199. Samura Ibnu Jundub r.a.meriwayatkan : Rasulullah SAW sering sekali bertanya kepada sahabat-habatnya : adakah seseorang daripada kamu yang bermimpi ? maka salah satu daripada mereka akan menceritakan mimpinya dan Rasulullah SAW akan menjelaskannya. Suatu pagi Nabi SAW bersabda : malam tadi dua orang datang kepadaku (dalam mimpi ) dan membangunkan saya dan berkata : pergilah bersama dengan kami. Saya berangkat dengan mereka dan kami melewati seorang laki-laki yang berbaring, dan seorang lagi berdiri dari sebelah atas kepalanya, ia memagang batu karang yang besar, dan ia melemparkan batu itu ke kepala laki-laki ( yang sedang berbaring itu ) sehingga batu itu meremukkan kepalanya. Batu itu terlempar jauh sehingga sampai ke hujung jalan, kemudian orang yang melempar itu menyusulnya dan membawa batu itu kembali ketika dia sampai kepada orang itu, kepalanya telah pulih dalam keadaannya yang normal. Pelempar itu kemudian melakukan hal yang sama sebagaimana ia telah lakukan sebelumnya. Saya bertanya kepada sahabat-sahabatku Subhanallah siapakah kedua orang ini ? mereka berkata : Mari kita berjalan terus ! Maka kami meneruskan perjalanan dan kami datang kepada seorang laki-laki yang sedang berbaring diatas belakangnya; dan seorang laki-laki yang lain berdiri sebelah atas kepalanya dengan sebuah kail besi , dan ia meletakkan kail itu dari satu sisi mulut laki-laki itu, menrobek pipi salah satu daripada mukanya, hidungnya dan matanya sampai ke tengkuk, dan demikian pula ia melakukan hal yang sama pada pipi sebelah yang lain. Ketika ia mencabik-cabik salah satu bagian dari muka orang itu bagian yang satu telah kembali dalam keadaan yang normal, kemudian ia kembali kepada bagian yang pertama utuk mengulanginya. Saya bertanya kepada kedua sahabatku : Subhanallah ! Siapakah kedua orang ini ? Mereka meminta saya untuk pergi kemudian kami meneruskan perjalanan dan kami sampai pada sesuatu seperti tannur ( semacam oven bakar, sebuah lobang yang biasanya terbuat dari tanah untuk membakkar roti. Rasulullah SAW bersabda : Dalam oven itu terdengar suara ribut dan jeritan. Kami melihat ke dalamnya dan mendapatkan laki-laki dan wanita dalam keadaan telanjang dan nyala api yang sampai kepada mereka dari bawah, dan apabila api itu sampai kepada mereka mereka menjerit dengna suara yang keras. Saya bertanya kepada mereka ; Siapakah mereka ini ? Mereka meminta saya untuk pergi, maka kami meneruskan perjalanan. Kemudian kami datang sampai kesebuah sungai yang berwarna merah seperti darah. Rasuklullah SAW menmbahkan : dan sesungguhnya ! dalam sungai itu ada seorang laki-laki yang sedang berenang, dan pada tepinya ada seorang laki-laki yang sudah mengumpulkan batu-batu. Lelaki yang sedang berenang itu datang mendekat kepada laki-laki dengan batu-batu itu. Orang yang terdahulu membuka mulutnya dan orang yang kemudian ( yang berada pada tepi sungai ) melemparkan batu kedalam mulutnya, kemudian dia pergi dan berenang kembali. Ia kembali, dan setiap kali ini di ulangi. Saya bertanya kepada kedua sahabatku : siapakah mereka ? mereka berkata kepadakku : Teruskan! Teruskan ! maka kami meneruskan perjalanan sehingga kami datang pada seorang laki-laki dengan wajah yag menjijikkan, wajah yang sangat menjijikkan yang tak pernah terlihat ! selain dia ada api dan ia sedang menyalahkannya dan berlari mengelilingi api itu. Saya bertanya sahabat-sahabatku : siapakah orang ini ? mereka berkata kepadaku : teruskan–teruskan maka kami meneruskan perjalanan sehingga kami sampai pada sebuah taman yang daun hijaunya sangat lebat, yang memiliki warna dari semua sumber. Ditengah-tengah kebun itu ada seorang laki-laki yang sangat tinggi dan saya dpat melihat kepalanya ; karena sangat tinggi, dan disekelilingnya ada kanak-kanak dalam jumlah yang besar yang tidak pernah saya liha sesuatu seperti itu. Saya bertanya kepada sahabat-sahaatku : siapakah ini? Mereka menjawab : teruskan teruskan ! maka kami teruskan perjalanan sehingga kami datang kepada sebuah taman yyang sangat anggun, lebih besar dan lebih baik daripada yang pernah saya lihat ! kedua sahabatku berkata kepadaku : pergilah dan naiklah. Rasulullah SAW menampakkan : maka kami naik sehingga kami mendapati sebuah kota yang dibangun daripada emas yang bata-batannya terbuat dari emas dan perak, dan kami pergi kegerbangnya, dan pintunya terbuka maka kami masuk dalam kota itu, dan kami mendapatkan di dalamnya laki-laki dengan separuh badannya sangat tampan sebagaimana orang yang paling tampan yang pernah engkau lihat. Separuh yang lain badan mereka sejelek orang yang paling jelek yang pernah kamu lihat. Kedua sahabat ku memerintahkan orang-orang ini untuk terjun kedalam sungai itu sesungguhnya ada sebuah sungai yang mengalir ( melewati ) yang airnya putih seperti susu. Orang–orang yang pergi dan mencelupkan didalamnya dan kemudian kembali kepada kami dengan kejelekkan mereka yang tertutup dan menjadi tampan keseluruhannya. Rasulullah SAW menambahkan : Kedua sahabat-sahabatku kemudian sambil menunjuk berkata kepada ku, itulah tempat buat kamu, yaitu Jannatul And . Saya mengangkat pandangan saya dan sesuungguhnya saya melihat disana sebuah mahligai seperti awan putih ! Kemudian kedua sahabat iu berkata kepadaku : bahwa istana itu adalah kepunyaanmu. Saya berkata kepada mereka. بارك الله فيكما Artinya : Semoga Allah memberkahi kalian berdua ! ijinkan saya untuk masuk kedalamnya. Mereka menjawab : Buka sekarang, tetapi engkau akan memasukinya ( pada suatu hari ). Saya berkata kepada mereka : saya telah melihat banyak kejadian pada malam ini. Apa kah makna dari semua ini ? Mereka menjawab : Kami akan memberitahu kamu : Peristiwa orang pertama yang kamu lalui, kepalanya sedang di lempari dengan batu, ia adalah simbol seoorang yang mempelajari Al Qur’an dan kemudian tidak membacanya atau tidak beramal dengan perintah-perintahnya, dan tidur tanpa mengerjakan shalat. Dan bagi orng kamu lalui keatasnya kedua sisi mulutnya, hidung dan matanya disobek dari depan ke belakang, ia adalah simbol laki-laki yang kleuar darai rumahnya pada waktu pagi dan menyebarkan kebohongan-kebohongan yang menyebar keseluruh dunia. Dan laki-laki dan perempuan yag telanjang itu, yang kamu lihat dalam oven seperti bangunan adalah pezina laki-laki dan wanita. Laki-laki yang engkau lihat sedang berenang disungai dan yag diberikan batu unuk dietelan adalah pemakan riba , dan laki-laki yang kelihatan jelek yang kamu lihat dekat api yang sedang dinnyalakannya dan pergi mengelilinginya adalah Malik penjaga neraka, dan laki-laki yang tinggi yang engkau melihatnya dalam taman adalah Ibrahim a.s., dan kanak-kanak yang mengelilinginya adalah kanak-kanak yang mati dalam keadaan fitrah. Periwayat menambahkan : Sebagian orang islam bertanya kepada nabi SAW wahai Rasulullah ! bagaimanakah dengan kanak-kanak orang musrikin, yang mana Rasulullah menjawab : dan juga kanak-kanak orang musrikin. Rasulullah saw menambahkan : orang yang engkau lihat separuh tampan dan separuh jelek, adalah orang-orang yang bersama dengan amalan-amalan baik memiliki juga amalan-amalan yang buruk akan tetapi Allah mengampuni mereka. ( HR.Bukhari )
Percakapan Laa ilaa ha ilallah
Monday, December 31, 2012
Fadhilat Menikah
“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)
“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21)
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat 49)
“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra 32)
“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur 26)
“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An Nisaa : 4)
“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)
“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi)
“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat) dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah syaithan” (Al Hadits)
“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)
“Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas ra).
