among his people but he did not attach any importance to it both because of his age and because he was usually far away from Makkan society. It was his custom to leave with the flock of Uqbah early in the morning and not return until nightfall.
One day while tending the flocks, Abdullah saw two men, middle-aged and of dignified bearing, coming towards him from a distance. They were obviously very tired. They were also so thirsty that their lips and throat were quite dry. They came up to him, greeted him and said, "Young man, milk one of these sheep for us that we may quench our thirst and recover our strength."
"I cannot," replied the young man. "The sheep are not mine. I am only responsible for looking after them."
The two men did not argue with him. In fact, although they were so thirsty, they were extremely pleased at the honest reply. The pleasure showed on their faces.
The two men in fact were the blessed Prophet himself and his companion, Abu Bakr Siddiq. They had gone out on that day to the mountains of Makkah to escape the violent persecution of the Quraysh.
The young man in turn was impressed with the Prophet and his companion and soon became quite attached to them.
It was not long before Abdullah ibn Mas'ud became a Muslim and offered to be in the service of the Prophet. The Prophet agreed and from that day the fortunate Abdullah ibn Mas'ud gave up tending sheep in exchange for looking after the needs of the blessed Prophet.
Abdullah ibn Mas'ud remained closely attached to the Prophet. He would attend to his needs both inside and outside the house. He would accompany him on journeys and expeditions. He would wake him when he slept. He would shield him when he washed. He would carry his staff and his siwak (toothbrush) and attend to his other personal needs.
Abdullah ibn Mas'ud received a unique training in the household of the Prophet. He was under the guidance of the Prophet, he adopted his manner and followed his every trait until it was said of him, "He was the closest to the Prophet in character."
Abdullah was taught in the "school" of the Prophet. He was the best reciter of the Qur'an among the companions and he understood it better than them all. He was therefore the most knowledgeable on the Shariah. Nothing can illustrate this better than the story of the man who came to Umar ibn al-Khattab as he was standing on the plain of Arafat and said: "I have come, O Amir al-Mu'mineen, from Kufah where I left a man filling copies of the Qur'an from memory."
Umar became very angry and paced up and down beside his camel, fuming.
"Who is he?" he asked.
"Abdullah ibn Mas'ud," replied the man.
Umar's anger subsided and he regained his composure.
"Woe to you," he said to the man. "By God, I don't know of any person left who is more qualified in this matter than he is. Let me tell you about this."
Umar continued: "One night the Messenger of God, peace be upon him, was having a conversation with Abu Bakr about the situation of Muslims. I was with them. When the Prophet left, we left with him also and as we passed through the mosque, there was a man standing in Prayer whom we did not recognize. The Prophet stood and listened to him, then turned to us and said, 'Whoever wants to read the Qur'an as fresh as when it was revealed, then let him read according to the recitation of Ibn Umm Abd.'
After the Prayer, as Abdullah sat making supplications, the Prophet, peace be on him, said, 'Ask and it will be given to you. Ask and it will be given to you.' Umar continued: "I said to myself -- I shall go to Abdullah ibn Mas'ud straight away and tell him the good news of the Prophet's ensuring acceptance of his supplications. I went and did so but found that Abu Bakr had gone before me and conveyed the good news to him. By God, I have never yet beaten Abu Bakr in the doing of any good."
Abdullah ibn Mas'ud attained such a knowledge of the Qur'an that he would say, "By Him besides Whom there is no god, no verse of the book of God has been revealed without my knowing where it was revealed and the circumstances of its revelation. By God, if I know there was anyone who knew more of the Book of Allah, I will do whatever is in my power to be with him."
Abdullah was not exaggerating in what he said about himself. Once Umar ibn al-Khattab met a caravan on one of his Journeys as caliph. It was pitch dark and the caravan could not be seen properly. Umar ordered someone to hail the caravan. It happened that Abdullah ibn Mas'ud was in it.
"From where do you come?" asked Umar.
"From a deep valley," came the reply.
"And where are you going?" asked Umar.
"To the ancient house," came the reply.
"There is a learned person (alim) among them," said Umar and he commanded someone to ask the person: "Which part of the Qur'an is the greatest?"
" 'God. There is no god except Him, the Living, the Self-subsisting. Neither slumber overtakes Him nor sleep,' " replied the person answering, quoting the Ayat al-Kursi (the verse of the Throne).
"Which part of the Qur'an is the most clear on justice?"
" 'God commands what is just and fair, the feeding of relatives,' " came the answer.
"What is the most comprehensive statement of the Qur'an?"
" 'Whoever does an atom's weight of good shall see it, and whoever does an atom's weight of evil shall see it.' "
"Which part of the Qur'an gives rise to the greatest hope?"
" 'Say, O my servants who have wasted their resources, do not despair of the mercy of God. Indeed, God forgives all sins. He is the Forgiving, the Compassionate.' "
Thereupon Umar asked: "Is Abdullah ibn Mas'ud among you?"
"Yes, by God," the men in the caravan replied.
Abdullah ibn Mas'ud was not only a reciter of the Qur'an, a learned man or a fervent worshipper. He was in addition a strong and courageous fighter, one who became deadly serious when the occasion demanded it.
The companions of the Prophet were together one day in Makkah. They were still few in number, weak and oppressed. They said, "The Quraysh have not yet heard the Qur'an being recited openly and loudly. Who is the man who could recite it for them?"
"I shall recite it for them," volunteered Abdullah ibn Mas'ud.
"We are afraid for you," they said. "We only want someone who has a clan who would protect him from them."
"Let me," Abdullah ibn Mas'ud insisted, "Allah shall protect me and keep me away from their evil." He then went out to the mosque until he reached Maqam Ibrahim (a few meters from the Ka'bah). It was dawn and the Quraysh were sitting around the Ka'bah. Abdullah stopped at the Maqam and began to recite: "In the name of God, the Beneficent, the Merciful. The Merciful is God. He has taught the Qur'an. He has created man and taught him the clear truth. "
He went on reciting. The Quraysh looked at him intently and some of them asked: "What is Ibn Umm Abd saying?"
"Damn him! He is reciting some of what Muhammad brought!" they realized.
They went up to him and began beating his face as he continued reciting. When he went back to his companions, the blood was flowing from his face.
"This is what we feared for you," they said.
"By God," replied Abdullah, "the enemies of God are not more comfortable than I at this moment. If you wish. I shall go out tomorrow and do the same."
"You have done enough," they said. "You have made them hear what they dislike."
Abdullah ibn Masiud lived to the time of Khalifah Uthman, may God be pleased with him. When he was sick and on his death-bed, Uthman came to visit him and said: "What is your ailment?"
"My sins."
"And what do you desire?"
"The mercy of my Lord."
"Shall I not give you your stipend which you have refused to take for years now?"
"I have no need of it."
"Let it be for your daughters after you."
"Do you fear poverty for my children? I have commanded them to read Surah Al-Waqi'ah every night for I have heard the Prophet saying, 'Whoever reads Al-Waqi'ah every night shall not be effected by poverty ever.' "
That night, Abdullah passed away to the company of his Lord, his thoughts moist with the remembrance of God and with the recitation of the verses of His Book.
buat usaha dapat yakin
Setiap manusia diatas mukabumi ini berusaha. Setiap orang yang berusaha akan mendapat keyakinan atas apa yang diusahakan. Seorang petani yang usaha atas pertanian maka akan dapat keyakinan atas pertaniannya. Seorang peniaga yang usaha atas perniagaan maka akan dapat keyakinan untuk dapat sesuatu dari perniagaannya. Seorang pemerintah yang ada keyakinan atas pemerintahannya, yang usaha atas kuasanya maka akan datang keyakinan atas kuasanya. Setiap orang berusaha dan dalam hati mereka ada keyakinan atas usaha yang mereka telah lakukan.
Hari ini usaha atas agama telah ditinggalkan, usaha atas iman telah ditinggalkan oleh manusia. Oleh kerana itu, keyakinan atas agama telah keluar daripada hati manusia. Hari ini agama telah jadi satu benda yang ikhtiar dan infradi[1], satu benda pilihan dan bersifat peribadi. Sedangkan agama adalah bersifat ijtimai[2]. Asalnya agama bersifat ijtimai dan umum. Agama perlu diamalkan secara ijtimai. Oleh kerana tiada usaha atas agama, maka dari hati orang Islam sendiri telah tidak ada keyakinan pada agama. Telah tidak ada penggantungan pada agama bahawa dengan agama kita akan dapat kejayaan. Punca utama ialah kerana usaha agama telah ditinggalkan.
Muhammad Saad Kandhalawi : Ijtimak Malaysia, 11 Julai 2009.
Hari ini usaha atas agama telah ditinggalkan, usaha atas iman telah ditinggalkan oleh manusia. Oleh kerana itu, keyakinan atas agama telah keluar daripada hati manusia. Hari ini agama telah jadi satu benda yang ikhtiar dan infradi[1], satu benda pilihan dan bersifat peribadi. Sedangkan agama adalah bersifat ijtimai[2]. Asalnya agama bersifat ijtimai dan umum. Agama perlu diamalkan secara ijtimai. Oleh kerana tiada usaha atas agama, maka dari hati orang Islam sendiri telah tidak ada keyakinan pada agama. Telah tidak ada penggantungan pada agama bahawa dengan agama kita akan dapat kejayaan. Punca utama ialah kerana usaha agama telah ditinggalkan.
Muhammad Saad Kandhalawi : Ijtimak Malaysia, 11 Julai 2009.
Tuesday, December 18, 2012
Mujahid Fikir Umat
Dari Abdullah bin Umar r.a bahawa Rasulullah SAW telah menukilkan satu firman Allah SWT di dalam sebuah hadis qudsi: Mana-mana hambaku yang semata-mata mendapat redhaKu mereka keluar sebagai mujahid, maka Aku memberi jaminan bahawa Aku akan memulangkannya ke rumah dengan pahala dan harta rampasan, dan jika Aku memanggilnya kembali, maka Aku akan mengampunkannya, merahmatinya dan akan memasukkanya ke dalam syurga. (HR Ahmad)
Dari Hind bin Abi Halab r.a ketika menceritakan peribadi Nabi SAW berkata bahawa Rasulullah SAW; (kerana umatnya) berterusan bersedih dan sentiasa berfikir, tidak langsung berasa tenang bila-bila masa pun. Baginda selalu diam dan tidak akan berbicara jika tidak perlu. (HR Tirmizi)
Dari Hind bin Abi Halab r.a ketika menceritakan peribadi Nabi SAW berkata bahawa Rasulullah SAW; (kerana umatnya) berterusan bersedih dan sentiasa berfikir, tidak langsung berasa tenang bila-bila masa pun. Baginda selalu diam dan tidak akan berbicara jika tidak perlu. (HR Tirmizi)
Sunday, November 11, 2012
Besar-kan-lah Allah dan Rasul dalam hati kami..
Dari Abu Darda r.a meriwayatkan bahawa baginda Rasulullah SAW bersabda: Besarkanlah Allah SWT dalam hati kamu nescaya kamu akan diampuniNya. (HR Ahmad)
Dari Anas r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda: Tempat meletak busar panah seorang dari kamu dan tempat pemijak kaki dari syurga adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya dan jika salah seorang daripada wanita-wanita (bidadari) syurga muncul ke bumi nescaya akan bercahaya-cahaya daripada syurga hingga ke bumi dan akan dipenuhi keduanya dengan bau yang harum dan selendang atau tudungnya lebih bernilai daripada dunia dan seisinya. (HR Bukhari)
Dari Anas r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: Kerana (mendakwahkan) agama, aku telah ditakut-takutkan yang mana tidak ada seorang pun yang ditakut-takutkan seperti itu, dan aku telah disakiti hingga tiada siapa yang disakiti seperti ini. Telah berlalu tiga puluh malam dan tiga puluh siang berturut-turut dalam keadaan tidak ada makanan sedikit pun yang boleh dimakan oleh benda bernyawa kecuali kadar yang boleh disembunyikan oleh ketiak Bilal. Yakni kadar yang terlalu sedikit. (HR Tirmizi)
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a meriwayatkan bahawa baginda Rasulullah SAW bersabda: Orang yang paling hampir kepadaku pada hari Kiamat kelak ialah orang yang paling banyak berselawat kepadaku. (HR Tirmizi)
Wednesday, October 31, 2012
Dakwah Ilallah; Inilah Kerja.
Targhib Oleh Profesor Abdul Rahman:
- Telah datang dalam hati kita inilah “kerja”
- Ada masa dan keadaan kita bertanya adakah ini pun “kerja”
- Melalui pengorbanan, manusia mulai faham memang ini adalah “kerja” dan Allah SWT memahamkan kita bahawa inilah satu2nya “kerja”
- Melalui sirah dan perjalanan hidup Nabi saw bersama sahabat r.a.hum, “kerja” ini dapat kita fahami
- “Kerja” ini tidak dapat difahami dengan perkataan atau bicara/kata2 sahaja
- Kita akan faham dengan membuat/melakukannya
- Jadikan “kerja” ini kerja kita dan letakkan takaza “kerja” ini dihadapan
- Di samping itu lakukan juga kerja2 lain………menyara hidup
- Aturkan kerja mana yang perlu di hadapankan dan yang mana perlu dikemudiankan. Inilah pengorbanan…..
- Dengan pengorbanan ini maka Iman akan datang
- Melalui keadaan(haalat) akan timbul amal dan kekuatan Iman pula akan datang dengan dakwah
- Kerja dakwah difahami dengan pengorbanan. Untuk itu carilah jalan untuk buat pengorbanan
- Syaitan akan mengatakan kita akan “selamat” dengan melakukan kerja dengan cara yang lain
- Kita perlu maju dalam pengorbanan. Beginilah orang2 lama(elders) memahamkan kita
- Dengan pengorbanan maka usaha agama akan wujud, orang baru akan datang
- Orang baru tidak dengar apa yang tuan2 dengar (….umpamanya targhib malam ini…..). Jika mereka buat usaha, usaha tersebut akan mengikut cara sendiri dan akan menjadi luar kawalan
- Contoh: dalam Perang Khandak, keluasan & kedalaman parit telah ditentukan oleh Nabi saw. Terdapat di suatu tempat ada sebiji batu besar menghalang sahabat r.a.hum meneruskan penggalian parit lalu perkara ini dilaporkan kepada Nabi saw. Baginda telah datang dan mengetuk/memukul batu tersebut dengan tongkat/kayu nya lalu terpancar suatu cahaya. Dari cahaya tersebut baginda memaklumkan sahabat r.a.hum bahawa kerajaan Rom akan dikuasai oleh orang Islam. Apabila di pukul kali kedua, suatu cahaya lagi terpancar dan kali ini Nabi memakulmkan bahawa kerajaan Farsi akan dikuasai oleh orang Islam. MasyaAllah…. Kisah ini memberi iktibar bahawa sahabat r.a.hum tidak akan buat sesuatu tanpa merujuk baginda saw, iaitu mereka boleh menggali dengan mengambil ruang lain untuk mengelak batu besar, tetapi mereka tetap akan mengambil laluan yang diputuskan oleh Nabi saw walau terpaksa melalui atau memecah atau mengalih batu besar !!…..Allahu akbar.
Tuan-Tuan yang dimuliakan oleh Allah
- jika kita ikat diri kita dengan tertib dan kehendak Nabi saw, maka Allah akan sebarkan agama ini.