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syetan” (Al Hadits)
“Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)
“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” (H.R. At-Turmidzi)
“Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada separuh yang lain” (Al Hadits)
“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits)
“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)
“Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)
“Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)
“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)
“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)
“Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Ya،¦la dan Thabrani)
“Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)
“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)
“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)
“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)
“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)
“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)
“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)
“Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad)
“Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)
“Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21)
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat 49)
“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra 32)
“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur 26)
“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An Nisaa : 4)
“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)
“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi)
“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat) dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah syaithan” (Al Hadits)
“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)
“Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas ra).
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syetan” (Al Hadits)
“Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)
“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” (H.R. At-Turmidzi)
“Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada separuh yang lain” (Al Hadits)
“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits)
“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)
“Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)
“Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)
“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)
“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)
“Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Ya،¦la dan Thabrani)
“Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)
“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)
“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)
“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)
“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)
“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)
“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)
“Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad)
“Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)
“Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sunday, December 30, 2012
Iman dan Amal Soleh Adalah Seiring
Iman dan Amal Soleh Adalah Seiring
Posted by Khairul Rashidi on Thursday, October 1, 2009
Hadith Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:”Iman dan amal adalah dua perkara yang seiring.” Riwayat Al-hakim
Huraian
Pengajaran hadis:
i) Iman mengikut pengertian syarak adalah keyakinan yang teguh dalam hati, mengakui dengan lidah dan melaksanakan dengan anggota. Inilah yang dinamakan ketaatan, amal yang soleh dan perlakuan yang baik.
ii) Seorang yang benar-benar beriman adalah mereka yang zahirnya sama dengan batinnya, mereka benar dalam keimanan dan ikhlas dalam melakukan amalan. Merekalah golongan ‘as-Sodiqun’ yang diperintah oleh Allah S.W.T agar kita sentiasa mendampingi mereka (bersahabat dengan mereka).
iii) Oleh sebab tingginya kedudukan iman maka Allah S.W.T telah menjadikan iman itu sebagai syarat asas penerimaan terhadap sesuatu amalan yang dilakukan di mana tidak akan ada satu amalan pun yang akan diterima oleh Allah melainkan setelah ada iman di dalam diri pelakunya.
iv) Sesiapa yang mendakwa beriman dengan lidahnya tetapi iman itu tidak meresap ke dalam hatinya maka dia merupakan orang yang munafiq. Ciri-ciri munafiq itu ialah kata-katanya bercanggah dengan perbuatannya dan amalannya ketika di khalayak ramai dan ketika dia bersendirian serta apa yang dizahirkannya adalah berbeza dengan apa yang disembunyikannya.
v) Iman dan amal soleh adalah seiring. Iman tidak akan sempurna tanpa amal soleh di mana Allah telah menyebutkan perkara ini sebanyak 60 kali di dalam al-Quran.
http://ii.islam.gov.my/hadith/hadith1.asp?keyID=205
Posted by Khairul Rashidi on Thursday, October 1, 2009
Hadith Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:”Iman dan amal adalah dua perkara yang seiring.” Riwayat Al-hakim
Huraian
Pengajaran hadis:
i) Iman mengikut pengertian syarak adalah keyakinan yang teguh dalam hati, mengakui dengan lidah dan melaksanakan dengan anggota. Inilah yang dinamakan ketaatan, amal yang soleh dan perlakuan yang baik.
ii) Seorang yang benar-benar beriman adalah mereka yang zahirnya sama dengan batinnya, mereka benar dalam keimanan dan ikhlas dalam melakukan amalan. Merekalah golongan ‘as-Sodiqun’ yang diperintah oleh Allah S.W.T agar kita sentiasa mendampingi mereka (bersahabat dengan mereka).
iii) Oleh sebab tingginya kedudukan iman maka Allah S.W.T telah menjadikan iman itu sebagai syarat asas penerimaan terhadap sesuatu amalan yang dilakukan di mana tidak akan ada satu amalan pun yang akan diterima oleh Allah melainkan setelah ada iman di dalam diri pelakunya.
iv) Sesiapa yang mendakwa beriman dengan lidahnya tetapi iman itu tidak meresap ke dalam hatinya maka dia merupakan orang yang munafiq. Ciri-ciri munafiq itu ialah kata-katanya bercanggah dengan perbuatannya dan amalannya ketika di khalayak ramai dan ketika dia bersendirian serta apa yang dizahirkannya adalah berbeza dengan apa yang disembunyikannya.
v) Iman dan amal soleh adalah seiring. Iman tidak akan sempurna tanpa amal soleh di mana Allah telah menyebutkan perkara ini sebanyak 60 kali di dalam al-Quran.
http://ii.islam.gov.my/hadith/hadith1.asp?keyID=205
Bencana Turun Ketika Umat Tidak Buat Usaha Dakwah
Usaha dakwah seperti air hujan. Jika hujan di tempat yang kontang seperti padang pasir pun maka tempat itu akan subur menjadi wadi. Tetapi jika hujan tidak turun walaupun di tempat yang subur dan hijau, maka lambat laun tempat itu akan menjadi kontang dan mati.
Satu jemaah dari Pakistan telah dihantar ke Rusia dan telah bertemu dengan seorang ulama. Ulama itu menceritakan bahawa pada satu masa dulu semasa kominis, 60 ulama di tempatnya telah dibunuh dengan memasukkan mereka ke dalam mesin pemecah batu di lombong batu. Dia telah terselamat kerana sentiasa membawa botol arak sebagai helah. Selepas itu ulama tersebut telah menangis dan menangis dan berkata bahawa ulama2 tersebut telah dibunuh kerana tidak buat kerja seperti yang kamu buat sekarang.
Allah turunkan azab di tempat2 orang Islam untuk rotan umat ini kerana berlaku zalim. Zalim kerana tinggalkan perintah Allah yang utama untuk umat ini iaitu usaha dakwah. Kita kata Amerika & the gang zalim tetapi kitalah yang sebenarnya zalim.
Di akhirat nanti sebahagian dari umat ini akan dihalau sebanyak 3 kali dari telaga Kauthar oleh Nabi sendiri kerana ketika di dunia tidak pernah mengerutkan dahi apabila melihat kerosakan pada agama. Sekali halau mereka akan jauh dari Nabi sejauh mata memandang.
Allah telah beri diri dan harta kepada kita supaya dapat digunakan untuk membina dan memajukan agama. Tetapi bila diri dan harta disalah guna maka akan jadi penyakit dan masalah. Sama seperti penggunaan dadah pada asalnya adalah sebagai ubat tetapi bila disalah guna akan jadi sebab kerosakan. Bila umat ini guna diri dan harta untuk agama maka agama akan maju tetapi bila guna untuk dunia maka dunia akan maju.
Jemaah pertama yang dihantar ke Perancis adalah jemaah dari Bangladesh pada tahun 1983. Pada masa itu tiada satu masjid pun di sana walaupun ada 4 juta orang Arab. Jemaah telah menyewa sebuah bilik dan memulakan usaha di sana. Sekarang telah ada 2000 buah masjid. Markas di St Denim setinggi 3 tingkat akan penuh setiap kali azan dilaungkan.
Elders kata bila usaha Nabi dibuat maka kota London & Paris akan bertukar seperti kota Mekah & Madinah iaitu hidupnya amalan agama. Tetapi bila usaha tak dibuat maka kota Mekah & Madinah akan menjdi seperti kota London & Paris iaitu tempat bershopping.
Di markas London telah boleh azan menggunakan loudspeaker. Gereja2 banyak ditukar kepada masjid. Gereja dibeli dengan harga murah kerana tiada sambutan orang ramai walaupun loceng dibunyikan setiap hari. Bukan puluhan tapi ratusan gereja ditukar sehingga perlimen Britain mengharamkan penjualan gereja kepada mana2 badan. Kiblat gereja adalah ke masjidil Aqsa, jadi bila ditukar kepada masjid maka kedudukan kiblat diubah beberapa darjah sahaja ke kanan iaitu ke arah kaabah.
Sepanyol dulunya adalah negara Islam tetapi bila usaha Nabi ditinggalkan maka masjid2 telah menjadi muzium, gudang, kilang dan sebagainya. Berkat dari usaha jemaah2 yang bergerak maka sekarang masjid Cardoba di Sepanyol yang sekarang telah menjadi muzium dan bar telah dibuka sedikit ruang untuk kegunaan orang Islam menunaikan solat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan Sepanyol ubah masjid Cordoba dari muzium dan bar kepada masjid sebenar maka ini tak akan berjaya. Tetapi dengan usaha Nabi, sedikit demi sedikit Allah buat perubahan.