- Dengan cara ini samada orang baru maupun orang lama, sama2 kita akan kekal dalam kerja ini.
- Buatlah kerja dengan mesyuarat. Jika ada “ ijtimai’at ” (satu hati), maka Allah swt akan jauhkan kita dari fitnah !! Allah swt akan mantapkan perhimpunan malam markas/sabguzari kita.
- Orang2 lama buat gash tempatan dan bawa bersamanya ke markas semua ahli Jemaah masjid kita.
- Orang yang duduk hadapan dalam mesyuarat dan juga hadapan di malam markas, maka Allah swt akan perlihara usaha agama ini.
- Usahakan setiap masjid/surau keluarkan Jemaah 4 bulan, 2 bulan, 40 hari, Jalan kaki dan Jemaah 2 bulan + 40 hari masturat. Sediakan juga orang2 yang akan berkhidmat 2 bulan markas dunia di Nizamuddin.
- Sebelum ini kita berfikir2 bagaimana ini boleh dicapai, tetapi dengan berusaha secara berterusan maka perkara ini Allah swt jadikan kebenaran(…materialised).
- Ta’atlah sungguh2 kepada Allah swt dan ambillah kerja. Setiap orang berilah minima masa 2.5 jam setiap hari. Pastikan 100% orang kita jumpai. Pasang2kan rakan seusaha dan bekerja sepanjang 27 hari bulan tersebut
- Letakkan kepentingan kerja ini dalam hati maka “kelamaan” kita akan kekal……..Allahumma Amin
- Usaha ini bukanlah suatu “team”, kita janganlah memilih orang2 tertentu membentuk Jemaah kita, elakkan diri dari lakukan “PICK AND CHOOSE”
- Sempurnakan kerja ini dengan membawa orang2 baru khuruj. Kemampuan kita akan hilang jika kita khuruj dengan orang2 lama sahaja. Usaha menerobos orang awam adalah diperlukan. Contoh: Hal mesyuarat halaqah.
- Sebuah halaqah ditanya bgmana kamu buat mesyuarat halaqah. Di jawab: Mesyuarat pada Jumaat malam selepas isyak dan kami dapati kehadiran amat kurang. Lalu Professor menjelaskan:
- Waktu selepas isyak rakan seusaha baru pulang kerja, sedang makan/rehat maka kehadiran memang akan jadi demikian
- Bagi air yang mengalir, untuk aliran yang deras maka hendaklah di alihkan sekatan2
- Tidakkah boleh kita lakukan mesyuarat di pagi Ahad jam 10 pagi…….cadangan, fikir2kan: Bagaimanakah untuk dapatkan “roh” dalam usaha ini?
- Orang2 lama perlu bergerak. Bentuk Jemaah 10 hari dan bergerak dalam halaqah. Dengan cara ini kita akan tahu keadaan/ehwal dalam halaqah
- Jika tidak, maka laporan2 kerja cuma berada di atas kertas2 sahaja
- Oleh itu tetapkan: tarikh, nama2 rakan, pilih rut. Bergeraklah di halaqah selama 10 hari. Tanpa memasuki suasana orang awam maka usaha kita tidak akan menjadi !!
- Usaha kita bukan ingin buat “resolusi”.
Contoh: para peladang masuk lumpur, bekerja keras menanam biji benih maka kita akan dapatkan bijiran2 di pekan/bandar2. Begitu juga jika darah tidak sampai mana2 bahagian anggota tubuh maka anggota tersebut akan lumpuh/sakit. Dengan kerja ini maka berlakulah “sibgha” iaitu celupan Allah swt
- Usaha ini bukan untuk menghimpun harta tetapi ingin beri harta kepada orang lain, usaha ini bukan menghimpun pakaian tetapi memberi pakaian kepada orang lain, usaha ini bukan menghimpun belanja untuk diri tetapi ingin membelanja keatas orang lain………..masyaAllah
- Kita bukan ingin/mahu jadi Ketua. Kita hanya inginkan ALLAH swt. Dengan menipu Allah swt, agama tidak akan datang. Na’uzubillah….
- Kita perlu sering berdoa: Ya Allah, apa yang telah Engkau beri kepada sahabat r.a.hum maka berilah kepada kami juga……….. Amin.
Pastikan usaha di malam hari bertahajud dan doa dilakukan saban hari/ketika
- Usaha akan menjadi sebuah “Gerakan” sahaja jika tiada usaha di malam hari. Mereka duduk dekat2 tetapi hati mereka berjauhan
- Jika berusaha mendapatkan 10 hari tidak kesampaian, maka setelah beri 3 hari bulanan maka tambah 3 hari lagi. Biarkan diri kita “LETIH + DOA” kedua2nya perlu bergandingan.
-..dan bersungguh doakanlah untuk umat.
Ajak/galakkan anak dan isteri kita berdoa untuk umat Nabi saw. Allahumma taqabbal. Amin……….
- Telah datang dalam hati kita inilah “kerja”
- Ada masa dan keadaan kita bertanya adakah ini pun “kerja”
- Melalui pengorbanan, manusia mulai faham memang ini adalah “kerja” dan Allah SWT memahamkan kita bahawa inilah satu2nya “kerja”
- Melalui sirah dan perjalanan hidup Nabi saw bersama sahabat r.a.hum, “kerja” ini dapat kita fahami
- “Kerja” ini tidak dapat difahami dengan perkataan atau bicara/kata2 sahaja
- Kita akan faham dengan membuat/melakukannya
- Jadikan “kerja” ini kerja kita dan letakkan takaza “kerja” ini dihadapan
- Di samping itu lakukan juga kerja2 lain………menyara hidup
- Aturkan kerja mana yang perlu di hadapankan dan yang mana perlu dikemudiankan. Inilah pengorbanan…..
- Dengan pengorbanan ini maka Iman akan datang
- Melalui keadaan(haalat) akan timbul amal dan kekuatan Iman pula akan datang dengan dakwah
- Kerja dakwah difahami dengan pengorbanan. Untuk itu carilah jalan untuk buat pengorbanan
- Syaitan akan mengatakan kita akan “selamat” dengan melakukan kerja dengan cara yang lain
- Kita perlu maju dalam pengorbanan. Beginilah orang2 lama(elders) memahamkan kita
- Dengan pengorbanan maka usaha agama akan wujud, orang baru akan datang
- Orang baru tidak dengar apa yang tuan2 dengar (….umpamanya targhib malam ini…..). Jika mereka buat usaha, usaha tersebut akan mengikut cara sendiri dan akan menjadi luar kawalan
- Contoh: dalam Perang Khandak, keluasan & kedalaman parit telah ditentukan oleh Nabi saw. Terdapat di suatu tempat ada sebiji batu besar menghalang sahabat r.a.hum meneruskan penggalian parit lalu perkara ini dilaporkan kepada Nabi saw. Baginda telah datang dan mengetuk/memukul batu tersebut dengan tongkat/kayu nya lalu terpancar suatu cahaya. Dari cahaya tersebut baginda memaklumkan sahabat r.a.hum bahawa kerajaan Rom akan dikuasai oleh orang Islam. Apabila di pukul kali kedua, suatu cahaya lagi terpancar dan kali ini Nabi memakulmkan bahawa kerajaan Farsi akan dikuasai oleh orang Islam. MasyaAllah…. Kisah ini memberi iktibar bahawa sahabat r.a.hum tidak akan buat sesuatu tanpa merujuk baginda saw, iaitu mereka boleh menggali dengan mengambil ruang lain untuk mengelak batu besar, tetapi mereka tetap akan mengambil laluan yang diputuskan oleh Nabi saw walau terpaksa melalui atau memecah atau mengalih batu besar !!…..Allahu akbar.
Tuan-Tuan yang dimuliakan oleh Allah
- jika kita ikat diri kita dengan tertib dan kehendak Nabi saw, maka Allah akan sebarkan agama ini.
- Dengan cara ini samada orang baru maupun orang lama, sama2 kita akan kekal dalam kerja ini.
- Buatlah kerja dengan mesyuarat. Jika ada “ ijtimai’at ” (satu hati), maka Allah swt akan jauhkan kita dari fitnah !! Allah swt akan mantapkan perhimpunan malam markas/sabguzari kita.
- Orang2 lama buat gash tempatan dan bawa bersamanya ke markas semua ahli Jemaah masjid kita.
- Orang yang duduk hadapan dalam mesyuarat dan juga hadapan di malam markas, maka Allah swt akan perlihara usaha agama ini.
- Usahakan setiap masjid/surau keluarkan Jemaah 4 bulan, 2 bulan, 40 hari, Jalan kaki dan Jemaah 2 bulan + 40 hari masturat. Sediakan juga orang2 yang akan berkhidmat 2 bulan markas dunia di Nizamuddin.
- Sebelum ini kita berfikir2 bagaimana ini boleh dicapai, tetapi dengan berusaha secara berterusan maka perkara ini Allah swt jadikan kebenaran(…materialised).
- Ta’atlah sungguh2 kepada Allah swt dan ambillah kerja. Setiap orang berilah minima masa 2.5 jam setiap hari. Pastikan 100% orang kita jumpai. Pasang2kan rakan seusaha dan bekerja sepanjang 27 hari bulan tersebut
- Letakkan kepentingan kerja ini dalam hati maka “kelamaan” kita akan kekal……..Allahumma Amin
- Usaha ini bukanlah suatu “team”, kita janganlah memilih orang2 tertentu membentuk Jemaah kita, elakkan diri dari lakukan “PICK AND CHOOSE”
- Sempurnakan kerja ini dengan membawa orang2 baru khuruj. Kemampuan kita akan hilang jika kita khuruj dengan orang2 lama sahaja. Usaha menerobos orang awam adalah diperlukan. Contoh: Hal mesyuarat halaqah.
- Sebuah halaqah ditanya bgmana kamu buat mesyuarat halaqah. Di jawab: Mesyuarat pada Jumaat malam selepas isyak dan kami dapati kehadiran amat kurang. Lalu Professor menjelaskan:
- Waktu selepas isyak rakan seusaha baru pulang kerja, sedang makan/rehat maka kehadiran memang akan jadi demikian
- Bagi air yang mengalir, untuk aliran yang deras maka hendaklah di alihkan sekatan2
- Tidakkah boleh kita lakukan mesyuarat di pagi Ahad jam 10 pagi…….cadangan, fikir2kan: Bagaimanakah untuk dapatkan “roh” dalam usaha ini?
- Orang2 lama perlu bergerak. Bentuk Jemaah 10 hari dan bergerak dalam halaqah. Dengan cara ini kita akan tahu keadaan/ehwal dalam halaqah
- Jika tidak, maka laporan2 kerja cuma berada di atas kertas2 sahaja
- Oleh itu tetapkan: tarikh, nama2 rakan, pilih rut. Bergeraklah di halaqah selama 10 hari. Tanpa memasuki suasana orang awam maka usaha kita tidak akan menjadi !!
- Usaha kita bukan ingin buat “resolusi”.
Contoh: para peladang masuk lumpur, bekerja keras menanam biji benih maka kita akan dapatkan bijiran2 di pekan/bandar2. Begitu juga jika darah tidak sampai mana2 bahagian anggota tubuh maka anggota tersebut akan lumpuh/sakit. Dengan kerja ini maka berlakulah “sibgha” iaitu celupan Allah swt
- Usaha ini bukan untuk menghimpun harta tetapi ingin beri harta kepada orang lain, usaha ini bukan menghimpun pakaian tetapi memberi pakaian kepada orang lain, usaha ini bukan menghimpun belanja untuk diri tetapi ingin membelanja keatas orang lain………..masyaAllah
- Kita bukan ingin/mahu jadi Ketua. Kita hanya inginkan ALLAH swt. Dengan menipu Allah swt, agama tidak akan datang. Na’uzubillah….
- Kita perlu sering berdoa: Ya Allah, apa yang telah Engkau beri kepada sahabat r.a.hum maka berilah kepada kami juga……….. Amin.
Pastikan usaha di malam hari bertahajud dan doa dilakukan saban hari/ketika
- Usaha akan menjadi sebuah “Gerakan” sahaja jika tiada usaha di malam hari. Mereka duduk dekat2 tetapi hati mereka berjauhan
- Jika berusaha mendapatkan 10 hari tidak kesampaian, maka setelah beri 3 hari bulanan maka tambah 3 hari lagi. Biarkan diri kita “LETIH + DOA” kedua2nya perlu bergandingan.
-..dan bersungguh doakanlah untuk umat.
Ajak/galakkan anak dan isteri kita berdoa untuk umat Nabi saw. Allahumma taqabbal. Amin……….
Lemah Lembut.Lebih Kurang.Baik Hati.
Dari Abdullah Ibn Mas'ud r.a meriwayatkan bahawa baginda Rasulullah SAW bersabda: Mahukah daku khabarkan kepadamu siapakah orang yang diharamkan dari api neraka? Dan api neraka tidak akan menyentuhnya. Mereka adalah orang yang menghampiri orang lain dengan lemah lembut, berlebih kurang dan baik hati. (HR Tirmizi)
Dari Ibn 'Abbas r.a meriwayatkan bahawa baginda Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan Israfil, semenjak hari penciptaannya terus berdiri dengan lurus di atas kedua belah kakinya tidak pernah mengangkat wajahnya. Di antara dia dan TuhanNya yang Maha Tinggi terdapat tujuh puluh hijab (dinding) dari Nur. Jika ia mendekati kepada hijab ini nescaya akan terbakar. (HR Masahibus Sunnah)
Dari Ibn 'Abbas r.a meriwayatkan bahawa baginda Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan Israfil, semenjak hari penciptaannya terus berdiri dengan lurus di atas kedua belah kakinya tidak pernah mengangkat wajahnya. Di antara dia dan TuhanNya yang Maha Tinggi terdapat tujuh puluh hijab (dinding) dari Nur. Jika ia mendekati kepada hijab ini nescaya akan terbakar. (HR Masahibus Sunnah)
Tuesday, October 16, 2012
Asal 4 Buah Sungai Di Syurga
Semasa aku israk dan naik ke langit yang tinggi, malaikat Jibril telah memberi kesempatan kepada aku untuk melihat ke dalam semua Syurga Allah. Aku lihat didalamnya terdapat 4 buah sungai yang besar-besar dan airnya bermacam-macam. Ada air susu, air madu, air arak dan air yang tidak masin.”
Aku bertanya kepada Jibril :
“Wahai Jibril, dari manakah asalnya sungai-sungai ini dan ke manakah akhirnya?"
Jibril menjawab :
“Wahai Rasulullah, aku hanya tahu ia mengalir ke dalam Telaga al-Kausar sahaja dan aku tidak mengetahui dari mana asalnya.”.
Aku pun memohon petunjuk Allah dan muncullah seorang malaikat dengan memberi salam.
Setelah aku menjawab salamnya, dia menyuruh aku memejamkan mataku.
Lalu aku memejamkan mata.
Apabila aku membuka mata, aku berada dekat sepohon pokok yang besar dibuat daripada permata yang putih berkilauan manakala pintu-pintunya daripada yakut hijau dan kunci-kuncinya daripada emas.
Aku melihat empat batang sungai sedang mengalir dari bawahnya.
Aku mahu kembali tetapi ditahan oleh malaikat dengan bertanya :
“Tidakkah engkau ingin melihat didalamnya?”
Aku pun bertanya :
“Bagaimana aku dapat masuk sedangkan pintunya berkunci? Dimanakah kuncinya?”
Jawab malaikat itu :
“Kunci didalam tanganmu.”
Tanyaku lagi “Dimana?"
Jawabnya :
“Cukup engkau membaca Bismillahirahmanirrahim.”
Lalu aku pun ucapkan dan pintu terbuka dengan sendirinya dan aku pun masuk ke dalam.
Sungguh hebat ciptaan Allah, sungai-sungai itu memancutkan airnya dari empat buah tiang yang besar.
Melihat aku mahu keluar, malaikat bertanya lagi kepadaku :
“Apakah engkau sudah cukup puas melihat pemandangan ini? Sesungguhnya masih ada yang engkau belum lihat. Cubalah engkau perhatikan sekali lagi dengan baik-baik, dari apakah sungai-sungai itu memancutkan airnya."
Lalu aku pun perhatikan sekali lagi.
Aku lihat terdapat kalimah Bismillahirahmanirrahim di antara empat batang tiangnya.
Dari huruf mim perkataan Bismillah, keluar air sungai tawar.
Dari lubang ha’ perkataan Allah, keluar air sungai susu.
Dari lubang huruf mim perkataan ar-rahman, keluar air sungai arak.
Dan dari lubang mim dari perkataan ar-rahim, keluar air sungai madu.
Dari itu, barang siapa dari umatku membaca Bismillahirahmanirrahim, pasti akan dapat minum air sungai ini di akhirat kelak.
Aku bertanya kepada Jibril :
“Wahai Jibril, dari manakah asalnya sungai-sungai ini dan ke manakah akhirnya?"
Jibril menjawab :
“Wahai Rasulullah, aku hanya tahu ia mengalir ke dalam Telaga al-Kausar sahaja dan aku tidak mengetahui dari mana asalnya.”.
Aku pun memohon petunjuk Allah dan muncullah seorang malaikat dengan memberi salam.
Setelah aku menjawab salamnya, dia menyuruh aku memejamkan mataku.
Lalu aku memejamkan mata.
Apabila aku membuka mata, aku berada dekat sepohon pokok yang besar dibuat daripada permata yang putih berkilauan manakala pintu-pintunya daripada yakut hijau dan kunci-kuncinya daripada emas.
Aku melihat empat batang sungai sedang mengalir dari bawahnya.
Aku mahu kembali tetapi ditahan oleh malaikat dengan bertanya :
“Tidakkah engkau ingin melihat didalamnya?”
Aku pun bertanya :
“Bagaimana aku dapat masuk sedangkan pintunya berkunci? Dimanakah kuncinya?”
Jawab malaikat itu :
“Kunci didalam tanganmu.”
Tanyaku lagi “Dimana?"
Jawabnya :
“Cukup engkau membaca Bismillahirahmanirrahim.”
Lalu aku pun ucapkan dan pintu terbuka dengan sendirinya dan aku pun masuk ke dalam.
Sungguh hebat ciptaan Allah, sungai-sungai itu memancutkan airnya dari empat buah tiang yang besar.
Melihat aku mahu keluar, malaikat bertanya lagi kepadaku :
“Apakah engkau sudah cukup puas melihat pemandangan ini? Sesungguhnya masih ada yang engkau belum lihat. Cubalah engkau perhatikan sekali lagi dengan baik-baik, dari apakah sungai-sungai itu memancutkan airnya."
Lalu aku pun perhatikan sekali lagi.
Aku lihat terdapat kalimah Bismillahirahmanirrahim di antara empat batang tiangnya.
Dari huruf mim perkataan Bismillah, keluar air sungai tawar.
Dari lubang ha’ perkataan Allah, keluar air sungai susu.
Dari lubang huruf mim perkataan ar-rahman, keluar air sungai arak.
Dan dari lubang mim dari perkataan ar-rahim, keluar air sungai madu.
Dari itu, barang siapa dari umatku membaca Bismillahirahmanirrahim, pasti akan dapat minum air sungai ini di akhirat kelak.
Orang Kuat ..Tabligh
Dari Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahawa baginda Rasulullah SAW bersabda: Seorang yang kuat itu bukanlah orang yang dapat membalas (pukulan lawannya) tetapi seorang yang kuat itu ialah dia yang dapat mengawal diri dan perasaannya dengan baik ketika marah.(HR Bukhari)
Maulana Umar Palanpuri rah.a berkata:
Tabligh maksudnya keinginan kita bercakap tentang kebesaran Allah lagi dan lagi, dengan ini hubungan dengan Allah akan tercapai. Orang kufur mencanangkan yang Islam tersebar dengan mata pedang. Sahabat perang kerana nak operate (bedah) sebab antibiotik (Dakwah) dan cream (Akhlak) tidak beri kesan kepada orang kafir. Sahabat perang dalam keputusan terakhir demi menyelamatkan ribuan umat yang inginkan Islam.
Maulana Umar Palanpuri rah.a berkata:
Tabligh maksudnya keinginan kita bercakap tentang kebesaran Allah lagi dan lagi, dengan ini hubungan dengan Allah akan tercapai. Orang kufur mencanangkan yang Islam tersebar dengan mata pedang. Sahabat perang kerana nak operate (bedah) sebab antibiotik (Dakwah) dan cream (Akhlak) tidak beri kesan kepada orang kafir. Sahabat perang dalam keputusan terakhir demi menyelamatkan ribuan umat yang inginkan Islam.
link eBook Maulana
http://www.islamibayanaat.com/EnglishLiterature/RemembranceOfDeath-ShaikhulHadithMaulanaZakariyyahRA.pdf
http://www.islamibayanaat.com/EnglishLiterature/English-SixFundamentalsOrQualities-FazailEAmal.pdf
http://www.islamicbulletin.org/free_downloads/resources/muntakhab_ahadith_complete.pdf
http://www.4shared.com/folder/IXmKHswN/e-Kitab.html
http://archive.org/details/IslamicGuideToSexualRelationsmuhammadIbnAdamAl-kawthari
http://www.islamibayanaat.com/EnglishLiterature/English-SixFundamentalsOrQualities-FazailEAmal.pdf
http://www.islamicbulletin.org/free_downloads/resources/muntakhab_ahadith_complete.pdf
http://www.4shared.com/folder/IXmKHswN/e-Kitab.html
http://archive.org/details/IslamicGuideToSexualRelationsmuhammadIbnAdamAl-kawthari
Pelihara Jiran dan Hati
Dari Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: Tidak akan memasukki syurga bagi orang yang tidak memelihara jirannya dari kejahatannya.
(HR Muslim)
Yahya bin Mu'adz berkata: Barangsiapa yang memusatkan hatinya kepada Allah, nescaya akan terbukalah sumber-sumber hikmah dalam hatinya dan mengalir melalui lisannya.
(Siyaatul Quluub: 33)
(HR Muslim)
Yahya bin Mu'adz berkata: Barangsiapa yang memusatkan hatinya kepada Allah, nescaya akan terbukalah sumber-sumber hikmah dalam hatinya dan mengalir melalui lisannya.
(Siyaatul Quluub: 33)
Tuesday, September 18, 2012
Debu Kasturi
Dari Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: Barang siapa yang keluar dijalan Allah SWT walau untuk satu petang, maka sebanyak mana debu yang melekat padanya, dia akan diberi kasturi sebanyak itu dihari kiamat nanti. (HR Ibnu Majah)
Wednesday, August 22, 2012
REPOST : 6 Pesanan Wanita Masturah
1. Sembahyang di awal waktu
2. Istiqomah taklem taklum
3. Istiqomah Quran dan zikir
4. Didik anak cara dan amal sunnah
5. Hidup sederhana
6. Keluar ke jalan Allah
1. Sembahyang di awal waktu
Sembahyang merupakan perintah Allah SWT yg pertama diwahyukan Allah SWT kepada Nabi SAW. Kenapa kita kena menjaga sembahyang di awal waktu terutama kaum wanita..?. dikatakan wanita ini mempunyai 3 perkara yang mana jika ia melengah2kan sembahyang menyebabkannya mendapat dosa :
1) haid/nifas
2) kedatangan tetamu
3) mati
Justeru kaum wanita perlulah peka pada keadaan ini..
Apa maksud sembahyang?
Maksud sembahyang ialah untuk kita membawa sifat2 di dalam sembahyang ke dalam kehidupan seharian kita spt menutup aurat,menundukkan pandangan,membaca ayat al-quran,berzikir dan berdoa. Apabila di dalam sembahyang kita mensucikan diri dengan berwudhuk,fikiran kita hanya tertuju pada Allah SWT,lidah kita sentiasa berzikir dan gerakan badan kita sesuai dengan perintah Allah SWT, aurat di tutup dengan sempurna, maka di luar sembahyang pun kita harus melakukan perbuatan seperti itu.
Kita juga perlu meyakini bahawa dengan sembahyang Allah akan membantu dan menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Sahabat2 r.ajmain dahulu mereka begitu yakin dengan sembahyang sehingga anak yang mati boleh hidup kembali,pengisar gandum boleh mengeluarkan gandum dengan sendirinya. Semuanya menunjukkan betapa yakinnya mereka dengan perantaraan sembahyang dapat menyelesaikan masalah mereka.
Hari ini manusia ramai yang mensyirikkan Allah SWT,sehingga apa sahaja yg mereka lakukan mereka mencari asbab tanpa dahulu memohon pada pemberi asbab iaitu Allah SWT. Di dalam sebuah hadis disebutkan bahawa Rasulullah SAW bersabda" Barangsiapa yang menjaga solahnya,maka ia akan mendapat lima keuntungan,
1) Allah swt akan menghilangkan kesempitan hidupnya.
2) Ia akan diselamatkan dari seksa kubur.
3) Ia akan menerima buku amalan dengan tangan kanan.
4) Ia akan melalui titian sirat sepantas kilat.
5) Ia akan masuk syurga tanpa hisab.
Untuk mendapat hakikat sembahyang ini maka kita kenalah jaga sembahyang kita di awal waktu dan galakkan suami dan mahram kita yg lelaki untuk bersembahyang di masjid...setiap pekerjaan yang kita lakukan perlulah mengikut waktu sembahyang,bukan waktu sembahyang itu mengikut pekerjaan kita maksudnya 5 ke 10 minit sebelum waktu sembahyang kita dah prepare wudhuk dan sudah berada di tikar sembahyang..biarlah kita menjadi manusia yang sentiasa tertunggu2 waktu utk mengabdikan diri pada Allah swt. Hendaklah kita bawa lima sifat dalam sembahyang kita iaitu:
1) Keyakinan yang sempurna terhadap janji2 Allah SWT.
2) Sembahyang seperti yang dicontahkan oleh Rasulullah SAW.
3) Tahu hukum sembahyang,sembahyang tawajjuh,tak lalai dan sebagainya.
4) Bawa sifat ehsan,di mana kita meyakini bahawa Allah SWT senantisa melihat kita,walaupun kita tidak dapat melihat Allah SWT.
5) Ikhlas yakni niat sembahyang semata2 kerana Allah SWT.
Selain itu juga kita perbanyakkanla sembahyang2 sunat yang lain seperti tahajjud,dhuha dll agar sembahyang tersebut dapat menampung kekurangan sembahyang fardhu kita..mohonlah pada Allah SWT semoga Allah SWT masukkan dalam diri kita sembahyang yang khusyuk..
2. Majlis Ta’lim wa Ta’allum.(Belajar dan mengajar)
Belajar dan mengajar merupakan perintah Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW yang mana Allah SWT telah perintahkan Jibrail A.S untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW dan wahyu itu kemudian disampaikan kepada manusia.
Ta’lim wa ta’allum merupakan salah satu amalan yang dilakukan di masjid Nabawi dan ia merupakan pusaka Rasulullah saw dan ruh agama. Oleh itu rumah yang di dalamnya mewujudkan amalan ta’lim wa ta’allum ini bermakna rumah tersebut mewarisi pusaka Rasulullah SAW,maka rumah itu akan diturunkan rahmat dan barakah,ketenangan dan ketenteraman akan wujud dalam rumah tersebut.
Tujuan Majlis ini diadakan ialah:
1) Semata-mata untuk mengingati Allah SWT dan mendapat keredhaanNya
2) Untuk menghidupkan sunnah Rasulullah SAW yang menjadi asbab kejayaan di dunia dan akhirat. Sunnah Nabi SAW bukan untuk kita pelajari,tetapi untuk kita amalkan dalam kehidupan seharian kita.
3) Bila kita duduk dalam majlis ini,maka kita ada keghairahan untuk mengamalkan agama.
4) Untuk menghubungkan ilmu kita yang sedikit dengan ilmu Allah SWT yang maha luas.
5) Supaya kita dapat mengetahui segala perintah Allah SWT dan sunnah Nabi SAW.
6) Untuk menghubungkan ilmu dengan amal dan memiliki fikir risau seperti Nabi SAW dan para Sahabat r.ajmain.
7) Membentuk fikir wanita agar meningkat setahap fikir lelaki. Kata Ummu Salamah r.ha ; ”Kejayaan usaha agama pada zaman awal adalah hasil kerjasama dari kaum wanita, bahkan kaum wanita juga menjadi penghalang kerja agama.”
Kelebihan majlis ini ada banyak sekali. Di antaranya majlis ini merupakan majlis keampunan yang dosa2 pesertanya akan diganti dengan kebaikan,satu majlis ta’lim yang dibuat dapat menghapuskan 100 majlis lalai iaitu majlis yang tidak menyebut nama Allah SWT di dalamnya. Para malaikat melihat majlis ini seperti manusia melihat bintang-bintang bercahaya di langit. Apabila kita keluar untuk menuntut ilmu kerana Allah SWT ,maka 70 000 malaikat akan menghamparkan sayapnya di bawah kaki kita dan semua makhluk Allah yang berada di bumi, udara, lautan akan memohon ampunan untuk kita. Rasulullah SAW ada bersabda bahawa majlis yang mengingati Allah SWT merupakan kebun-kebun (taman-taman) syurga.
Dari Abu Hurairah r.a sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,
“ Tiadalah berkumpul suatu kaum di dalam rumah-rumah Allah(masjid) untuk membawa kitab Allah SWT,saling mengajarkan sesama mereka,melainkan diturunkan kepada mereka sakinah,diliputi oleh rahmat, dikerumi oleh malaikat, dan mereka akan disebut oleh Allah SWT dalam majlis para malaikat yang berada di sisi-Nya” (Hr. Muslim dan Abu Daud)
P/S:
Hari ini kehidupan rumah orang islam tiada beza dengan orang kafir.
Rumah mereka dijadikan sebagai hotel untuk tidur, pawagam dengan tv
dan home theatre sebagai tempat berhibur, restoran untuk makan dan minum
dan menghias rumah melebihi keperluan.
Maka kita kena wujudkan rumah seperti rumah sahabat-sahabat dan orang soleh yang mana di dalam rumah mereka hidup dengan amal dakwah,ibadah seperti sembahyang sunat,quran dan zikir, belajar dan mengajar serta banyak khidmat antara sesama isi rumah.
Untuk kaum wanita hendaklah bagi masa selama satu jam setengah setiap minggu bagi menghadari Majlis Taklim Mingguan. Taklim mingguan ni penting kerana ia umpama markaz bagi kaum wanita belajar agama. Janganlah bagi alasan kita sibuk atau kita ada hal. Kalau kita bagi masa untuk majlis taklim ini, insyaAllah ,Allah akan jadikan ia asbab hidayah. Kita kena usaha untuk dakwahkan kepentingan majlis taklim ini pada orang lain.