Ada tempat2 lain yang tiada masjid, bila jemaah dihantar ke sana maka orang Islam di sana mula bartaubat dan bersolat serta mengamalkan agama. Mereka bersolat di jalan2, di taman2 dan di mana sahaja sehingga kerajaan tempatan di situ terpaksa buat masjid untuk orang Islam beribadat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan tu buat masjid maka tak akan berjaya.
Bila kaum wanita ada fikir agama maka mereka akan didik anak2 cara hidup agama. Halakah ta’lim dan muzakarah sifat sahabat perlu dibuat di rumah setiap hari selama satu jam supaya dapat tanam jiwa agama kepada anak2. Jika tidak anak2 akan terpengaruh dengan kartun, robot, hantu dan lain-lain. Wanita juga akan jadi penggalak suami dan anak2 untuk beri pengorbanan untuk agama dan keluar di jalan Allah. Seperti isteri2 Nabi dan sahabat yang galakkan suami dan anak2 mereka.
Yakinlah bahawa setiap susah payah kita untuk agama akan pasti diganjari oleh Allah di akhirat dengan ganjaran yang besar. Setiap amal yang dibuat ketika keluar di jalan Allah akan digandakan sekurang2nya 700,000 kali ganda malah lebih lagi.
Untuk belajar usaha ini maka kita kita diminta keluar jemaah masturat 3 hari, 10 atau 15 hari dan 40 hari IPB.
Satu jemaah dari Pakistan telah dihantar ke Rusia dan telah bertemu dengan seorang ulama. Ulama itu menceritakan bahawa pada satu masa dulu semasa kominis, 60 ulama di tempatnya telah dibunuh dengan memasukkan mereka ke dalam mesin pemecah batu di lombong batu. Dia telah terselamat kerana sentiasa membawa botol arak sebagai helah. Selepas itu ulama tersebut telah menangis dan menangis dan berkata bahawa ulama2 tersebut telah dibunuh kerana tidak buat kerja seperti yang kamu buat sekarang.
Allah turunkan azab di tempat2 orang Islam untuk rotan umat ini kerana berlaku zalim. Zalim kerana tinggalkan perintah Allah yang utama untuk umat ini iaitu usaha dakwah. Kita kata Amerika & the gang zalim tetapi kitalah yang sebenarnya zalim.
Di akhirat nanti sebahagian dari umat ini akan dihalau sebanyak 3 kali dari telaga Kauthar oleh Nabi sendiri kerana ketika di dunia tidak pernah mengerutkan dahi apabila melihat kerosakan pada agama. Sekali halau mereka akan jauh dari Nabi sejauh mata memandang.
Allah telah beri diri dan harta kepada kita supaya dapat digunakan untuk membina dan memajukan agama. Tetapi bila diri dan harta disalah guna maka akan jadi penyakit dan masalah. Sama seperti penggunaan dadah pada asalnya adalah sebagai ubat tetapi bila disalah guna akan jadi sebab kerosakan. Bila umat ini guna diri dan harta untuk agama maka agama akan maju tetapi bila guna untuk dunia maka dunia akan maju.
Jemaah pertama yang dihantar ke Perancis adalah jemaah dari Bangladesh pada tahun 1983. Pada masa itu tiada satu masjid pun di sana walaupun ada 4 juta orang Arab. Jemaah telah menyewa sebuah bilik dan memulakan usaha di sana. Sekarang telah ada 2000 buah masjid. Markas di St Denim setinggi 3 tingkat akan penuh setiap kali azan dilaungkan.
Elders kata bila usaha Nabi dibuat maka kota London & Paris akan bertukar seperti kota Mekah & Madinah iaitu hidupnya amalan agama. Tetapi bila usaha tak dibuat maka kota Mekah & Madinah akan menjdi seperti kota London & Paris iaitu tempat bershopping.
Di markas London telah boleh azan menggunakan loudspeaker. Gereja2 banyak ditukar kepada masjid. Gereja dibeli dengan harga murah kerana tiada sambutan orang ramai walaupun loceng dibunyikan setiap hari. Bukan puluhan tapi ratusan gereja ditukar sehingga perlimen Britain mengharamkan penjualan gereja kepada mana2 badan. Kiblat gereja adalah ke masjidil Aqsa, jadi bila ditukar kepada masjid maka kedudukan kiblat diubah beberapa darjah sahaja ke kanan iaitu ke arah kaabah.
Sepanyol dulunya adalah negara Islam tetapi bila usaha Nabi ditinggalkan maka masjid2 telah menjadi muzium, gudang, kilang dan sebagainya. Berkat dari usaha jemaah2 yang bergerak maka sekarang masjid Cardoba di Sepanyol yang sekarang telah menjadi muzium dan bar telah dibuka sedikit ruang untuk kegunaan orang Islam menunaikan solat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan Sepanyol ubah masjid Cordoba dari muzium dan bar kepada masjid sebenar maka ini tak akan berjaya. Tetapi dengan usaha Nabi, sedikit demi sedikit Allah buat perubahan.
Ada tempat2 lain yang tiada masjid, bila jemaah dihantar ke sana maka orang Islam di sana mula bartaubat dan bersolat serta mengamalkan agama. Mereka bersolat di jalan2, di taman2 dan di mana sahaja sehingga kerajaan tempatan di situ terpaksa buat masjid untuk orang Islam beribadat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan tu buat masjid maka tak akan berjaya.
Bila kaum wanita ada fikir agama maka mereka akan didik anak2 cara hidup agama. Halakah ta’lim dan muzakarah sifat sahabat perlu dibuat di rumah setiap hari selama satu jam supaya dapat tanam jiwa agama kepada anak2. Jika tidak anak2 akan terpengaruh dengan kartun, robot, hantu dan lain-lain. Wanita juga akan jadi penggalak suami dan anak2 untuk beri pengorbanan untuk agama dan keluar di jalan Allah. Seperti isteri2 Nabi dan sahabat yang galakkan suami dan anak2 mereka.
Yakinlah bahawa setiap susah payah kita untuk agama akan pasti diganjari oleh Allah di akhirat dengan ganjaran yang besar. Setiap amal yang dibuat ketika keluar di jalan Allah akan digandakan sekurang2nya 700,000 kali ganda malah lebih lagi.
Untuk belajar usaha ini maka kita kita diminta keluar jemaah masturat 3 hari, 10 atau 15 hari dan 40 hari IPB.
Bayan Masturot: Alloh Turunkan Bencana Ketika Umat Tidak Buat Usaha Dakwah
Filed under: Bayan Masturoh, Iman dan Amal Soleh — Tinggalkan Komentar 9 April 2011Posted on 2 Maret 2010 by dalamdakwah
Usaha dakwah seperti air hujan. Jika hujan di tempat yang kontang seperti padang pasir pun maka tempat itu akan subur menjadi wadi. Tetapi jika hujan tidak turun walaupun di tempat yang subur dan hijau, maka lambat laun tempat itu akan menjadi kontang dan mati.
Satu jemaah dari Pakistan telah dihantar ke Rusia dan telah bertemu dengan seorang ulama. Ulama itu menceritakan bahawa pada satu masa dulu semasa kominis, 60 ulama di tempatnya telah dibunuh dengan memasukkan mereka ke dalam mesin pemecah batu di lombong batu. Dia telah terselamat kerana sentiasa membawa botol arak sebagai helah. Selepas itu ulama tersebut telah menangis dan menangis dan berkata bahawa ulama2 tersebut telah dibunuh kerana tidak buat kerja seperti yang kamu buat sekarang.
Allah turunkan azab di tempat2 orang Islam untuk rotan umat ini kerana berlaku zalim. Zalim kerana tinggalkan perintah Allah yang utama untuk umat ini iaitu usaha dakwah. Kita kata Amerika & the gang zalim tetapi kitalah yang sebenarnya zalim.
Di akhirat nanti sebahagian dari umat ini akan dihalau sebanyak 3 kali dari telaga Kauthar oleh Nabi sendiri kerana ketika di dunia tidak pernah mengerutkan dahi apabila melihat kerosakan pada agama. Sekali halau mereka akan jauh dari Nabi sejauh mata memandang.
Allah telah beri diri dan harta kepada kita supaya dapat digunakan untuk membina dan memajukan agama. Tetapi bila diri dan harta disalah guna maka akan jadi penyakit dan masalah. Sama seperti penggunaan dadah pada asalnya adalah sebagai ubat tetapi bila disalah guna akan jadi sebab kerosakan. Bila umat ini guna diri dan harta untuk agama maka agama akan maju tetapi bila guna untuk dunia maka dunia akan maju.
Jemaah pertama yang dihantar ke Perancis adalah jemaah dari Bangladesh pada tahun 1983. Pada masa itu tiada satu masjid pun di sana walaupun ada 4 juta orang Arab. Jemaah telah menyewa sebuah bilik dan memulakan usaha di sana. Sekarang telah ada 2000 buah masjid. Markas di St Denim setinggi 3 tingkat akan penuh setiap kali azan dilaungkan.
Elders kata bila usaha Nabi dibuat maka kota London & Paris akan bertukar seperti kota Mekah & Madinah iaitu hidupnya amalan agama. Tetapi bila usaha tak dibuat maka kota Mekah & Madinah akan menjdi seperti kota London & Paris iaitu tempat bershopping.
Di markas London telah boleh azan menggunakan loudspeaker. Gereja2 banyak ditukar kepada masjid. Gereja dibeli dengan harga murah kerana tiada sambutan orang ramai walaupun loceng dibunyikan setiap hari. Bukan puluhan tapi ratusan gereja ditukar sehingga perlimen Britain mengharamkan penjualan gereja kepada mana2 badan. Kiblat gereja adalah ke masjidil Aqsa, jadi bila ditukar kepada masjid maka kedudukan kiblat diubah beberapa darjah sahaja ke kanan iaitu ke arah kaabah.
Sepanyol dulunya adalah negara Islam tetapi bila usaha Nabi ditinggalkan maka masjid2 telah menjadi muzium, gudang, kilang dan sebagainya. Berkat dari usaha jemaah2 yang bergerak maka sekarang masjid Cardoba di Sepanyol yang sekarang telah menjadi muzium dan bar telah dibuka sedikit ruang untuk kegunaan orang Islam menunaikan solat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan Sepanyol ubah masjid Cordoba dari muzium dan bar kepada masjid sebenar maka ini tak akan berjaya. Tetapi dengan usaha Nabi, sedikit demi sedikit Allah buat perubahan.
Ada tempat2 lain yang tiada masjid, bila jemaah dihantar ke sana maka orang Islam di sana mula bartaubat dan bersolat serta mengamalkan agama. Mereka bersolat di jalan2, di taman2 dan di mana sahaja sehingga kerajaan tempatan di situ terpaksa buat masjid untuk orang Islam beribadat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan tu buat masjid maka tak akan berjaya.
Bila kaum wanita ada fikir agama maka mereka akan didik anak2 cara hidup agama. Halakah ta’lim dan muzakarah sifat sahabat perlu dibuat di rumah setiap hari selama satu jam supaya dapat tanam jiwa agama kepada anak2. Jika tidak anak2 akan terpengaruh dengan kartun, robot, hantu dan lain-lain. Wanita juga akan jadi penggalak suami dan anak2 untuk beri pengorbanan untuk agama dan keluar di jalan Allah. Seperti isteri2 Nabi dan sahabat yang galakkan suami dan anak2 mereka.
Yakinlah bahawa setiap susah payah kita untuk agama akan pasti diganjari oleh Allah di akhirat dengan ganjaran yang besar. Setiap amal yang dibuat ketika keluar di jalan Allah akan digandakan sekurang2nya 700,000 kali ganda malah lebih lagi.
Untuk belajar usaha ini maka kita kita diminta keluar jemaah masturat 3 hari, 10 atau 15 hari dan 40 hari IPB.
Filed under: Bayan Masturoh, Iman dan Amal Soleh — Tinggalkan Komentar 9 April 2011Posted on 2 Maret 2010 by dalamdakwah
Usaha dakwah seperti air hujan. Jika hujan di tempat yang kontang seperti padang pasir pun maka tempat itu akan subur menjadi wadi. Tetapi jika hujan tidak turun walaupun di tempat yang subur dan hijau, maka lambat laun tempat itu akan menjadi kontang dan mati.
Satu jemaah dari Pakistan telah dihantar ke Rusia dan telah bertemu dengan seorang ulama. Ulama itu menceritakan bahawa pada satu masa dulu semasa kominis, 60 ulama di tempatnya telah dibunuh dengan memasukkan mereka ke dalam mesin pemecah batu di lombong batu. Dia telah terselamat kerana sentiasa membawa botol arak sebagai helah. Selepas itu ulama tersebut telah menangis dan menangis dan berkata bahawa ulama2 tersebut telah dibunuh kerana tidak buat kerja seperti yang kamu buat sekarang.
Allah turunkan azab di tempat2 orang Islam untuk rotan umat ini kerana berlaku zalim. Zalim kerana tinggalkan perintah Allah yang utama untuk umat ini iaitu usaha dakwah. Kita kata Amerika & the gang zalim tetapi kitalah yang sebenarnya zalim.
Di akhirat nanti sebahagian dari umat ini akan dihalau sebanyak 3 kali dari telaga Kauthar oleh Nabi sendiri kerana ketika di dunia tidak pernah mengerutkan dahi apabila melihat kerosakan pada agama. Sekali halau mereka akan jauh dari Nabi sejauh mata memandang.
Allah telah beri diri dan harta kepada kita supaya dapat digunakan untuk membina dan memajukan agama. Tetapi bila diri dan harta disalah guna maka akan jadi penyakit dan masalah. Sama seperti penggunaan dadah pada asalnya adalah sebagai ubat tetapi bila disalah guna akan jadi sebab kerosakan. Bila umat ini guna diri dan harta untuk agama maka agama akan maju tetapi bila guna untuk dunia maka dunia akan maju.
Jemaah pertama yang dihantar ke Perancis adalah jemaah dari Bangladesh pada tahun 1983. Pada masa itu tiada satu masjid pun di sana walaupun ada 4 juta orang Arab. Jemaah telah menyewa sebuah bilik dan memulakan usaha di sana. Sekarang telah ada 2000 buah masjid. Markas di St Denim setinggi 3 tingkat akan penuh setiap kali azan dilaungkan.
Elders kata bila usaha Nabi dibuat maka kota London & Paris akan bertukar seperti kota Mekah & Madinah iaitu hidupnya amalan agama. Tetapi bila usaha tak dibuat maka kota Mekah & Madinah akan menjdi seperti kota London & Paris iaitu tempat bershopping.
Di markas London telah boleh azan menggunakan loudspeaker. Gereja2 banyak ditukar kepada masjid. Gereja dibeli dengan harga murah kerana tiada sambutan orang ramai walaupun loceng dibunyikan setiap hari. Bukan puluhan tapi ratusan gereja ditukar sehingga perlimen Britain mengharamkan penjualan gereja kepada mana2 badan. Kiblat gereja adalah ke masjidil Aqsa, jadi bila ditukar kepada masjid maka kedudukan kiblat diubah beberapa darjah sahaja ke kanan iaitu ke arah kaabah.
Sepanyol dulunya adalah negara Islam tetapi bila usaha Nabi ditinggalkan maka masjid2 telah menjadi muzium, gudang, kilang dan sebagainya. Berkat dari usaha jemaah2 yang bergerak maka sekarang masjid Cardoba di Sepanyol yang sekarang telah menjadi muzium dan bar telah dibuka sedikit ruang untuk kegunaan orang Islam menunaikan solat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan Sepanyol ubah masjid Cordoba dari muzium dan bar kepada masjid sebenar maka ini tak akan berjaya. Tetapi dengan usaha Nabi, sedikit demi sedikit Allah buat perubahan.
Ada tempat2 lain yang tiada masjid, bila jemaah dihantar ke sana maka orang Islam di sana mula bartaubat dan bersolat serta mengamalkan agama. Mereka bersolat di jalan2, di taman2 dan di mana sahaja sehingga kerajaan tempatan di situ terpaksa buat masjid untuk orang Islam beribadat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan tu buat masjid maka tak akan berjaya.
Bila kaum wanita ada fikir agama maka mereka akan didik anak2 cara hidup agama. Halakah ta’lim dan muzakarah sifat sahabat perlu dibuat di rumah setiap hari selama satu jam supaya dapat tanam jiwa agama kepada anak2. Jika tidak anak2 akan terpengaruh dengan kartun, robot, hantu dan lain-lain. Wanita juga akan jadi penggalak suami dan anak2 untuk beri pengorbanan untuk agama dan keluar di jalan Allah. Seperti isteri2 Nabi dan sahabat yang galakkan suami dan anak2 mereka.
Yakinlah bahawa setiap susah payah kita untuk agama akan pasti diganjari oleh Allah di akhirat dengan ganjaran yang besar. Setiap amal yang dibuat ketika keluar di jalan Allah akan digandakan sekurang2nya 700,000 kali ganda malah lebih lagi.
Untuk belajar usaha ini maka kita kita diminta keluar jemaah masturat 3 hari, 10 atau 15 hari dan 40 hari IPB.
Thursday, December 27, 2012
The First Caliph: Abu Bakr As-Sideeq
(632-634 A.C.)