3. Istiqomah Al-Quran dan Zikir
Al-Quran:
Nabi Muhammad SAW telah bersabda:”Tetaplah membaca al-quran kerana al-quran adalah nur untuk kehidupan ini dan bekalan untuk akhirat”. Al-quran merupakan teman di dalam kubur dan juga pemberi syafaat di akhirat. Kita hendaklah sedaya upaya cuba istiqomah membaca Al-quran setiap hari sebab al-quran akan menuntut haknya di akhirat kelak,hak al-quran hendaklah kita khatam membacanya dua kali setahun. Jadi hendaklah setiap hari kita melapangkan masa untuk membaca al-quran,sekurang-kurangnya satu juzuk setiap hari,kalau tak dapat,satu ain atau setengah ain.
Amalkan juga untuk membaca surah2 berikut kerana byk kelebihannya:
1- surah yasin-seperti kita khatam al-quran sepuluh kali.
2- Surah waqiah-menjauhkan daripada kepapaan.
3- Surah as-sajadah dan al-mulk-menjauhkan dari seksa kubur.
4- Surah al-kahfi pada hari Jumaat-nur akan bersama kita sehingga Jumaat akan datang.
Kita hendaklah mengajar anak-anak kita supaya membiasakan diri membaca al-quran dan hendaklah azam supaya ada di antara anak-anak kita nanti bakal menjadi hafiz dan hafizah. InsyaAllah.
Zikir:
Berzikir iaitu mengingati Allah SWT dalam setiap keadaan dan setiap apa yang kita lakukan hendaklah dihubungkan dengan Allah SWT. Kita hendaklah berzikir sebanyak-banyaknya sehingga kita merasa yang Allah SWT melihat kita senantiasa.
Banyak kelebihan zikir antaranya:
1- Zikir melembutkan hati
2- Memberi cahaya pada wajah
3- Menjauhkan syaitan dan menghancurkan kekuatannya,
4- Melahirkan cinta kepada Allah SWTdan cinta merupakan roh Islam,sumber agama ,kebahagiaan dan kejayaan.
5- Menyebabkan keredhaan Allah SWT.
Amalkan zikir 300 kali pagi dan petang
Tanda cinta pada Allah SWT zikirlah subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallahu wallahu Akbar 100 kali pagi petang.
Tanda cintakan nabi kita hendaklah selawat ke atasnya juga 100 kali pagi petang di mana satu selawat Allah akan ampunkan 10 dosa, diangkat 10 darjat dan diberi 10 kebaikan.
Manakala tanda cinta pada diri kita hendaklah kita memohon keampunan dengan beristighfar 100 kali pagi dan petang yang mana dengan istighfar InsyaAllah dosa2 kita akan diampunkan walaupun sebanyak buih di lautan.Amalkan juga doa-doa harian dan tasbih Fátimah sebelum tidur mudah-mudahan amalan yang kita lakukan ini mendapat redha Ilahi.
4. Mendidik anak cara Sunnah
Sebagai seorang wanita solehah dan juga ibu pastinya kita mahukan anak-anak kita berjaya di didik mengikut acuan agama islam kerana hanya dengan cara yang ditunjukkan oleh agama kita sahaja mampu memabwa kejayaan di dunia dan akhirat.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya setiap bayi yang lahir itu fitrah(suci). Kedua ibubapanyalah yang mendidiknya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi."
Anak-anak yang dilahirkan adalah seperti kain putih,bersih. maka ibu bapalah yang membentuk anak itu samada mahu menjadi seorang yang mentaati perintah Allah SWT atau sebaliknya.setiap ibubapa harus bercita-cita untuk menjadikan anak-anaknya soleh solehah. Madrasah bagi anak-anak adalah bermula dari rumahnya sendiri dan ibubapa adalah guru terbaik untuk anak-anak ditarbiyah.
Berikut adalah tips-tips yang dianjurkan dalam mendidik anak mengikiut cara Islam:
~Ketika ibu mengadung.ia haruslah banyak beribadah,membaca quran, terutama surah-surah seperti Yusuf, Luqman, Yassin dan Mariam.
~Ketika bayi lahir, diazankan bagi bayi lelaki dan diqamatkan bagi bayi perempuan,masukkan manisan ke dalam mulutnya,masukkan dengan jari telunjuk kanan dan ditekan ke langit-langit dan gerakkan ke kanan dan kiri, cukur rambutnya untuk menguatkan ingatan, beri nama yang baik dan adakan aqiqah pada hari ke tujuh setelah melahirkan.
~Menyusukan bayi sendiri sehingga berumur 2 tahun dengan menjaga adab seperti berwudhuk, membaca selawat dan berzikir ketika menyusukan bayi.
~Apabila anak sudah boleh menyebut perkataan ajarlah perkataan pertama itu dengan menyebut nama "Allah". Apabila lafaz Allah yang pertama disebut maka Allah SWT akan membangkitkan kita dengan wajah bercahaya seperti bulan purnama di padang masyhar nanti.
~Ajar adab-adab dan sunnah seharian seperti adab tidur, adab makan, adab tandas dan sebagainya.
~Adakan majlis ilmu seperti majlis taklim setiap hari, ceritakan kisah kehidupan nabi dan para sahabat,bentangkan takaza-takaza agama, beritahu pada anak-anak tentang usaha dakwah, tanggungjawab berdakwah sehingga anak-anak dapat menyedari kepentingan dakwah tersebut.
~Segala perbuatan atau percakapan kita dengan anak-anak, hendaklah dihubungkan dengan kebesaran Allah SWT. Ada 4 cara untuk meningkatkan keimanan anak-anak kita iaitu:
1. Dengan cara melihat - MATA
2. Dengan cara mendengar - TELINGA
3. Dengan cara berfikir - AKAL
4, Dengan cara bercakap - MULUT & LIDAH
`Anak-anak bersifat ingin tahu dan beritahu mereka ganjaran-ganjaran yang mereka terima apabila melaksanakan perintah Allah SWT dan ceritakan juga suasana kehidupan akhirat.
~Ada 3 peringkat dalam mendidik anak
1. Peringkat bawah 7 tahun.
~ jadikan anak seperti raja, maksudnya mengikut keinginan dan cara mereka selagi tidak keterlaluan seperti dalam bergaul, bermain sesuai dengan perkembangan diri mereka..serta memberi pujian dan sanjungan pada mereka.
2. Peringakat 7-14 tahun
~ jadikan anak seperti hamba, maksudnya di waktu ini kita boleh memerintah anak-anak untuk mematuhi perintah Allah seperti bersolah dan seandainya anak-anak tidak menuruti maka kita boleh merotannya..
3. Peringkat 14 tahun ke atas
~ jadikan anak seperti kawan kita, maksudnya berkongsi segala masalah yang dihadapi anak-anak dan apa sahaja sesuai dengan umurnya. pendekatan lebih kepada mendengar permasalahan mereka dan berkongsi pendapat dengan mereka.
Mudah-mudahan dengan didikan seperti ini kita mampu melahirkan anak yang soleh-solehah,hafiz-hafizah, alim-alimah serta menjadi daei-daeiyah. InsyaAllah..
5. Hidup sederhana
Pesanan yang ke lima untuk para wanita amalkan dalam kehidupan harian dan rumahtangga adalah mengamalkan kehidupan yang sederhana seperti yang ditunjukkan oleh Nabi SAW dan para sahabat. Yang dimaksudkan dengan sederhana di sini ialah kita berbelanja mengikut keperluan kita walaupun kita mampu bukan mengikut kemampuan kita dan hawa nafsu semata-mata sehingga menyebabkan pembaziran dan sifat menunjuk akan harta yang kita miliki.
Ada 5 perkara yang perlu disederhanakan dalam kehidupan kita iaitu:
1. Rumah.
Kita lihat rumah orang islam hari ini sudah jauh dari ciri-ciri rumah sahabat dan sahabiyah. Rumah kita sudah seperti rumah orang yahudi dan nasrani kerana dalamnya punya tv, perhiasan, perabot, meja makan dan lain-lain lagi yang kesemuanya adalah milik kehidupan orang yang kafir. Jadi rumah orang islam perlu menghindarkan perhiasan yang boleh menyebabkan pembaziran dalam rumah tersebut. Tidak guna rumah besar dan indah andaikata penghuni di dalamnya hidup jauh dari ketaatan kepada Allah SWT dan rasulnya.
2. Pakaian.
Pakaian juga perlu sederhana seperti yang digariskan oleh islam. Bukan pakaian moden yang jauh dari ciri-ciri pakaian orang islam. Apatah lagi dengan suasana menyambut hari raya, sudah pasti pakaian baru menjadi pilihan kita. Tak cukup sepasang sebaliknya 2-3 pasang. Tidak salah tetapi biarla berpada2 kerana pakaian yang tidak kita pakai itu akan di hisab di hari akhirat kelak.
3. Makanan.
Di bulan ramadhan yang sedang kita lalui sekarang ni, sudah tentu makanan yang berlebihan pasti berlaku apatah lagi dengan sifat teruja dan nafsu kita melihat makanan di bazaar ramadhan. Belanja berlebihan sehingga membazir. Maka kita kena muhasabah makanan yang kita mahu makan, kalau biasa kita makan 3-4 jenis makanan, cubalah kita kurangkan kepada 2 jenis sahaja. Mudah2an dengan cara itu mengingatkan kita kepada insan yang tidak berkemampuan dan kita dapat belajar mensyukuri nikmat pemberian Allah SWT.
4. Kenderaan.
Ramai orang yang punya impian untuk memiliki kereta besar dan mewah. Maka mereka yang mahu mencontohi kehidupan sahabat sahabiyah perlula bersederhana dalam kenderaan. Cukuplah kenderaan itu digunakan kerana keperluan bukan kerana menunjukkan kemewahan kita. Dan tidak perlulah kita menghiasi kenderaan itu pada perkara yang tidak perlu.
5. Kenduri.
Sederhana dalam kenduri terutama kenduri perkahwinan. Ambil yang perlu sahaja, tidak perlu bersanding untuk menunjuk2, makan beradab atau berhias pelamin dan bersolek. Dikatakan permulaan keberkatan hidup suami isteri adala pada akad nikahnya,jikalau dalam hari perkahwinan sudah ada unsur kemaksiatan,sudah tentu tiada keberkatannya,maka tidak mustahil seandainya rumah tangga mereka itu penuh masalah dengan ranjau duri kerana diawalnya sudah tidak mengikut syariat islam.
Jadi kita perlula memikirkan kehidupan kita agar wujud kesederhanaan dalam setiap tindak tanduk kita supaya tidak bertentangan dengan ajaran islam.
Dikatakan sederhana itu terbahagi kepada 2 bahagian.
1. Melalui jalan taqwa-iaitu jalan yang ditunjukkan oleh Nabi SAW dan para sahabat.
2. Melalui jalan fatwa- iaitu jalan yang dibolehkan oleh ulama.
Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh beruntung orang yang memeluk islam, diberi rezeki yang cukup, dan dibuat merasa qanaah (cukup/ puas) oleh Allah dengan apa yang diberikan-Nya.’ [HR. Muslim 1054]
5. Keluar Jalan Allah, dan Galak Mahram Keluar Jalan Allah
Kaum lelaki byk habiskan masa di luar rumah (kerja agama). Yg tinggal di rumah adalah wanita. Wanita ibarat seperti kilang yg mencorakkan anak2 (sifat dan akhlak anak2 sama ada baik atau sebaliknya). Seperti bayi dalam kandungan, pembentukan jasad bergantung kepada makanan si ibu. Begitu juga pembentukan rohani itu yg mana bergantung kepada amalan si ibu.
Jika makanan kurang sempurna risikonya anak akan cacat begitu juga jika amalan si ibu kurang sempurna maka pembentukan rohaninya akan cacat. Madarasah yg pertama anak-anak adalah diatas riba para ibunya.
Dikatakan seorang wanita yg solehah adalah lebih baik daripada 70 lelaki soleh. Tetapi seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk dr 100 lelaki yg jahat.
Dikatakan juga jika baiknya wanita maka baiklah sesebuah negara itu.
Seperti usaha Nabi Nuh A.S mengambil masa yg panjang kerana tidak ada fikir daripada wanita. Tetapi Nabi SAW dimana isteri2 berkongsi risau atas umat dan membuat pengorbanan maka hidayah telah tersebar dalam masa yg singkat ke seluruh alam.
Yg penting bg kita kaum wanita ialah istiqamah takleem di rumah. Hidupkan takleem bukannya dgn taat perintah suami tetapi lakukanlah takleem harian di rumah dengan penuh fikir dan kerisauan atas agama dengan ini akan timbullah sifat pengorbanan , barulah nusrah Allah SWT turun dan dgn itu tersebarlah hidayah.
Selain itu hidupkan 6 pesanan, banyakkan istighfar & doa serta menangis.
Program di rumah:.
1. Mesyuarat harian - hal & takazar agama, hal ehwal rumah
2. Takleem kitabi
3. Tilawah al-Quran
4. Muzakarah agama - 6 sifat, 6 pesanan, masail
5. Adab-adab sunah & usul
Dalam keadaan rumahtangga begini maka akan wujud fikir yg sama antara suami & isteri dan ahli rumah maka nusrah Allah SWT akan turun dan akhirnya hidayat akan tersebar.
Apabila ada fikir maka iman akan meningkat. Bila iman meningkat maka timbullah pengorbanan dan atas sebab pengorbanan tadi nusrah dan hidayat akan datang.
5 sifat para wanita supaya dapat di amalkan dalam rumah tangga mereka iaitu ;
1-menjadi daeiyah~pendakwah
2- menjadi alimah ~berpengetahuan dalam agama
3- menjadi abidah~ kuat beribadah
4- menjadi murobbiyah~ orang yang mendekatkan diri pada Allah
5- menjadi khadimah~orang yang suka berkhidmat terutama untuk agama Allah
Tertib Usaha Masturat
Doa kamu tidak dikabulkan Allah SWT kerana hati kamu telah mati disebabkan oleh 10 perkara;
1. Kamu mengenal Allah SWT tetapi kamu tidak tunaikan hak-hakNya.
2. Kamu mengakui bahawa kamu cinta pada Rasulullah SAW tetapi kamu tinggalkan sunnahnya.
3. Kamu telah membaca al-Quran tetapi kamu tidak beramal menurut al-Quran.
4. Kamu telah berkata bahawa syaitan itu musuh kamu tetapi kamu tidak menentangnya.
5. Kamu telah makan nikmat2 Allah tetapi kamu tidak tunaikan syukurNya.
6. Kamu telah berkata bahawa syurga itu benar adanya tetapi kamu tidak beramal untuknya.
7. Kamu telah berkata bahawa neraka itu benar adanya tetapi kamu tidak lari darinya. 8. Kamu telah berkata bahawa mati itu benar adanya tetapi kamu tidak bersedia untuknya.