"If I were to take a friend other than my Lord, I would take Abu Bakr as a friend." [Hadith]
Election to the Caliphate
The Prophet's closest Companion, Abu Bakr, was not present when the Holy Prophet (peace be on him) breathed his last in the apartment of his beloved wife of later years, Aisha, Abu Bakr's daughter. When he came to know of the Prophet's passing, Abu Bakr hurried to the house of sorrow.
"How blessed was your life and how beatific is your death," he whispered as he kissed the cheek of his beloved friend and master who now was no more.
When Abu Bakr came out of the Prophet's apartment and broke the news, disbelief and dismay gripped the community of Muslims in Medina. Muhammad (peace be on him) had been the leader, the guide and the bearer of Divine revelation through whom they had been brought from idolatry and barbarism into the way of God. How could he die? Even Umar, one of the bravest and strongest of the Prophet's Companions, lost his composure and drew his sword and threatened to kill anyone who said that the Prophet was dead. Abu Bakr gently pushed him aside, ascended the steps of the lectern in the mosque and addressed the people, saying
"O people, verily whoever worshipped Muhammad, behold! Muhammad is indeed dead. But whoever worships God, behold! God is alive and will never die."
And then he concluded with a verse from the Qur'an:
"And Muhammad is but a Messenger. Many Messengers have gone before him; if then he dies or is killed, will you turn back upon your heels?" [3:144]
On hearing these words, the people were consoled. Despondency gave place to confidence and tranquility. This critical moment had passed. But the Muslim community was now faced with an extremely serious problem: that of choosing a leader. After some discussion among the Companions of the Prophet who had assembled in order to select a leader, it became apparent that no one was better suited for this responsibility than Abu Bakr. A portion of the speech the First Caliph gave after his election has already been quoted in the introduction.
Abu Bakr's Life
Abu Bakr ('The Owner of Camels') was not his real name. He acquired this name later in life because of his great interest in raising camels. His real name was Abdul Ka'aba ('Slave of Ka'aba'), which Muhammad (peace be on him) later changed to Abdullah ('Slave of God'). The Prophet also gave him the title of 'Siddiq' - 'The Testifier to the Truth.'
Abu Bakr was a fairly wealthy merchant, and before he embraced Islam, was a respected citizen of Mecca. He was three years younger than Muhammad (peace be on him) and some natural affinity drew them together from earliest child hood. He remained the closest Companion of the Prophet all through the Prophet's life. When Muhammad first invited his closest friends and relatives to Islam, Abu Bakr was among the earliest to accept it. He also persuaded Uthman and Bilal to accept Islam. In the early days of the Prophet's mission, when the handful of Muslims were subjected to relentless persecution and torture, Abu Bakr bore his full share of hardship. Finally when God's permission came to emigrate from Mecca, he was the one chosen by the Prophet to accompany him on the dangerous journey to Medina. In the numerous battles which took place during the life of the Prophet, Abu Bakr was always by his side. Once, he brought all his belongings to the Prophet, who was raising money for the defense of Medina. The Prophet asked "Abu Bakr, what did you leave for your family?" The reply came: "God and His Prophet."
Even before Islam, Abu Bakr was known to be a man of upright character and amiable and compassionate nature. All through his life he was sensitive to human suffering and kind to the poor and helpless. Even though he was wealthy, he lived very simply and spent his money for charity, for freeing slaves and for the cause of Islam. He often spent part of the night in supplication and prayer. He shared with his family a cheerful and affectionate home life.
Abu-Bakr's Caliphate
Such, then, was the man upon whom the burden of leadership fell at the most sensitive period in the history of the Muslims.
As the news of the Prophet's death spread, a number of tribes rebelled and refused to pay Zakat (poor-due), saying that this was due only to the Prophet (peace be on him). At the same time a number of impostors claimed that the prophethood had passed to them after Muhammad and they raised the standard of revolt. To add to all this, two powerful empires, the Eastern Roman and the Persian, also threatened the new-born Islamic state at Medina.
Under these circumstances, many Companions of the Prophet, including Umar, advised Abu Bakr to make concessions to the Zakat evaders, at least for a time. The new Caliph disagreed. He insisted that the Divine Law cannot be divided, that there is no distinction between the obligations of Zakat and Salat (prayer), and that any compromise with the injunctions of God would eventually erode the foundations of Islam. Umar and others were quick to realize their error of judgment. The revolting tribes attacked Medina but the Muslims were prepared. Abu Bakr himself led the charge, forcing them to retreat. He then made a relentless war on the false claimants to prophethood, most of whom submitted and again professed lslam.
The threat from the Roman Empire had actually arisen earlier, during the Prophet's lifetime. The Prophet had organized an army under the command of Usama, the son of a freed slave. The army had not gone far when the Prophet had fallen ill so they stopped. After the death of the Prophet the question was raised whether the army should be sent again or should remain for the defence of Medina. Again Abu Bakr showed a firm determination. He said, "I shall send Usama's army on its way as ordered by the Prophet, even if I am left alone."
The final instructions he gave to Usama prescribed a code of conduct in war which remains unsurpassed to this day. Part of his instructions to the Muslim army were:
"Do not be deserters, nor be guilty of disobedience. Do not kill an old man, a woman or a child. Do not injure date palms and do not cut down fruit trees. Do not slaughter any sheep or cows or camels except for food. You will encounter persons who spend their lives in monasteries. Leave them alone and do not molest them."
Khalid bin Waleed had been chosen by the Prophet (peace be on him) on several occasions to lead Muslim armies. A man of supreme courage and a born leader, his military genius came to full flower during the Caliphate of Abu Bakr. Throughout Abu Bakr's reign Khalid led his troops from one victory to another against the attacking Romans.
Another contribution of Abu Bakr to the cause of Islam was the collection and compilation of the verses of the Qur'an.
Abu Bakr died on 21 Jamadi-al Akhir, 13 A.H. (23 August 634 A.C.), at the age of sixty-three, and was buried by the side of the Holy Prophet (peace be on him). His caliphate had been of a mere twenty-seven months duration. In this brief span, however, Abu Bakr had managed, by the Grace of God, to strengthen and consolidate his community and the state, and to secure the Muslims against the perils which had threatened their existence.
"If I were to take a friend other than my Lord, I would take Abu Bakr as a friend." [Hadith]
Election to the Caliphate
The Prophet's closest Companion, Abu Bakr, was not present when the Holy Prophet (peace be on him) breathed his last in the apartment of his beloved wife of later years, Aisha, Abu Bakr's daughter. When he came to know of the Prophet's passing, Abu Bakr hurried to the house of sorrow.
"How blessed was your life and how beatific is your death," he whispered as he kissed the cheek of his beloved friend and master who now was no more.
When Abu Bakr came out of the Prophet's apartment and broke the news, disbelief and dismay gripped the community of Muslims in Medina. Muhammad (peace be on him) had been the leader, the guide and the bearer of Divine revelation through whom they had been brought from idolatry and barbarism into the way of God. How could he die? Even Umar, one of the bravest and strongest of the Prophet's Companions, lost his composure and drew his sword and threatened to kill anyone who said that the Prophet was dead. Abu Bakr gently pushed him aside, ascended the steps of the lectern in the mosque and addressed the people, saying
"O people, verily whoever worshipped Muhammad, behold! Muhammad is indeed dead. But whoever worships God, behold! God is alive and will never die."
And then he concluded with a verse from the Qur'an:
"And Muhammad is but a Messenger. Many Messengers have gone before him; if then he dies or is killed, will you turn back upon your heels?" [3:144]
On hearing these words, the people were consoled. Despondency gave place to confidence and tranquility. This critical moment had passed. But the Muslim community was now faced with an extremely serious problem: that of choosing a leader. After some discussion among the Companions of the Prophet who had assembled in order to select a leader, it became apparent that no one was better suited for this responsibility than Abu Bakr. A portion of the speech the First Caliph gave after his election has already been quoted in the introduction.
Abu Bakr's Life
Abu Bakr ('The Owner of Camels') was not his real name. He acquired this name later in life because of his great interest in raising camels. His real name was Abdul Ka'aba ('Slave of Ka'aba'), which Muhammad (peace be on him) later changed to Abdullah ('Slave of God'). The Prophet also gave him the title of 'Siddiq' - 'The Testifier to the Truth.'