9. Kamu bangun dari tidur lalu menceritakan keburukan manusia tetapi kamu lupa tentang keburukan sendiri.
10. Kamu mengebumikan mayat2 saudara kamu tetapi kamu tidak jadikan pelajaran ke atas mereka.
Dari maulana Yusof RAH;
'Taklim adalah satu amalan yg penting lagi utama. Kita hendaklah duduk dengan beradab apabila menghadiri majlis-majlis taklim. Kita hendaklah menjaga adab2, peraturan2, ketinggian & kehormatan majlis itu. Kita hendaklah mengambil wudhu terlebih dahulu, janganlah sekali-kali duduk bersandar, janganlah sekali-kali meninggalkan majlis itu kerana desakan tabiat,janganlah sekali-kali berbual-bual dan berbisik-bisik semasa taklim sedang berjalan. Jika kita menghormati adab-adabnya nescaya majlis itu dilingkungi oleh para malaikat. Dengan itu ahli2 majlis akn mendapat taufik untuk mentaati Allah. Dengan menghormatinya nescaya dianugerahkan Nur Hadith yg mendatangkan Hidayat sejati untuk menjalankan sepenuhnya perintah-perintah Allah swt'.
Wallahu a'lam
Wassalam.
..elok. sempurna. zikrullah.
IKHLAS NIAT.
Dari Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: Keelokkan dan kesempurnaan seseorang ialah bahawa dia yang meninggalkan perbuatan dan perkataan yang sia-sia. (HR Tirmizi)
ZIKRULLAH.
Dari Abdullah bin Amr r.a berkata: Aku bertanya; Wahai Rasulullah! Apakah ganjaran majlis zikrullah. Baginda SAW menjawab: Ganjaran bagi majlis zikrullah adalah syurga, adalah syurga. (HR Musnad Ahmad, Tabrani, Majma Uz Zawaid)
..sebahagian seperti Cahaya Matahari.
Dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a meriwayatkan bahawa baginda Rasulullah SAW bersabda: Akan datang dari umatku pada hari Kiamat nanti dimana cahaya mereka seperti cahaya matahari. Kami bertanya: Siapakah mereka itu wahai Rasulullah SAW? Nabi SAW menjawab: Mereka itu ialah muhajirin yang miskin. Yang berada teguh dalam kerja-kerja yang sukar dibarisan hadapan. Apabila mereka mati keinginan mereka turut terpendam didalam dadanya. Mereka dihimpunkan dari segenap penjuru bumi ini. (HR Musnad Ahmad)
Thursday, August 2, 2012
aib diri sendiri : rehat dan letih
Abu Hatim Ibn Hibban mengatakan:
"Wajib atas orang berakal untuk sentiasa bebas daripada perlakuan mencari-cari keaiban orang lain, dan sentiasa menyibukkan diri dengan memperelokkan keaiban diri sendiri.
Sesungguhnya sesiapa yang menyibukkan dirinya dengan keaiban diri sendiri, dia akan merehatkan badan dan tidak meletihkan hatinya.
Kerana setiap kali dia mengesani suatu aib pada dirinya, dia akan bersikap mudah jika melihat aib yang sama pada saudaranya.
Dan sesiapa yang menyibukkan diri dengan keaiban orang lain tanpa mengendahkan aib dirinya, hatinya akan buta dan badannya akan letih.
(Rawdhah al-Uqala)
"Wajib atas orang berakal untuk sentiasa bebas daripada perlakuan mencari-cari keaiban orang lain, dan sentiasa menyibukkan diri dengan memperelokkan keaiban diri sendiri.
Sesungguhnya sesiapa yang menyibukkan dirinya dengan keaiban diri sendiri, dia akan merehatkan badan dan tidak meletihkan hatinya.
Kerana setiap kali dia mengesani suatu aib pada dirinya, dia akan bersikap mudah jika melihat aib yang sama pada saudaranya.
Dan sesiapa yang menyibukkan diri dengan keaiban orang lain tanpa mengendahkan aib dirinya, hatinya akan buta dan badannya akan letih.
(Rawdhah al-Uqala)
Tuesday, July 17, 2012
Dengar dan Sampaikanlah.. urutan ini terterusan.
Dari Abdullah Ibnu Abbas r.a berkata bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: Kamu semua hari ini mendengar perkara-perkara keagamaan dariku, esok perkara-perkara ini didengari pula daripada kamu. Kemudian ia didengari pula dari orang-orang yang mendengarinya daripada kamu (kerana itu dengarlah dengan teliti dan sampaikanlah kepada orang-orang yang selepas kamu, supaya mereka dapat menyampaikan kepada orang-orang selepas mereka, dan urutan ini berterusan). (HR Abu Daud)
ILMU
Saidina Ali Abi Talib r.a berkata:
ILMU itu lebih baik daripada harta. ILMU itu akan menjagamu, sedangkan harta engkaulah yang menjaganya.
ILMU itu semakin berkembang dengan diinfakkan, sedangkan harta akan berkurang jika dinafkahkan.
ILMU adalah yang mengaturmu, sedangkan harta, engkau yang akan mengaturnya.
Mencintai ILMU adalah agama yang seseorang itu beribadah dengannya.
ILMU akan membuatkan ketaatan didalam kehidupan pemiliknya serta mengharumkan namanya setelah ia meninggal dunia.
Kebaikan para pemelihara harta akan melenyap bersamaan dengan kepergiannya.
Para penimbun harta (pada hakikatnya) telah mati (meskipun) mereka masih hidup.
Adapun para Ulama tetap kekal sepanjangan masa. Jasad mereka telah tiada, namun kenangan tentang mereka senantiasa melekat di hati manusia.
(Durul fil Qira'ah al-Mustawa ar-Rabi, Hal. 16)
ILMU itu lebih baik daripada harta. ILMU itu akan menjagamu, sedangkan harta engkaulah yang menjaganya.
ILMU itu semakin berkembang dengan diinfakkan, sedangkan harta akan berkurang jika dinafkahkan.
ILMU adalah yang mengaturmu, sedangkan harta, engkau yang akan mengaturnya.
Mencintai ILMU adalah agama yang seseorang itu beribadah dengannya.
ILMU akan membuatkan ketaatan didalam kehidupan pemiliknya serta mengharumkan namanya setelah ia meninggal dunia.
Kebaikan para pemelihara harta akan melenyap bersamaan dengan kepergiannya.
Para penimbun harta (pada hakikatnya) telah mati (meskipun) mereka masih hidup.
Adapun para Ulama tetap kekal sepanjangan masa. Jasad mereka telah tiada, namun kenangan tentang mereka senantiasa melekat di hati manusia.
(Durul fil Qira'ah al-Mustawa ar-Rabi, Hal. 16)
Seorang Yg Menyalakan Api.
Dari Jabir r.a berkata bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: Aku dan kamu diumpamakan sebagai seorang yang telah menyalakan api, lalu rama-rama dan kelkatu jatuh ke atasnya dan dia menjauhkannya daripada api itu. Aku memegang pinggang-pinggang kamu dari api neraka, akan tetapi kamu terlepas dari tanganku. Yakni kamu terus berjatuhan ke dalam api neraka.
(HR Muslim)
(HR Muslim)
Malfuzat
Al-Hafizh Ibnu rajab Al-Hambali rahimullah berkata:
"..Sunnah adalah jalan yang dilalui, termasuk diantaranya adalah berpegang teguh pada sesuatu yang dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para Khulafa Ar-Rasyidin, berupaa keyakinan, amalan dan ucapan. Itulah bentuk sunnah yang sempurna."
(Jami'ul Ulumiwal Hikam: 1/120)
Monday, June 11, 2012
Manusia Unggul 6 Sifat Sahabat r.hum
Manusia yang berjaya adalah mereka yang memenuhi ciri-ciri individu Islam yang sebenarnya menurut kehendak Al-Quran dan Al Sunnah dalam keseluruhan aspek kehidupan.
Dengan kata lainnya ialah kejayaan seseorang manusia itu adalah di dalam kalimah Taiyibah iaitu manusia yang berjaya membawa keseluruhan agama di dalam kehidupannya dengan menurut dan mengamalkan Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Manusia yang beginilah yang dikatakan unggul dan berjaya di dunia dan di akhirat.
Bagi mengujudkan manusia unggul ini, seseorang itu hendaklah memiliki ciri-ciri keunggulan iaitu keimanan yang kukuh dan sempurna serta amalan yang soleh yang mengikut sunnah Nabi Muhammad SAW baik dari segi amalan Khususiah mahupun Umumiah.
Nabi Besar Muhammad SAW pernah bersabda bahawa sahabat-sahabatnya adalah seumpama bintang-bintang di langit, jikalau kita mengikuti salah satu daripadanya maka kita akan dapat petunjuk dan kejayaan.
Kenapakah mereka ini begitu unggul sehinggakan Nabi Muhammad SAW mengatakan begitu?
Apakah sifat-sifat yang dimiliki oleh mereka sehinggakan mereka mendapat keredaan Allah AWT?
Persoalan tentang kejayaan mereka ini biasa didengar dan amat senang untuk dikatakan, namun amat payah untuk kita mencapai taraf seperti mereka itu. Maulana Muhammad Iliyas seorang alim besar pernah berkata bahawa penyebab sahabat mendapat kejayaan di dalam penghidupan mereka adalah disebabkan mereka memiliki beberapa sifat-sifat yang unggul. Sifat-sifat tersebut dimiliki oleh kesemua sahabat yang mana merangkumi 6 perkara berikut:
• Sifat hakikat Dua Kalimah Syahadah.
• Sifat hakikat Sembahyang dengan khusyu’ dan khudu’.
• Sifat hakikat Ilmu dan Zikir.
• Sifat hakikat Ikhlas Niat.
• Sifat hakikat Iqramul Muslimin.
• Sifat hakikat berjuang di Jalan Allah SWT.
PERTAMA
Hakikat Dua Kalimah Syahadahb Kalimah
Kalimah inilah merupakan asas bagi agama ini yang mana ia adalah menyatakan keimanan seseorang kepada Allah SWT dan Rasullullah SAW.
Kalimah ini terbahagi kepada dua kalimah iaitu penyaksian kita kepada Allah SWT yang juga disebut Kalimah Iman dan penyaksian kita terhadap Nabi Muhammad SAW yang merupakan Kalimah Amal. Kalimah Iman ini juga disebut Kalimah Taiyibah.
Keimanan kepada Allah SWT adalah paksi kepada pembinaan Insan yang berjaya dan sempurna seterusnya kearah pembinaan masyarakat, negara dan ummah yang utuh dan mantap. Dengan keimanan yang betul dan sempurna akan lahirlah individu yang unggul dan masyarakat yang berbudi luhur, berdisiplin dan beramanah.
Di dalam surah Al-Asr, Allah SWT menjelaskan bahawa manusia yang beruntung adalah mereka yang beriman dan yang beramal soleh. Beriman kepada Allah SWT adalah proses peralihan jiwa manusia daripada menganggap dirinya bebas daripada sebarang kuasa dan ikatan serta tanggungjawab kepada ketundukan mengaku tanpa syarat bahawa tiada tuhan melainkan Allah SWT.
Perlaksanaan Amal Ibadat Keimanan tanpa ketaatan melalui amal ibadat adalah sia-sia. Seseorang yang berperibadi unggul akan tergambar jelas keimanannya melalui amal perbuatan dalam kehidupan sehariannya. Bahkan jika dikaji tujuan Allah menjadikan manusia itu sendiri ialah untuk beribadat kepadanya.
Ini sesuai sebagaimana firman Allah SWT di dalam surah Az-Zariat, ayat 56 yang bermaksud “Tidak aku jadikan jin dan manusia itu melainkan untuk beribadat”.
Ibadat adalah bukti ketundukan seseorang hamba setelah mengaku beriman kepada Allah SWT. Ibadat yang didefinisi di sini termasuklah:
Ibadat Khususiah yang menyentuh fardhu 'ain dan juga fardhu kifayah yang merangkumi hubungan manusia dengan manusia dan juga Ibadat Umumiah yang merngkumi setiap perilaku seseorang manusia sama ada kerjanya, makan tidurnya dan lain-lain lagi. Justeru itu, bagi individu yang berperibadi unggul, seluruh hidupnya baik hubungannya dengan Pencipta ataupun masyarakat adalah dianggap ibadat.
Namun pengukuran ibadat tersebut menjadi amal soleh adalah bergantung kepada kepatuhan mengikut sunnah Nabi Muhammad SAW dan taraf keikhlasan pelakunya (Bab keikhlasan ini akan dihuraikan di dalam perenggan seterusnya).
Sesuatu amalan itu hendaklah mengikuti amalan Sunnah Nabi SAW agar ianya dikira sebagai satu ibadat.
Beberapa contoh amalan kita yang biasa ataupun pada anggapan kita kecil akan mendapat pahala sekiranya perbuatan itu dibuat mengikut Sunnah adalah seperti amalan tidur, makan-minum, keluar masuk tandas dan lain-lain lagi, apatah lagi jika amalan tersebut adalah amalan yang fardhu, namun tetapi jika amalan itu dibuat berdasarkan cara dan kesukaan kita, ianya tidaklah akan dikira oleh Allah sebagai suatu ibadat.
Para sahabat r’hum amat memberati perkara sebegini sehinggakan diceritakan seorang sahabat yang melalui satu jalan tiba-tiba sahaja membongkok apabila tiba di satu tempat. Apabila ditanya oleh sahabat yang lain kenapa ia berbuat begitu, Iapun menjawab bahawa pada suatu masa beliau telah melewati jalan tersebut bersama Rasulullah dan ketika itu Baginda Nabi telah tunduk di sini kerana ada pokok yang merentangi jalan tersebut, itulah sebabnya aku telah tunduk sekarang, jawab sahabat tersebut. Pada hakikatnya pokok itu telah tiada dan sahabat itu masih lagi tunduk apabila berjalan di situ sebagai tanda suatu ketaatan yang tidak berbelah bagi terhadap amalan sunnah Nabi SAW.
Cerita-cerita seperti ini adalah menggambarkan kepada kita bahawa para Sahabat R’hum amat memberati akan amalan sunnah ini. Jika kita ditanya secara akalnya kita akan mengatakan bahawa mereka ini terlalu fanatik, tidak berfikiran dan sebagainya namun bagi mereka sebenarnya di dalam pengamalan tersebut terletaknya kejayaan yang amat gilang gemilang dan oleh sebab itulah Allah SWT telah memberikan ganjaran 100 pahala mati shahid kepada mereka yang mengamalkan satu sunnah secara Istiqamah.
KEDUA
Hakikat Sembahyang Dengan Khusyu’ Dan Khudu’
Sembahyang dengan khusyu’ dan khudu’ bermaksud sembahyang yang mempunyai hakikat sembahyang, di mana ketaatan di dalam sembahyang dapat diamalkan semasa di luar waktu sembahyang.
Sembahyang sebeginilah yang dapat menarik bantuan dan khazanah Allah SWT secara tunai. Semua kita sedia maklum bahawa perintah untuk menunaikan sembahyang adalah diberi oleh Allah SWT secara terus tanpa melalui perantaraan Malaikat Jibrail a.s. Ini menunjukkan bahawa amalan sembahyang ini adalah sesuatu hadiah yang teramat istimewa untuk kita Umat Nabi Muhammad SAW.
Sembahyang adalah senjata seseorang mukmin di samping doa di mana diberitakhabarkan dari kisah para sahabat bahawa mereka boleh menghidupkan kaldai yang mati, memusingkan pengisar gandum, dapat melintasi lautan dengan menaiki kuda tanpa menggunakan kapal dan berbagai-bagai kisah yang bagi kita adalah terlalu ajaib dan sukar diperolehi di zaman sekarang, namun semuanya itu telah berjaya dilakukan oleh para sahabat melalui sembahyang dan doa mereka.
Persoalannya bagaimanakah kita juga boleh mendapatkan bantuan dari Allah seperti mereka melalui sembahyang kita?
Oleh yang demikian para ulama telah memberikan garis panduan bahawa kita kenalah melakukan perkara-perkara berikut:
• Bersembahyang di mana tempat azan dilaungkan iaitu di masjid-masjid mahupun di surau-surau secara berjemaah.
Ini adalah untuk sembahyang fardhu, manakala untuk sembahyang sunat kita digalakkan memperbanyakkannya di rumah-rumah kita.
Perkara ini sesuai sepertimana Maksud hadis Nabi SAW iaitu "Perbanyakkan sembahyang kamu di rumah-rumahmu kecuali fardhu" (Riwayat At- Tarmidzi). Di samping itu juga kita amat digalakkan untuk menghidupkan malam dengan amalan sembahyang sunat seperti Tahajud, Taubat dan sebagainya, berzikir dan lain-lain lagi.
• Mengadakan amalan mengajak kaum musliminyang lain agar mereka juga dapat bersembahyang berjemaah bersama-sama kita, kerana menurut hadis nabi SAW yang bermaksud “Sembahyang berjemaah itu mengatasi sembahyang seorang diri dengan 27 darjat/kelebihan”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
• Senantiasa berdoa agar dikurniakan oleh Allah SWT hakikat sembahyang dengan khusyuk dan khuduk.
KETIGA
Hakikat Ilmu Dan Zikir Maksud ilmu adalah mengetahui. Mengetahui dalam konteks manusia unggul adalah mengetahui semua perintah dan larangan Allah SWT di dalam setiap keadaan dan masa mengikut keutamaan dan ianya hendaklah mengikut amalan sunnah.
Sebagai contoh; Bekerja untuk mencari rezeki adalah perintah Allah SWT, pada ketika bekerja itu laungan azan telahpun dilaungkan maka perintah Alllah pada ketika itu adalah pergi bersembahyang berjemaah.
Diceritakan sebuah kisah ketinggian ilmu seorang sahabat tentang ketaatan mereka terhadap sembahyang berjemaah bahawa ada seorang sahabat yang sedang membina sebuah rumah, sewaktu beliau sedang membina rumah tersebut seruan azan telah berkumandang dilaungkan oleh muazzin, beliau terus meninggalkan kerjanya dan terus menuju ke masjid, di mana azan tersebut telah dilaungkan.
Dikisahkan bahawa bangunan tersebut hanya memerlukan satu bata sahaja untuk disiapkan, namun demi kerana ilmu yang dipegangi oleh beliau, maka beliaupun terus menuju kepada panggilan Ilahi tanpa menyiapkan bangunan tersebut walupun hanya satu batu-bata sahaja lagi yang tinggal. Sebenarnya kisah sebegini amat banyak berlaku di kalangan para sahabat r’hum, mereka tidak mahu membuat satu perkara pun dengan melanggari perintah Allah SWT.
KEEMPAT
Hakikat Ikram Ul Muslimin
Sifat Ikramul Muslimin ini bermaksud menunaikan hak saudara kita seagama tanpa kita menuntut hak kita untuk ditunaikan oleh mereka.
Jadi bermaksud, kita seharusnya sentiasa mengutamakan saudara kita seagama yang lain sebelum mengambil kira keperluan diri sendiri.
Perkara ini jika terjadi maka, semua kita umat Islam akan menjadi bersatu-padu dan kuat dan kita akan menjadi umat yang unggul, kerana tidak ada lagi sifat mementingkan diri sendiri, sombong, iri hati dan sebagainya. Sebagai contoh sahabatsahabat Nabi SAW hanya mengutamakan, menunaikan hajat, mengkehadapankan keperluan saudara mereka seagama dengan membelakangkan keperluan diri mereka sendiri.
Di ceritakan sebuah kisah seorang sahabat yang tercedera di dalam sebuah peperangan di mana beliau sedang berada di dalam keadaan nazak dan amat dahaga. Seorang sahabat yang tidak tercedera datang membantu dan ingin memberikan beliau air, apabila ia sampai dan ingin menghulurkan minuman tersebut, tiba-tiba terdengar seorang sahabat lagi mengerang dn memerlukan air, maka sahabat yang tercedera tadi terus mengisyaratkan agar si pembawa air tadi pergi memberikan air tersebut kepada orang yang mengerang tadi, lalu sipembawa air tadi menuju kepada orang itu dan apabila sampai kepadanya tiba tiba terdengar pula suara seorang lain yang meminta air dan mengerang kesakitan. Orang yang kedua ini terus mengisyaratkan agar air itu diberi kepada orang yang ketiga tadi. Sipembawa air itu terus menuju pula kepada orang yang ketiga itu tadi dan apabila sampai dan ia mahu memberikan air, ia lihat orang itu telahpun menghembuskan nafasnya yang terakhir, Sipembawa air itu tadi bergegas kepada orang yang kedua, dan apabila ia sampaikepada orang yang kedua itu ia lihat ia pun telah menghembuskan nafasnya terakhir dan terus sipembawa air itu menuju kepada orang yang pertama dengan niat untuk memberikannya air dan ia lihat orang yang pertama itupun telah syahid di jalan Allah SWT.
Inilah kisah sebagai tauladan kepada kita bagaimana sifat Ikramulmuslimin di kalangan para sahabat. Kisah sebegini adalah sesuatu yang amat unik di mana ianya adalah sesuatu perkara yang amat payah untuk kita amalkan di zaman metropolitan ini di mana manusia berlumba lumba untuk memenuhi impian, harapan, hajat diri sendiri, tanpa memikirkan saudara mereka yang lain dan kedapatan juga sifat yang lagi buruk di mana mereka sanggup pula mengambil hak dan keperluan saudara yang lain untuk memenuhi keperluan peribadi.
Pertentangan inilah yang menyebabkan masyarakat Islam jauh ketinggalan dari segi perpaduan sesama Islam walaupun Nabi pernah bersabda bahawa "Tidak sempurna Iman kamu sehingga kamu mengasihi saudaramu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri" (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Akhlak Mulia
Akhlak mulia bagi peribadi unggul adalah hasil keimanan yang kental. Ini disebabkan tali ikatan yang menjalinkan hubungan antara individu dengan masyarakat terbentuk melalui nilai-nilai dan disiplin yang diamalkan oleh anggota masyarakat tersebut. Sekiranya nilai yang diamalkan itu positif, maka akan lahirlah sebuah masyarakat yang aman, damai, harmoni dan diselubungi roh Islam. Rasulullah adalah contoh utama pembentukan akhlak.
Dalam sebuah hadis, baginda SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (Riwayat Ahmad). Beberapa nilai yang baik dalam akhlak Islam yang menjadi tonggak amalan bagi individu unggul ialah:
• Amanah. Amanah adalah sifat mulia yang mesti diamalkan oleh setiap orang. Ia adalah asas ketahanan umat, kestabilan negara, kekuatan, kehormatan, dan roh kepada keadilan. Firman Allah SWT: “Maka tunaikanlah oleh orang yang diamanahkan itu akan amanahnya dan bertaqwalah kepada Allah, Tuhannya.” (Surah Al Baqarah: 283).
• Tekun. Islam menggalakkan umatnya supaya tekun apabila melakukan sesuatu pekerjaansehingga selesai dan berjaya. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah SWT menyukai apabila seseorang kamu bekerja dia melakukan dengan tekun” (Riwayat Abu Daud). Sifat tekun akan meningkatkan produktiviti ummah, melahirkan suasana kerja yang aman dan memberi kesan yang baik kepada masyarakat.
• Berdisiplin. Berdisiplin dalam menjalankan sesuatu kerja akan dapat menghasilkan mutu kerja yang cemerlang. Hasrat negara untuk maju dan cemerlang akan dapat dicapai dengan lebih pantas lagi. Dengan berdisiplin seseorang itu akan dapat menguatkan pegangannya terhadap ajaran agama dan menghasilkan mutu kerja yang cemerlang.
• Bersyukur. Bersyukur dalam konteks peribadi unggul berlaku dalam dua keadaan; pertama sebagai tanda kerendahan hati terhadap segala nikmat yang diberikan oleh Pencipta sama ada sedikit atau banyak; dan kedua bersyukur sesama makhluk sebagai ketetapan daripada Allah SWT supaya kebajikan sentiasa dibalas dengan kebajikan. Allah SWT berfirman yang maksudnya: “Demi sesungguhnya jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahkan Nikmat-Ku kepada kamu dan sekiranya kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku amatlah keras” (Surah Ibrahim: 7).
• Sabar. Di dalam menghadapi cabaran hidup, kesabaran amat penting untuk membentuk peribadi unggul seperti yang dikehendaki Allah SWT. Firman Allah SWT: Terjemahan: “Wahai orang-orang beriman, bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara kebajikan) dan kuatkanlah kesabaran kamu (lebih daripada kesabaran musuh di medan perjuangan) dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah, supaya kamu berjaya.” (Surah Al Imran: 200).
• Adil. Adil bermaksud meletakkan sesuatu pada tempatnya. Para ulama membahagikan adil kepada beberapa peringkat iaitu adil terhadap diri sendiri, orang bawahan, pemimpin atasan dan juga sesama saudara.
KELIMA
Hakikat Ikhlas
NiatIkhlas adalah inti setiap ibadah dan perbuatan. Terjemahan Firman Allah: “Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepada- Nya” (Surah Al Bayyinah: 5).
Ikhlas akan menghasilkan kemenangan dan kejayaan. Masyarakat yang mengamalkan sifat ikhlas akan mencapai kebaikan dunia dan akhirat,bersih daripada sifat kerendahan dan mencapai perpaduan, persaudaraan, kedamaian dan kesejahteraan.
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: "Bahagialah dengan limpahan kebaikan bagi orang-orang yang bila menghadiri (berada dalam kumpulan) tidak dikenali, tetapi apabila tidak hadir tidak pula kehilangan. Mereka itulah pelita hidayah. Tersisih daripada mereka segala fitnah dan angkara orang yang zalim." (Riwayat Imam al-Baihaqi daripada al-Thauban).
Amalan ikhlas adalah seperti jasad yang mempunyai roh. Ia boleh memberikan faedah kepada jasad dan siempunya jasad. Begitu juga amalan yang ikhlas boleh dijadikan "tawasul" untuk Allah SWT menerima doa kita. Walaubagaimanapun ia tidak bermaksud Allah SWT berhajat kepadanya, ianya adalah asbab untuk menarik rahmat Allah SWT.
Di dalam suatu hadis yang panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim daripada Abdullah bin Umar r.a bahawa beliau telah mendengar Rasulullah SAW bersabda maksudnya; “Terjadi pada suatu masa dahulu sebelum kamu, di mana tiga orang lelaki telah keluar di dalam suatu perjalanan sehingga terpaksa bermalam di sebuah gua. Tiba-tiba ketika mereka berada di dalam gua tersebut, jatuh sebuah batu besar dari atas bukit lalu menutupi pintu gua tersebut sehingga mereka tidak dapat keluar. Mereka pun berkata, Sesungguhnya tiada suatu apapun yang dapat menyelamatkan kita dari bahaya ini melainkan kita bertawasul kepada Allah SWT dengan amal-amal soleh yang kita pernah lakukan pada masa dahulu. Maka salah seorang dari mereka telah berdoa; Ya Allah! Dahulu aku mempunyai ibu dan bapa. Kebisaannya aku tidak memberi minuman susu pada seorang pun sebelum keduanya, baik kepada ahli keluarga ataupun hamba sebaya. Maka pada suatu hari aku pergi agak jauh untuk mengembala ternakan hingga aku tidak kembali kepada keduanya. Bila aku pulang ke rumah aku dapati mereka telah pun tidur dan aku agak keberatan untuk mengejutkan keduanya. Lantaran itu aku tidak memberikan minuman itu kepada sesiapapun sebelum kedua ibubapaku itu. Aku telah menunggu sehingga mereka bangun hinggalah terbit fajar keesokan harinya.
Setelah mereka bangun aku pun memberikan minuman susu perahan itu kepada mereka. Padahal pada malam itu juga anak-anak aku sedang menagis dekat kakiku meminta susu tersebut.
Ya Allah! Jika aku berbuat yang sedemikian mengharapkan keredhaanmu maka lapangkanlah keadaan kami ini. Maka batu itupun tergelonsor sedikit tetapi tidak cukup untuk mereka keluar dari gua tersebut. Lelaki yang kedua pula berdoa;
Ya Allah! Dulu aku pernah jatuh cinta kepada anak gadis bapa saudara aku. Lantaran cinta yang amat sangat aku merayu padanya untuk melakukan zina dengannya tetapi ia selalu menolak hingga pada suatu hari ketika ia menderita kelaparan dan datang meminta bantuan dariku lalu aku berikan kepadanya 120 dinar dengan syarat dia mestilah menyerahkan tubuhnya kepadaku pada malam harinya.
Kemudian hari itu apabila aku berada di antara kelengkangnya tiba-tiba dia berkata; Takutilah Allah, janganlah bukakan kecuali dengan cara yang halal. Akupun bingkas bangun daripadanya padahal saya tetap ghairah untuk menyetubuhinya. Aku tinggalkan dinar tersebut kepadanya.
Ya Allah! Jika aku berbuat yang sedemikian itu semata-mata untuk menuntut keredhaanmu hindarkanlah kami dari kecelakaan ini. Maka batu itupun menyisih sedikit tetapi mereka belum juga dapat untuk keluar dari gua itu. Lelaki yang ketiga pula berdoa;
Ya Allah! Aku dahulu seorang majikan yang mempunyai ramai buruh. Pada suatu hari ketika aku membayar upah mereka, seorang seorang dari mereka telah meninggalkan aku (sebelum sempat upahnya dibayar). Aku telah menggunakan upahnya untuk pelaburan di dalam perniagaan sehingga aku memperolehi kekayaan darinya. Setelah lama masa berlalu buruh itupun kembali meminta upahnya dahulu dan berkata; Ya Abdullah! Berikanlah kepadaku upahku. Aku menjawab: Semua kekayaan yang engkau lihat dari unta, lembu, kambing serta budak pengembala adalah upahmu.
Beliau berkata kepadaku; Ya Abdullah! Kamu jangan mengejek aku. Aku menjawab; Aku tidak mengejekmu. Beliaupun mengambil kesemuanya tanpa meninggalkan satupun daripada binatang ternakan itu.
Ya Allah Jika aku berbuat yang sedemikian itu hanya mengharapkan keredhaanmu maka hindarkanlah kami dari kesempitan ini. Tibatiba batu itu mengelonsor hingga membolehkan mereka keluar daripada gua tersebut”.
KEENAM
Hakikat Berjuang Di Jalan Allah SWT
Sesungguhnya kesemua para Sahabat r'hum mempunyai sifat dan kesungguhan di dalam pengorbanan untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi ini.
Mereka telah bertebaran di seluruh pelusok dunia ini demi kerana itu. Pengorbanan harta kekayaan, anak-anak, diri sendiri dan sebagainya telah dikorbankan demi kerana perjuangan menegakkan kalimah Allah.
Sesungguhnya pengorbanan yang dilakukan oleh para Sahabat ini amatlah besar sehinggakan mereka telah mendapat keredhaan Allah SWT.