Abu Bakr was a fairly wealthy merchant, and before he embraced Islam, was a respected citizen of Mecca. He was three years younger than Muhammad (peace be on him) and some natural affinity drew them together from earliest child hood. He remained the closest Companion of the Prophet all through the Prophet's life. When Muhammad first invited his closest friends and relatives to Islam, Abu Bakr was among the earliest to accept it. He also persuaded Uthman and Bilal to accept Islam. In the early days of the Prophet's mission, when the handful of Muslims were subjected to relentless persecution and torture, Abu Bakr bore his full share of hardship. Finally when God's permission came to emigrate from Mecca, he was the one chosen by the Prophet to accompany him on the dangerous journey to Medina. In the numerous battles which took place during the life of the Prophet, Abu Bakr was always by his side. Once, he brought all his belongings to the Prophet, who was raising money for the defense of Medina. The Prophet asked "Abu Bakr, what did you leave for your family?" The reply came: "God and His Prophet."
Even before Islam, Abu Bakr was known to be a man of upright character and amiable and compassionate nature. All through his life he was sensitive to human suffering and kind to the poor and helpless. Even though he was wealthy, he lived very simply and spent his money for charity, for freeing slaves and for the cause of Islam. He often spent part of the night in supplication and prayer. He shared with his family a cheerful and affectionate home life.
Abu-Bakr's Caliphate
Such, then, was the man upon whom the burden of leadership fell at the most sensitive period in the history of the Muslims.
As the news of the Prophet's death spread, a number of tribes rebelled and refused to pay Zakat (poor-due), saying that this was due only to the Prophet (peace be on him). At the same time a number of impostors claimed that the prophethood had passed to them after Muhammad and they raised the standard of revolt. To add to all this, two powerful empires, the Eastern Roman and the Persian, also threatened the new-born Islamic state at Medina.
Under these circumstances, many Companions of the Prophet, including Umar, advised Abu Bakr to make concessions to the Zakat evaders, at least for a time. The new Caliph disagreed. He insisted that the Divine Law cannot be divided, that there is no distinction between the obligations of Zakat and Salat (prayer), and that any compromise with the injunctions of God would eventually erode the foundations of Islam. Umar and others were quick to realize their error of judgment. The revolting tribes attacked Medina but the Muslims were prepared. Abu Bakr himself led the charge, forcing them to retreat. He then made a relentless war on the false claimants to prophethood, most of whom submitted and again professed lslam.
The threat from the Roman Empire had actually arisen earlier, during the Prophet's lifetime. The Prophet had organized an army under the command of Usama, the son of a freed slave. The army had not gone far when the Prophet had fallen ill so they stopped. After the death of the Prophet the question was raised whether the army should be sent again or should remain for the defence of Medina. Again Abu Bakr showed a firm determination. He said, "I shall send Usama's army on its way as ordered by the Prophet, even if I am left alone."
The final instructions he gave to Usama prescribed a code of conduct in war which remains unsurpassed to this day. Part of his instructions to the Muslim army were:
"Do not be deserters, nor be guilty of disobedience. Do not kill an old man, a woman or a child. Do not injure date palms and do not cut down fruit trees. Do not slaughter any sheep or cows or camels except for food. You will encounter persons who spend their lives in monasteries. Leave them alone and do not molest them."
Khalid bin Waleed had been chosen by the Prophet (peace be on him) on several occasions to lead Muslim armies. A man of supreme courage and a born leader, his military genius came to full flower during the Caliphate of Abu Bakr. Throughout Abu Bakr's reign Khalid led his troops from one victory to another against the attacking Romans.
Another contribution of Abu Bakr to the cause of Islam was the collection and compilation of the verses of the Qur'an.
Abu Bakr died on 21 Jamadi-al Akhir, 13 A.H. (23 August 634 A.C.), at the age of sixty-three, and was buried by the side of the Holy Prophet (peace be on him). His caliphate had been of a mere twenty-seven months duration. In this brief span, however, Abu Bakr had managed, by the Grace of God, to strengthen and consolidate his community and the state, and to secure the Muslims against the perils which had threatened their existence.
The Wives of the Prophet SAW
Umm Salamah Hind bint Abi Umayyah ibn al-Mughira
She was Umm Salamah Hind bint Abi Umayyah ibn al-Mughira. On her marriage with the Prophet, she was to stay in the house of Zainab bint Khuzaimah. There she found a jar full of barley, a hand-mill, some macaroni, and a pot containing a little butter. She milled some barley and prepared a meal for the Prophet and herself. That was all they took as a wedding-feast.
She was popularly known by the name of Umm Salamah because of her son Salamah from her first husband Abdullah ibn Asad. She embraced Islam with her husband and is considered to have been one of the earliest Muslims. She first migrated to Abyssinia with her husband and from there she came to Makkah.
Some time later, when people started to migrate to Medinah, her husband, Abu Salamah, also decided to proceed to Medinah. He saddled his camel, and mounted his wife on it, together with their son Salamah who was then only a child. Then he set out, leading the camel. The relatives of Umm Salamah intercepted him and snatched the camel's rope from him and drove it back to Makkah. In the meantime, the relatives of Abu Salamah fell upon the little boy Salamah and dragged him between them, till they dislocated his shoulder. Abu Salamah was let go his way to Medinah. Umm Salamah was left alone with her relatives. She wept day and night for about a year, till one of her cousins saw her plight. He took pity on her. He interceded. Her son was restored to her. She was later allowed to go away to Medinah. Umm Salamah was wise and brave. She saddled her camel and set forth to join her husband in Medinah. The mother and the child were soon on the path leading to the City of the Prophet. At Tan'im she met 'Uthman ibn Talha. He was astonished to find her going all alone, risking herself to any freebooters on the way.
'Uthman could not face this situation. He got down from his camel and led the camel of Umm Salamah by the halter. 'Uthman was a chivalrous Arab. At every stop or watering-place he would make her camel kneel for her, and then withdraw and allow her to alight with convenience. He would then tie the camel to a tree, and himself would go a little away from her and lie down under another tree. After a few days they were in Quba' (Madinah). He said to Umm Salamah: "Your husband lives in this village. So enter it with the blessing of Allah! "'Uthman then left her and went back to Makkah.
Whenever Umm Salamah thought of her sufferings, she used to proclaim: "By Allah, never have I seen a family in Islam which suffered what the family of Abu Salamah did. Nor have I ever seen a nobler man than 'Uthman ibn Talha!" [Ibn Hisham, pp.213-14]
She lived with her husband Abu Salamah in Quba', till, in the Battle of Uhud, he was mortally wounded. This was a great blow! Now she was left alone, with two children, Salamah and Zainab.
After the completion of the waiting period, when the Prophet proposed to her, she offered three excuses, "I am a very jealous (gayur) woman (for she deeply loved her husband Abu Salamah); I have children; and I am old." The Prophet said that his age was more than hers; Allah and His Messenger would look after her children and, as for her jealousy, he would pray to Allah to remove that from her. She was married in the year 4 A.H. and her dowry was some goods worth ten dirhams.
Earlier, at Hudaibiyah, when the Prophet had commanded the people to slaughter their sacrificial animals and get their heads shaved, and the people were sulking in distress for nothing, he came into his tent. He was feeling indignant. In utter disgust, he said to Umm Salamah: "Thrice have I commanded the people to slaughter their animals and shave their heads. But look how listless and indolent they are!" Here came the feminine intuition to the rescue. She softly said: "O Prophet of Allah, you can't make these fifteen hundred men do what they don't want. Just do your own duty, which Allah has imposed on you. Go ahead and perform your own rites yourself—in an open place so that every one of them can see you."
The Prophet realised the sense of this advice. He stepped out of the tent. He saw that the sun had risen and it was bright everywhere in the vast desert. He went up to the herd. Everybody was now watching him. Even the polytheists of Makkah who had stayed there overnight saw him picking up for himself the Abu Jahl's camel, which had a white, shining, silver nose-ring. He brought it out into the open. He hobbled it and slaughtered it, pronouncing: "Allahu Akbar! Allahu Akbar!…"
Then in a short time he called Khirash ibn Umayya al-Khuza'i, who came up and shaved his head. When the Muslims saw what the Messenger had done, they leapt up and followed him in slaughtering the animals and shaving their heads.
She had heard from the Prophet that if any Muslim was in trouble, he should say this prayer: "O Allah keep my reward for this trouble and make a better alternative for me than this." She said that when Abu Salamah died, she remembered that hadith which he used to tell her and began to say it. When she wanted to say, "O Allah, give me a better replacement," her heart used to say, "Who could be better than Abu Salamah?" But when she began that prayer the Prophet was the replacement of Abu Salamah. [Nasai]
Umm Salamah reports that she was with Allah's Messenger along with Maymunah when Ibn Umm Maktum came into their house. The Prophet told them to veil themselves. She said, "Allah's Messenger, is he not blind and unable to see us?" He replied, "Are you blind and unable to see him?" [Ahmad, Tirmidi and Abu Dawud]
Though all the wives of the Prophet were learned women and possessed great knowledge, A'isha and Umm Salamah had no rivals. Mahmud ibn Labid said, "The wives of the Prophet were treasuries of hadith but A'isha and Umm Salamah had no equal." Marwan ibn Hakim enquired about problems from them and openly said, "Why should we ask others while the wives of the Prophet are among us?" [Musnad] Abu Hurairah and Ibn Abbas, in spite of their own wide knowledge, came to them for certain things and a huge group of tabi'in (followers of the companions) benefited from their advice. [Musnad]
She could read the Qur'an in the style of the Prophet. Once someone asked, "How did the Prophet read the Qur'an?" She said, "He read each verse separately from the other," and then showed how by reading the Qur'an herself. [Musnad] She narrated 378 hadith and is included in the third degree of companion narrators of hadith (Sahabah Muhaddethiin). She was very much interested in listening to hadith.
Once she was doing her hair, when the Prophet stood to deliver the Khutbah (address) and said, "O people!" She at once tied up her hair and stood up and listened to the Khutbah.(Musnad). Once the companions asked her about the Prophet's inward (basin) condition. She said, "His outward and inward (condition) is the same." When the Prophet came and was told of this, he said, "You have done well." [Musnad] She was very simple and lived a very pious life. Once she wore a necklace containing some portion of gold, but the Prophet avoided her so she broke the necklace. [Musnad] The Prophet was in her house when he called Fatimah, Hasan and Husain and put a blanket over them and said, "O Allah! These are my household; remove impurity from them and purify them." Umm Salamah heard this prayer and said, "O Allah's Messenger, am I included among them?" He said, "You are in your own position and (you are) good." [Tirmidi]
She was the last of the wives of the Prophet to die. She died at the age of eighty four in the year 63 A.H., after the martyrdom of Husain. Abu Hurairah offered her funeral prayer and she was buried in the Jannat al-Baqi.
Friday, December 21, 2012
Wednesday, December 19, 2012
Companions of Nabi SAW : Abdullah ibn Mas'ud
When he was still a youth, not yet past the age of puberty, he used to roam the mountain trails of Makkah far away from people, tending the flocks of a Quraysh chieftain, Uqbah ibn Muayt. People called him "Ibn Umm Abd" -- the son of the mother of a slave. His real name was Abdullah and his father's name was Mas'ud.
The youth had heard the news of the Prophet who had appeared among his people but he did not attach any importance to it both because of his age and because he was usually far away from Makkan society. It was his custom to leave with the flock of Uqbah early in the morning and not return until nightfall.
One day while tending the flocks, Abdullah saw two men, middle-aged and of dignified bearing, coming towards him from a distance. They were obviously very tired. They were also so thirsty that their lips and throat were quite dry. They came up to him, greeted him and said, "Young man, milk one of these sheep for us that we may quench our thirst and recover our strength."
"I cannot," replied the young man. "The sheep are not mine. I am only responsible for looking after them."
The two men did not argue with him. In fact, although they were so thirsty, they were extremely pleased at the honest reply. The pleasure showed on their faces.
The two men in fact were the blessed Prophet himself and his companion, Abu Bakr Siddiq. They had gone out on that day to the mountains of Makkah to escape the violent persecution of the Quraysh.
The young man in turn was impressed with the Prophet and his companion and soon became quite attached to them.
It was not long before Abdullah ibn Mas'ud became a Muslim and offered to be in the service of the Prophet. The Prophet agreed and from that day the fortunate Abdullah ibn Mas'ud gave up tending sheep in exchange for looking after the needs of the blessed Prophet.
Abdullah ibn Mas'ud remained closely attached to the Prophet. He would attend to his needs both inside and outside the house. He would accompany him on journeys and expeditions. He would wake him when he slept. He would shield him when he washed. He would carry his staff and his siwak (toothbrush) and attend to his other personal needs.
Abdullah ibn Mas'ud received a unique training in the household of the Prophet. He was under the guidance of the Prophet, he adopted his manner and followed his every trait until it was said of him, "He was the closest to the Prophet in character."
Abdullah was taught in the "school" of the Prophet. He was the best reciter of the Qur'an among the companions and he understood it better than them all. He was therefore the most knowledgeable on the Shariah. Nothing can illustrate this better than the story of the man who came to Umar ibn al-Khattab as he was standing on the plain of Arafat and said: "I have come, O Amir al-Mu'mineen, from Kufah where I left a man filling copies of the Qur'an from memory."
Umar became very angry and paced up and down beside his camel, fuming.
"Who is he?" he asked.
"Abdullah ibn Mas'ud," replied the man.
Umar's anger subsided and he regained his composure.
"Woe to you," he said to the man. "By God, I don't know of any person left who is more qualified in this matter than he is. Let me tell you about this."
Umar continued: "One night the Messenger of God, peace be upon him, was having a conversation with Abu Bakr about the situation of Muslims. I was with them. When the Prophet left, we left with him also and as we passed through the mosque, there was a man standing in Prayer whom we did not recognize. The Prophet stood and listened to him, then turned to us and said, 'Whoever wants to read the Qur'an as fresh as when it was revealed, then let him read according to the recitation of Ibn Umm Abd.'
After the Prayer, as Abdullah sat making supplications, the Prophet, peace be on him, said, 'Ask and it will be given to you. Ask and it will be given to you.' Umar continued: "I said to myself -- I shall go to Abdullah ibn Mas'ud straight away and tell him the good news of the Prophet's ensuring acceptance of his supplications. I went and did so but found that Abu Bakr had gone before me and conveyed the good news to him. By God, I have never yet beaten Abu Bakr in the doing of any good."
Abdullah ibn Mas'ud attained such a knowledge of the Qur'an that he would say, "By Him besides Whom there is no god, no verse of the book of God has been revealed without my knowing where it was revealed and the circumstances of its revelation. By God, if I know there was anyone who knew more of the Book of Allah, I will do whatever is in my power to be with him."
Abdullah was not exaggerating in what he said about himself. Once Umar ibn al-Khattab met a caravan on one of his Journeys as caliph. It was pitch dark and the caravan could not be seen properly. Umar ordered someone to hail the caravan. It happened that Abdullah ibn Mas'ud was in it.
"From where do you come?" asked Umar.
"From a deep valley," came the reply.
"And where are you going?" asked Umar.
"To the ancient house," came the reply.
"There is a learned person (alim) among them," said Umar and he commanded someone to ask the person: "Which part of the Qur'an is the greatest?"
" 'God. There is no god except Him, the Living, the Self-subsisting. Neither slumber overtakes Him nor sleep,' " replied the person answering, quoting the Ayat al-Kursi (the verse of the Throne).
"Which part of the Qur'an is the most clear on justice?"
" 'God commands what is just and fair, the feeding of relatives,' " came the answer.
"What is the most comprehensive statement of the Qur'an?"
" 'Whoever does an atom's weight of good shall see it, and whoever does an atom's weight of evil shall see it.' "
"Which part of the Qur'an gives rise to the greatest hope?"
" 'Say, O my servants who have wasted their resources, do not despair of the mercy of God. Indeed, God forgives all sins. He is the Forgiving, the Compassionate.' "
Thereupon Umar asked: "Is Abdullah ibn Mas'ud among you?"
"Yes, by God," the men in the caravan replied.
Abdullah ibn Mas'ud was not only a reciter of the Qur'an, a learned man or a fervent worshipper. He was in addition a strong and courageous fighter, one who became deadly serious when the occasion demanded it.
The companions of the Prophet were together one day in Makkah. They were still few in number, weak and oppressed. They said, "The Quraysh have not yet heard the Qur'an being recited openly and loudly. Who is the man who could recite it for them?"
"I shall recite it for them," volunteered Abdullah ibn Mas'ud.
"We are afraid for you," they said. "We only want someone who has a clan who would protect him from them."
"Let me," Abdullah ibn Mas'ud insisted, "Allah shall protect me and keep me away from their evil." He then went out to the mosque until he reached Maqam Ibrahim (a few meters from the Ka'bah). It was dawn and the Quraysh were sitting around the Ka'bah. Abdullah stopped at the Maqam and began to recite: "In the name of God, the Beneficent, the Merciful. The Merciful is God. He has taught the Qur'an. He has created man and taught him the clear truth. "
He went on reciting. The Quraysh looked at him intently and some of them asked: "What is Ibn Umm Abd saying?"
"Damn him! He is reciting some of what Muhammad brought!" they realized.
They went up to him and began beating his face as he continued reciting. When he went back to his companions, the blood was flowing from his face.
"This is what we feared for you," they said.
"By God," replied Abdullah, "the enemies of God are not more comfortable than I at this moment. If you wish. I shall go out tomorrow and do the same."
"You have done enough," they said. "You have made them hear what they dislike."