Pengorbanan yang sebegini hebat telah menyukakan Allah SWT sehingga seramai 10 orang sahabat telahpun dikhabarkan tempat mereka di syurga sedangkan mereka masih lagi hidup di dunia. Allah SWT telah berjanji di mana perbelanjaan yang diinfaqkan untuk perjuangan di jalan Allah, akan diganjari sehingga 700 kali ganda dan ianya akan bertambah mengikut kehendak Allah SWT sendiri yang Maha Pemurah.
Ini sesuai dengan Sabda Nabi SAW yang bermaksud: “Daripada Abu masud r.a katanya; Seorang lelaki telah datang menemui rasulullah saw dengan membawa seekor unta betina yang telah diberi kekang seraya berkata; Unta ini dibelanjakan di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW pun bersabda; Kamu akan memperolehi sebagai ganjaran pada Hari Qiamat sama dengan 700 unta yang terikat (telah diberi kekang)” (Riwayat Muslim).
Untuk kita juga Allah mengkehendaki agar kita mengikuti jejak langkah ini demi menjadi manusia unggul seperti mereka. Pengorbanan untuk menegakkan agama Islam, baik mereka yang menyeru kepada amalan zahir mahupun batin hendaklah diberi sokongan dan turut serta menyumbangkan pengorbanan baik dari segi dirisendiri, harta dan masa. Allah SWT akan mengganjari akan mereka yang berjuang di jalan Allah SWT sehinggakan debu-debu yang melekat pada orang yang berjalan di jalan Allah akan diharamkan hatta asap api neraka sekalipun.
Sebagai hamba, kita hendaklah selalu berdoa agar kita dipilih oleh Allah untuk menjadi mujahid di jalanNya dan mendapat hakikat berjuang di jalan Allah serta bersama-sama mengajak rakan-rakan, saudara mara dan seluruh kaum muslimin dan muslimat agar dapat bersamasama berkorban dan berjuang dijalan Allah SWT.
Kesan Manusia Beruntung Dalam Kehidupan
Seseorang manusia yang memiliki sifat-sifat unggul adalah sangat beruntung kerana ia mampu mengemudi hidupnya dengan sempurna. Kondisi ini membuatkan ia dapat berperanan dengan baik kepada dirinya, masyarakat dan alam sekeliling. Ia juga akan disenangi oleh semua makhluk di dunia ini sehinggakan semua makhluk akan berkhidmat membantu dirinya. Bukan itu sahaja bahkan Allah SWT yang Maha Perkasa, Maha Kaya, juga akan menyenanginya.
Apakah lagi yang terlebih utama daripada mendapat rasa kasihan dan keredhaan Allah SWT. Jika ini berlaku maka keseluruhan hidup di dunia dan di alam akhirat, kampung kita, kita akan menjadi mudah dan berkat. Manusia unggul akan berjaya melaksanakan amanah dan tanggungjawab dengan sebaik-baiknya dan sentiasa dapat mematuhi tuntuhan-tuntuhan rohani dan jasmaninya dengan terkawal. Aspekaspek rohani dan jasmani manusia yang terdiri daripada empat perkara asas iaitu akal fikiran, roh, jasad dan syahwat akan dapat dididik dan dipandu berdasarkan fitrah sebenar berdasarkan fungsi kejadian manusia itu sendiri sebagai makhluk istimewa dan khalifah Allah yang diamanahkan untuk memakmurkan bumi ini.
Penutup
Demikianlah antara beberapa keperibadian bunggul bagi melahirkan insan yang unggul serta kesan kesan yang dapat dilahirkan oleh mereka dalam kehidupannya samaada kepada diri sendiri dan penghidupannya dan manusia di sekelilingnya hasil daripada amalan terhadap nilai-nilai yang unggul seperti yang telah dinyatakan.
Dengan kata lainnya ialah kejayaan seseorang manusia itu adalah di dalam kalimah Taiyibah iaitu manusia yang berjaya membawa keseluruhan agama di dalam kehidupannya dengan menurut dan mengamalkan Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Manusia yang beginilah yang dikatakan unggul dan berjaya di dunia dan di akhirat.
Bagi mengujudkan manusia unggul ini, seseorang itu hendaklah memiliki ciri-ciri keunggulan iaitu keimanan yang kukuh dan sempurna serta amalan yang soleh yang mengikut sunnah Nabi Muhammad SAW baik dari segi amalan Khususiah mahupun Umumiah.
Nabi Besar Muhammad SAW pernah bersabda bahawa sahabat-sahabatnya adalah seumpama bintang-bintang di langit, jikalau kita mengikuti salah satu daripadanya maka kita akan dapat petunjuk dan kejayaan.
Kenapakah mereka ini begitu unggul sehinggakan Nabi Muhammad SAW mengatakan begitu?
Apakah sifat-sifat yang dimiliki oleh mereka sehinggakan mereka mendapat keredaan Allah AWT?
Persoalan tentang kejayaan mereka ini biasa didengar dan amat senang untuk dikatakan, namun amat payah untuk kita mencapai taraf seperti mereka itu. Maulana Muhammad Iliyas seorang alim besar pernah berkata bahawa penyebab sahabat mendapat kejayaan di dalam penghidupan mereka adalah disebabkan mereka memiliki beberapa sifat-sifat yang unggul. Sifat-sifat tersebut dimiliki oleh kesemua sahabat yang mana merangkumi 6 perkara berikut:
• Sifat hakikat Dua Kalimah Syahadah.
• Sifat hakikat Sembahyang dengan khusyu’ dan khudu’.
• Sifat hakikat Ilmu dan Zikir.
• Sifat hakikat Ikhlas Niat.
• Sifat hakikat Iqramul Muslimin.
• Sifat hakikat berjuang di Jalan Allah SWT.
PERTAMA
Hakikat Dua Kalimah Syahadahb Kalimah
Kalimah inilah merupakan asas bagi agama ini yang mana ia adalah menyatakan keimanan seseorang kepada Allah SWT dan Rasullullah SAW.
Kalimah ini terbahagi kepada dua kalimah iaitu penyaksian kita kepada Allah SWT yang juga disebut Kalimah Iman dan penyaksian kita terhadap Nabi Muhammad SAW yang merupakan Kalimah Amal. Kalimah Iman ini juga disebut Kalimah Taiyibah.
Keimanan kepada Allah SWT adalah paksi kepada pembinaan Insan yang berjaya dan sempurna seterusnya kearah pembinaan masyarakat, negara dan ummah yang utuh dan mantap. Dengan keimanan yang betul dan sempurna akan lahirlah individu yang unggul dan masyarakat yang berbudi luhur, berdisiplin dan beramanah.
Di dalam surah Al-Asr, Allah SWT menjelaskan bahawa manusia yang beruntung adalah mereka yang beriman dan yang beramal soleh. Beriman kepada Allah SWT adalah proses peralihan jiwa manusia daripada menganggap dirinya bebas daripada sebarang kuasa dan ikatan serta tanggungjawab kepada ketundukan mengaku tanpa syarat bahawa tiada tuhan melainkan Allah SWT.
Perlaksanaan Amal Ibadat Keimanan tanpa ketaatan melalui amal ibadat adalah sia-sia. Seseorang yang berperibadi unggul akan tergambar jelas keimanannya melalui amal perbuatan dalam kehidupan sehariannya. Bahkan jika dikaji tujuan Allah menjadikan manusia itu sendiri ialah untuk beribadat kepadanya.
Ini sesuai sebagaimana firman Allah SWT di dalam surah Az-Zariat, ayat 56 yang bermaksud “Tidak aku jadikan jin dan manusia itu melainkan untuk beribadat”.
Ibadat adalah bukti ketundukan seseorang hamba setelah mengaku beriman kepada Allah SWT. Ibadat yang didefinisi di sini termasuklah:
Ibadat Khususiah yang menyentuh fardhu 'ain dan juga fardhu kifayah yang merangkumi hubungan manusia dengan manusia dan juga Ibadat Umumiah yang merngkumi setiap perilaku seseorang manusia sama ada kerjanya, makan tidurnya dan lain-lain lagi. Justeru itu, bagi individu yang berperibadi unggul, seluruh hidupnya baik hubungannya dengan Pencipta ataupun masyarakat adalah dianggap ibadat.
Namun pengukuran ibadat tersebut menjadi amal soleh adalah bergantung kepada kepatuhan mengikut sunnah Nabi Muhammad SAW dan taraf keikhlasan pelakunya (Bab keikhlasan ini akan dihuraikan di dalam perenggan seterusnya).
Sesuatu amalan itu hendaklah mengikuti amalan Sunnah Nabi SAW agar ianya dikira sebagai satu ibadat.
Beberapa contoh amalan kita yang biasa ataupun pada anggapan kita kecil akan mendapat pahala sekiranya perbuatan itu dibuat mengikut Sunnah adalah seperti amalan tidur, makan-minum, keluar masuk tandas dan lain-lain lagi, apatah lagi jika amalan tersebut adalah amalan yang fardhu, namun tetapi jika amalan itu dibuat berdasarkan cara dan kesukaan kita, ianya tidaklah akan dikira oleh Allah sebagai suatu ibadat.
Para sahabat r’hum amat memberati perkara sebegini sehinggakan diceritakan seorang sahabat yang melalui satu jalan tiba-tiba sahaja membongkok apabila tiba di satu tempat. Apabila ditanya oleh sahabat yang lain kenapa ia berbuat begitu, Iapun menjawab bahawa pada suatu masa beliau telah melewati jalan tersebut bersama Rasulullah dan ketika itu Baginda Nabi telah tunduk di sini kerana ada pokok yang merentangi jalan tersebut, itulah sebabnya aku telah tunduk sekarang, jawab sahabat tersebut. Pada hakikatnya pokok itu telah tiada dan sahabat itu masih lagi tunduk apabila berjalan di situ sebagai tanda suatu ketaatan yang tidak berbelah bagi terhadap amalan sunnah Nabi SAW.
Cerita-cerita seperti ini adalah menggambarkan kepada kita bahawa para Sahabat R’hum amat memberati akan amalan sunnah ini. Jika kita ditanya secara akalnya kita akan mengatakan bahawa mereka ini terlalu fanatik, tidak berfikiran dan sebagainya namun bagi mereka sebenarnya di dalam pengamalan tersebut terletaknya kejayaan yang amat gilang gemilang dan oleh sebab itulah Allah SWT telah memberikan ganjaran 100 pahala mati shahid kepada mereka yang mengamalkan satu sunnah secara Istiqamah.
KEDUA
Hakikat Sembahyang Dengan Khusyu’ Dan Khudu’
Sembahyang dengan khusyu’ dan khudu’ bermaksud sembahyang yang mempunyai hakikat sembahyang, di mana ketaatan di dalam sembahyang dapat diamalkan semasa di luar waktu sembahyang.
Sembahyang sebeginilah yang dapat menarik bantuan dan khazanah Allah SWT secara tunai. Semua kita sedia maklum bahawa perintah untuk menunaikan sembahyang adalah diberi oleh Allah SWT secara terus tanpa melalui perantaraan Malaikat Jibrail a.s. Ini menunjukkan bahawa amalan sembahyang ini adalah sesuatu hadiah yang teramat istimewa untuk kita Umat Nabi Muhammad SAW.
Sembahyang adalah senjata seseorang mukmin di samping doa di mana diberitakhabarkan dari kisah para sahabat bahawa mereka boleh menghidupkan kaldai yang mati, memusingkan pengisar gandum, dapat melintasi lautan dengan menaiki kuda tanpa menggunakan kapal dan berbagai-bagai kisah yang bagi kita adalah terlalu ajaib dan sukar diperolehi di zaman sekarang, namun semuanya itu telah berjaya dilakukan oleh para sahabat melalui sembahyang dan doa mereka.
Persoalannya bagaimanakah kita juga boleh mendapatkan bantuan dari Allah seperti mereka melalui sembahyang kita?
Oleh yang demikian para ulama telah memberikan garis panduan bahawa kita kenalah melakukan perkara-perkara berikut:
• Bersembahyang di mana tempat azan dilaungkan iaitu di masjid-masjid mahupun di surau-surau secara berjemaah.
Ini adalah untuk sembahyang fardhu, manakala untuk sembahyang sunat kita digalakkan memperbanyakkannya di rumah-rumah kita.
Perkara ini sesuai sepertimana Maksud hadis Nabi SAW iaitu "Perbanyakkan sembahyang kamu di rumah-rumahmu kecuali fardhu" (Riwayat At- Tarmidzi). Di samping itu juga kita amat digalakkan untuk menghidupkan malam dengan amalan sembahyang sunat seperti Tahajud, Taubat dan sebagainya, berzikir dan lain-lain lagi.
• Mengadakan amalan mengajak kaum musliminyang lain agar mereka juga dapat bersembahyang berjemaah bersama-sama kita, kerana menurut hadis nabi SAW yang bermaksud “Sembahyang berjemaah itu mengatasi sembahyang seorang diri dengan 27 darjat/kelebihan”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
• Senantiasa berdoa agar dikurniakan oleh Allah SWT hakikat sembahyang dengan khusyuk dan khuduk.
KETIGA
Hakikat Ilmu Dan Zikir Maksud ilmu adalah mengetahui. Mengetahui dalam konteks manusia unggul adalah mengetahui semua perintah dan larangan Allah SWT di dalam setiap keadaan dan masa mengikut keutamaan dan ianya hendaklah mengikut amalan sunnah.
Sebagai contoh; Bekerja untuk mencari rezeki adalah perintah Allah SWT, pada ketika bekerja itu laungan azan telahpun dilaungkan maka perintah Alllah pada ketika itu adalah pergi bersembahyang berjemaah.
Diceritakan sebuah kisah ketinggian ilmu seorang sahabat tentang ketaatan mereka terhadap sembahyang berjemaah bahawa ada seorang sahabat yang sedang membina sebuah rumah, sewaktu beliau sedang membina rumah tersebut seruan azan telah berkumandang dilaungkan oleh muazzin, beliau terus meninggalkan kerjanya dan terus menuju ke masjid, di mana azan tersebut telah dilaungkan.
Dikisahkan bahawa bangunan tersebut hanya memerlukan satu bata sahaja untuk disiapkan, namun demi kerana ilmu yang dipegangi oleh beliau, maka beliaupun terus menuju kepada panggilan Ilahi tanpa menyiapkan bangunan tersebut walupun hanya satu batu-bata sahaja lagi yang tinggal. Sebenarnya kisah sebegini amat banyak berlaku di kalangan para sahabat r’hum, mereka tidak mahu membuat satu perkara pun dengan melanggari perintah Allah SWT.
KEEMPAT
Hakikat Ikram Ul Muslimin
Sifat Ikramul Muslimin ini bermaksud menunaikan hak saudara kita seagama tanpa kita menuntut hak kita untuk ditunaikan oleh mereka.
Jadi bermaksud, kita seharusnya sentiasa mengutamakan saudara kita seagama yang lain sebelum mengambil kira keperluan diri sendiri.
Perkara ini jika terjadi maka, semua kita umat Islam akan menjadi bersatu-padu dan kuat dan kita akan menjadi umat yang unggul, kerana tidak ada lagi sifat mementingkan diri sendiri, sombong, iri hati dan sebagainya. Sebagai contoh sahabatsahabat Nabi SAW hanya mengutamakan, menunaikan hajat, mengkehadapankan keperluan saudara mereka seagama dengan membelakangkan keperluan diri mereka sendiri.
Di ceritakan sebuah kisah seorang sahabat yang tercedera di dalam sebuah peperangan di mana beliau sedang berada di dalam keadaan nazak dan amat dahaga. Seorang sahabat yang tidak tercedera datang membantu dan ingin memberikan beliau air, apabila ia sampai dan ingin menghulurkan minuman tersebut, tiba-tiba terdengar seorang sahabat lagi mengerang dn memerlukan air, maka sahabat yang tercedera tadi terus mengisyaratkan agar si pembawa air tadi pergi memberikan air tersebut kepada orang yang mengerang tadi, lalu sipembawa air tadi menuju kepada orang itu dan apabila sampai kepadanya tiba tiba terdengar pula suara seorang lain yang meminta air dan mengerang kesakitan. Orang yang kedua ini terus mengisyaratkan agar air itu diberi kepada orang yang ketiga tadi. Sipembawa air itu terus menuju pula kepada orang yang ketiga itu tadi dan apabila sampai dan ia mahu memberikan air, ia lihat orang itu telahpun menghembuskan nafasnya yang terakhir, Sipembawa air itu tadi bergegas kepada orang yang kedua, dan apabila ia sampaikepada orang yang kedua itu ia lihat ia pun telah menghembuskan nafasnya terakhir dan terus sipembawa air itu menuju kepada orang yang pertama dengan niat untuk memberikannya air dan ia lihat orang yang pertama itupun telah syahid di jalan Allah SWT.
Inilah kisah sebagai tauladan kepada kita bagaimana sifat Ikramulmuslimin di kalangan para sahabat. Kisah sebegini adalah sesuatu yang amat unik di mana ianya adalah sesuatu perkara yang amat payah untuk kita amalkan di zaman metropolitan ini di mana manusia berlumba lumba untuk memenuhi impian, harapan, hajat diri sendiri, tanpa memikirkan saudara mereka yang lain dan kedapatan juga sifat yang lagi buruk di mana mereka sanggup pula mengambil hak dan keperluan saudara yang lain untuk memenuhi keperluan peribadi.
Pertentangan inilah yang menyebabkan masyarakat Islam jauh ketinggalan dari segi perpaduan sesama Islam walaupun Nabi pernah bersabda bahawa "Tidak sempurna Iman kamu sehingga kamu mengasihi saudaramu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri" (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Akhlak Mulia
Akhlak mulia bagi peribadi unggul adalah hasil keimanan yang kental. Ini disebabkan tali ikatan yang menjalinkan hubungan antara individu dengan masyarakat terbentuk melalui nilai-nilai dan disiplin yang diamalkan oleh anggota masyarakat tersebut. Sekiranya nilai yang diamalkan itu positif, maka akan lahirlah sebuah masyarakat yang aman, damai, harmoni dan diselubungi roh Islam. Rasulullah adalah contoh utama pembentukan akhlak.
Dalam sebuah hadis, baginda SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (Riwayat Ahmad). Beberapa nilai yang baik dalam akhlak Islam yang menjadi tonggak amalan bagi individu unggul ialah:
• Amanah. Amanah adalah sifat mulia yang mesti diamalkan oleh setiap orang. Ia adalah asas ketahanan umat, kestabilan negara, kekuatan, kehormatan, dan roh kepada keadilan. Firman Allah SWT: “Maka tunaikanlah oleh orang yang diamanahkan itu akan amanahnya dan bertaqwalah kepada Allah, Tuhannya.” (Surah Al Baqarah: 283).
• Tekun. Islam menggalakkan umatnya supaya tekun apabila melakukan sesuatu pekerjaansehingga selesai dan berjaya. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah SWT menyukai apabila seseorang kamu bekerja dia melakukan dengan tekun” (Riwayat Abu Daud). Sifat tekun akan meningkatkan produktiviti ummah, melahirkan suasana kerja yang aman dan memberi kesan yang baik kepada masyarakat.
• Berdisiplin. Berdisiplin dalam menjalankan sesuatu kerja akan dapat menghasilkan mutu kerja yang cemerlang. Hasrat negara untuk maju dan cemerlang akan dapat dicapai dengan lebih pantas lagi. Dengan berdisiplin seseorang itu akan dapat menguatkan pegangannya terhadap ajaran agama dan menghasilkan mutu kerja yang cemerlang.
• Bersyukur. Bersyukur dalam konteks peribadi unggul berlaku dalam dua keadaan; pertama sebagai tanda kerendahan hati terhadap segala nikmat yang diberikan oleh Pencipta sama ada sedikit atau banyak; dan kedua bersyukur sesama makhluk sebagai ketetapan daripada Allah SWT supaya kebajikan sentiasa dibalas dengan kebajikan. Allah SWT berfirman yang maksudnya: “Demi sesungguhnya jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahkan Nikmat-Ku kepada kamu dan sekiranya kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku amatlah keras” (Surah Ibrahim: 7).
• Sabar. Di dalam menghadapi cabaran hidup, kesabaran amat penting untuk membentuk peribadi unggul seperti yang dikehendaki Allah SWT. Firman Allah SWT: Terjemahan: “Wahai orang-orang beriman, bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara kebajikan) dan kuatkanlah kesabaran kamu (lebih daripada kesabaran musuh di medan perjuangan) dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah, supaya kamu berjaya.” (Surah Al Imran: 200).
• Adil. Adil bermaksud meletakkan sesuatu pada tempatnya. Para ulama membahagikan adil kepada beberapa peringkat iaitu adil terhadap diri sendiri, orang bawahan, pemimpin atasan dan juga sesama saudara.
KELIMA
Hakikat Ikhlas
NiatIkhlas adalah inti setiap ibadah dan perbuatan. Terjemahan Firman Allah: “Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepada- Nya” (Surah Al Bayyinah: 5).
Ikhlas akan menghasilkan kemenangan dan kejayaan. Masyarakat yang mengamalkan sifat ikhlas akan mencapai kebaikan dunia dan akhirat,bersih daripada sifat kerendahan dan mencapai perpaduan, persaudaraan, kedamaian dan kesejahteraan.
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: "Bahagialah dengan limpahan kebaikan bagi orang-orang yang bila menghadiri (berada dalam kumpulan) tidak dikenali, tetapi apabila tidak hadir tidak pula kehilangan. Mereka itulah pelita hidayah. Tersisih daripada mereka segala fitnah dan angkara orang yang zalim." (Riwayat Imam al-Baihaqi daripada al-Thauban).
Amalan ikhlas adalah seperti jasad yang mempunyai roh. Ia boleh memberikan faedah kepada jasad dan siempunya jasad. Begitu juga amalan yang ikhlas boleh dijadikan "tawasul" untuk Allah SWT menerima doa kita. Walaubagaimanapun ia tidak bermaksud Allah SWT berhajat kepadanya, ianya adalah asbab untuk menarik rahmat Allah SWT.
Di dalam suatu hadis yang panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim daripada Abdullah bin Umar r.a bahawa beliau telah mendengar Rasulullah SAW bersabda maksudnya; “Terjadi pada suatu masa dahulu sebelum kamu, di mana tiga orang lelaki telah keluar di dalam suatu perjalanan sehingga terpaksa bermalam di sebuah gua. Tiba-tiba ketika mereka berada di dalam gua tersebut, jatuh sebuah batu besar dari atas bukit lalu menutupi pintu gua tersebut sehingga mereka tidak dapat keluar. Mereka pun berkata, Sesungguhnya tiada suatu apapun yang dapat menyelamatkan kita dari bahaya ini melainkan kita bertawasul kepada Allah SWT dengan amal-amal soleh yang kita pernah lakukan pada masa dahulu. Maka salah seorang dari mereka telah berdoa; Ya Allah! Dahulu aku mempunyai ibu dan bapa. Kebisaannya aku tidak memberi minuman susu pada seorang pun sebelum keduanya, baik kepada ahli keluarga ataupun hamba sebaya. Maka pada suatu hari aku pergi agak jauh untuk mengembala ternakan hingga aku tidak kembali kepada keduanya. Bila aku pulang ke rumah aku dapati mereka telah pun tidur dan aku agak keberatan untuk mengejutkan keduanya. Lantaran itu aku tidak memberikan minuman itu kepada sesiapapun sebelum kedua ibubapaku itu. Aku telah menunggu sehingga mereka bangun hinggalah terbit fajar keesokan harinya.
Setelah mereka bangun aku pun memberikan minuman susu perahan itu kepada mereka. Padahal pada malam itu juga anak-anak aku sedang menagis dekat kakiku meminta susu tersebut.
Ya Allah! Jika aku berbuat yang sedemikian mengharapkan keredhaanmu maka lapangkanlah keadaan kami ini. Maka batu itupun tergelonsor sedikit tetapi tidak cukup untuk mereka keluar dari gua tersebut. Lelaki yang kedua pula berdoa;
Ya Allah! Dulu aku pernah jatuh cinta kepada anak gadis bapa saudara aku. Lantaran cinta yang amat sangat aku merayu padanya untuk melakukan zina dengannya tetapi ia selalu menolak hingga pada suatu hari ketika ia menderita kelaparan dan datang meminta bantuan dariku lalu aku berikan kepadanya 120 dinar dengan syarat dia mestilah menyerahkan tubuhnya kepadaku pada malam harinya.
Kemudian hari itu apabila aku berada di antara kelengkangnya tiba-tiba dia berkata; Takutilah Allah, janganlah bukakan kecuali dengan cara yang halal. Akupun bingkas bangun daripadanya padahal saya tetap ghairah untuk menyetubuhinya. Aku tinggalkan dinar tersebut kepadanya.
Ya Allah! Jika aku berbuat yang sedemikian itu semata-mata untuk menuntut keredhaanmu hindarkanlah kami dari kecelakaan ini. Maka batu itupun menyisih sedikit tetapi mereka belum juga dapat untuk keluar dari gua itu. Lelaki yang ketiga pula berdoa;
Ya Allah! Aku dahulu seorang majikan yang mempunyai ramai buruh. Pada suatu hari ketika aku membayar upah mereka, seorang seorang dari mereka telah meninggalkan aku (sebelum sempat upahnya dibayar). Aku telah menggunakan upahnya untuk pelaburan di dalam perniagaan sehingga aku memperolehi kekayaan darinya. Setelah lama masa berlalu buruh itupun kembali meminta upahnya dahulu dan berkata; Ya Abdullah! Berikanlah kepadaku upahku. Aku menjawab: Semua kekayaan yang engkau lihat dari unta, lembu, kambing serta budak pengembala adalah upahmu.
Beliau berkata kepadaku; Ya Abdullah! Kamu jangan mengejek aku. Aku menjawab; Aku tidak mengejekmu. Beliaupun mengambil kesemuanya tanpa meninggalkan satupun daripada binatang ternakan itu.
Ya Allah Jika aku berbuat yang sedemikian itu hanya mengharapkan keredhaanmu maka hindarkanlah kami dari kesempitan ini. Tibatiba batu itu mengelonsor hingga membolehkan mereka keluar daripada gua tersebut”.
KEENAM
Hakikat Berjuang Di Jalan Allah SWT
Sesungguhnya kesemua para Sahabat r'hum mempunyai sifat dan kesungguhan di dalam pengorbanan untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi ini.
Mereka telah bertebaran di seluruh pelusok dunia ini demi kerana itu. Pengorbanan harta kekayaan, anak-anak, diri sendiri dan sebagainya telah dikorbankan demi kerana perjuangan menegakkan kalimah Allah.
Sesungguhnya pengorbanan yang dilakukan oleh para Sahabat ini amatlah besar sehinggakan mereka telah mendapat keredhaan Allah SWT.
Pengorbanan yang sebegini hebat telah menyukakan Allah SWT sehingga seramai 10 orang sahabat telahpun dikhabarkan tempat mereka di syurga sedangkan mereka masih lagi hidup di dunia. Allah SWT telah berjanji di mana perbelanjaan yang diinfaqkan untuk perjuangan di jalan Allah, akan diganjari sehingga 700 kali ganda dan ianya akan bertambah mengikut kehendak Allah SWT sendiri yang Maha Pemurah.
Ini sesuai dengan Sabda Nabi SAW yang bermaksud: “Daripada Abu masud r.a katanya; Seorang lelaki telah datang menemui rasulullah saw dengan membawa seekor unta betina yang telah diberi kekang seraya berkata; Unta ini dibelanjakan di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW pun bersabda; Kamu akan memperolehi sebagai ganjaran pada Hari Qiamat sama dengan 700 unta yang terikat (telah diberi kekang)” (Riwayat Muslim).
Untuk kita juga Allah mengkehendaki agar kita mengikuti jejak langkah ini demi menjadi manusia unggul seperti mereka. Pengorbanan untuk menegakkan agama Islam, baik mereka yang menyeru kepada amalan zahir mahupun batin hendaklah diberi sokongan dan turut serta menyumbangkan pengorbanan baik dari segi dirisendiri, harta dan masa. Allah SWT akan mengganjari akan mereka yang berjuang di jalan Allah SWT sehinggakan debu-debu yang melekat pada orang yang berjalan di jalan Allah akan diharamkan hatta asap api neraka sekalipun.
Sebagai hamba, kita hendaklah selalu berdoa agar kita dipilih oleh Allah untuk menjadi mujahid di jalanNya dan mendapat hakikat berjuang di jalan Allah serta bersama-sama mengajak rakan-rakan, saudara mara dan seluruh kaum muslimin dan muslimat agar dapat bersamasama berkorban dan berjuang dijalan Allah SWT.
Kesan Manusia Beruntung Dalam Kehidupan
Seseorang manusia yang memiliki sifat-sifat unggul adalah sangat beruntung kerana ia mampu mengemudi hidupnya dengan sempurna. Kondisi ini membuatkan ia dapat berperanan dengan baik kepada dirinya, masyarakat dan alam sekeliling. Ia juga akan disenangi oleh semua makhluk di dunia ini sehinggakan semua makhluk akan berkhidmat membantu dirinya. Bukan itu sahaja bahkan Allah SWT yang Maha Perkasa, Maha Kaya, juga akan menyenanginya.
Apakah lagi yang terlebih utama daripada mendapat rasa kasihan dan keredhaan Allah SWT. Jika ini berlaku maka keseluruhan hidup di dunia dan di alam akhirat, kampung kita, kita akan menjadi mudah dan berkat. Manusia unggul akan berjaya melaksanakan amanah dan tanggungjawab dengan sebaik-baiknya dan sentiasa dapat mematuhi tuntuhan-tuntuhan rohani dan jasmaninya dengan terkawal. Aspekaspek rohani dan jasmani manusia yang terdiri daripada empat perkara asas iaitu akal fikiran, roh, jasad dan syahwat akan dapat dididik dan dipandu berdasarkan fitrah sebenar berdasarkan fungsi kejadian manusia itu sendiri sebagai makhluk istimewa dan khalifah Allah yang diamanahkan untuk memakmurkan bumi ini.
Penutup
Demikianlah antara beberapa keperibadian bunggul bagi melahirkan insan yang unggul serta kesan kesan yang dapat dilahirkan oleh mereka dalam kehidupannya samaada kepada diri sendiri dan penghidupannya dan manusia di sekelilingnya hasil daripada amalan terhadap nilai-nilai yang unggul seperti yang telah dinyatakan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