Abdullah ibn Masiud lived to the time of Khalifah Uthman, may God be pleased with him. When he was sick and on his death-bed, Uthman came to visit him and said: "What is your ailment?"
"My sins."
"And what do you desire?"
"The mercy of my Lord."
"Shall I not give you your stipend which you have refused to take for years now?"
"I have no need of it."
"Let it be for your daughters after you."
"Do you fear poverty for my children? I have commanded them to read Surah Al-Waqi'ah every night for I have heard the Prophet saying, 'Whoever reads Al-Waqi'ah every night shall not be effected by poverty ever.' "
That night, Abdullah passed away to the company of his Lord, his thoughts moist with the remembrance of God and with the recitation of the verses of His Book.
The youth had heard the news of the Prophet who had appeared among his people but he did not attach any importance to it both because of his age and because he was usually far away from Makkan society. It was his custom to leave with the flock of Uqbah early in the morning and not return until nightfall.
One day while tending the flocks, Abdullah saw two men, middle-aged and of dignified bearing, coming towards him from a distance. They were obviously very tired. They were also so thirsty that their lips and throat were quite dry. They came up to him, greeted him and said, "Young man, milk one of these sheep for us that we may quench our thirst and recover our strength."
"I cannot," replied the young man. "The sheep are not mine. I am only responsible for looking after them."
The two men did not argue with him. In fact, although they were so thirsty, they were extremely pleased at the honest reply. The pleasure showed on their faces.
The two men in fact were the blessed Prophet himself and his companion, Abu Bakr Siddiq. They had gone out on that day to the mountains of Makkah to escape the violent persecution of the Quraysh.
The young man in turn was impressed with the Prophet and his companion and soon became quite attached to them.
It was not long before Abdullah ibn Mas'ud became a Muslim and offered to be in the service of the Prophet. The Prophet agreed and from that day the fortunate Abdullah ibn Mas'ud gave up tending sheep in exchange for looking after the needs of the blessed Prophet.
Abdullah ibn Mas'ud remained closely attached to the Prophet. He would attend to his needs both inside and outside the house. He would accompany him on journeys and expeditions. He would wake him when he slept. He would shield him when he washed. He would carry his staff and his siwak (toothbrush) and attend to his other personal needs.
Abdullah ibn Mas'ud received a unique training in the household of the Prophet. He was under the guidance of the Prophet, he adopted his manner and followed his every trait until it was said of him, "He was the closest to the Prophet in character."
Abdullah was taught in the "school" of the Prophet. He was the best reciter of the Qur'an among the companions and he understood it better than them all. He was therefore the most knowledgeable on the Shariah. Nothing can illustrate this better than the story of the man who came to Umar ibn al-Khattab as he was standing on the plain of Arafat and said: "I have come, O Amir al-Mu'mineen, from Kufah where I left a man filling copies of the Qur'an from memory."
Umar became very angry and paced up and down beside his camel, fuming.
"Who is he?" he asked.
"Abdullah ibn Mas'ud," replied the man.
Umar's anger subsided and he regained his composure.
"Woe to you," he said to the man. "By God, I don't know of any person left who is more qualified in this matter than he is. Let me tell you about this."
Umar continued: "One night the Messenger of God, peace be upon him, was having a conversation with Abu Bakr about the situation of Muslims. I was with them. When the Prophet left, we left with him also and as we passed through the mosque, there was a man standing in Prayer whom we did not recognize. The Prophet stood and listened to him, then turned to us and said, 'Whoever wants to read the Qur'an as fresh as when it was revealed, then let him read according to the recitation of Ibn Umm Abd.'
After the Prayer, as Abdullah sat making supplications, the Prophet, peace be on him, said, 'Ask and it will be given to you. Ask and it will be given to you.' Umar continued: "I said to myself -- I shall go to Abdullah ibn Mas'ud straight away and tell him the good news of the Prophet's ensuring acceptance of his supplications. I went and did so but found that Abu Bakr had gone before me and conveyed the good news to him. By God, I have never yet beaten Abu Bakr in the doing of any good."
Abdullah ibn Mas'ud attained such a knowledge of the Qur'an that he would say, "By Him besides Whom there is no god, no verse of the book of God has been revealed without my knowing where it was revealed and the circumstances of its revelation. By God, if I know there was anyone who knew more of the Book of Allah, I will do whatever is in my power to be with him."
Abdullah was not exaggerating in what he said about himself. Once Umar ibn al-Khattab met a caravan on one of his Journeys as caliph. It was pitch dark and the caravan could not be seen properly. Umar ordered someone to hail the caravan. It happened that Abdullah ibn Mas'ud was in it.
"From where do you come?" asked Umar.
"From a deep valley," came the reply.
"And where are you going?" asked Umar.
"To the ancient house," came the reply.
"There is a learned person (alim) among them," said Umar and he commanded someone to ask the person: "Which part of the Qur'an is the greatest?"
" 'God. There is no god except Him, the Living, the Self-subsisting. Neither slumber overtakes Him nor sleep,' " replied the person answering, quoting the Ayat al-Kursi (the verse of the Throne).
"Which part of the Qur'an is the most clear on justice?"
" 'God commands what is just and fair, the feeding of relatives,' " came the answer.
"What is the most comprehensive statement of the Qur'an?"
" 'Whoever does an atom's weight of good shall see it, and whoever does an atom's weight of evil shall see it.' "
"Which part of the Qur'an gives rise to the greatest hope?"
" 'Say, O my servants who have wasted their resources, do not despair of the mercy of God. Indeed, God forgives all sins. He is the Forgiving, the Compassionate.' "
Thereupon Umar asked: "Is Abdullah ibn Mas'ud among you?"
"Yes, by God," the men in the caravan replied.
Abdullah ibn Mas'ud was not only a reciter of the Qur'an, a learned man or a fervent worshipper. He was in addition a strong and courageous fighter, one who became deadly serious when the occasion demanded it.
The companions of the Prophet were together one day in Makkah. They were still few in number, weak and oppressed. They said, "The Quraysh have not yet heard the Qur'an being recited openly and loudly. Who is the man who could recite it for them?"
"I shall recite it for them," volunteered Abdullah ibn Mas'ud.
"We are afraid for you," they said. "We only want someone who has a clan who would protect him from them."
"Let me," Abdullah ibn Mas'ud insisted, "Allah shall protect me and keep me away from their evil." He then went out to the mosque until he reached Maqam Ibrahim (a few meters from the Ka'bah). It was dawn and the Quraysh were sitting around the Ka'bah. Abdullah stopped at the Maqam and began to recite: "In the name of God, the Beneficent, the Merciful. The Merciful is God. He has taught the Qur'an. He has created man and taught him the clear truth. "
He went on reciting. The Quraysh looked at him intently and some of them asked: "What is Ibn Umm Abd saying?"
"Damn him! He is reciting some of what Muhammad brought!" they realized.
They went up to him and began beating his face as he continued reciting. When he went back to his companions, the blood was flowing from his face.
"This is what we feared for you," they said.
"By God," replied Abdullah, "the enemies of God are not more comfortable than I at this moment. If you wish. I shall go out tomorrow and do the same."
"You have done enough," they said. "You have made them hear what they dislike."
Abdullah ibn Masiud lived to the time of Khalifah Uthman, may God be pleased with him. When he was sick and on his death-bed, Uthman came to visit him and said: "What is your ailment?"
"My sins."
"And what do you desire?"
"The mercy of my Lord."
"Shall I not give you your stipend which you have refused to take for years now?"
"I have no need of it."
"Let it be for your daughters after you."
"Do you fear poverty for my children? I have commanded them to read Surah Al-Waqi'ah every night for I have heard the Prophet saying, 'Whoever reads Al-Waqi'ah every night shall not be effected by poverty ever.' "
That night, Abdullah passed away to the company of his Lord, his thoughts moist with the remembrance of God and with the recitation of the verses of His Book.
buat usaha dapat yakin
Setiap manusia diatas mukabumi ini berusaha. Setiap orang yang berusaha akan mendapat keyakinan atas apa yang diusahakan. Seorang petani yang usaha atas pertanian maka akan dapat keyakinan atas pertaniannya. Seorang peniaga yang usaha atas perniagaan maka akan dapat keyakinan untuk dapat sesuatu dari perniagaannya. Seorang pemerintah yang ada keyakinan atas pemerintahannya, yang usaha atas kuasanya maka akan datang keyakinan atas kuasanya. Setiap orang berusaha dan dalam hati mereka ada keyakinan atas usaha yang mereka telah lakukan.
Hari ini usaha atas agama telah ditinggalkan, usaha atas iman telah ditinggalkan oleh manusia. Oleh kerana itu, keyakinan atas agama telah keluar daripada hati manusia. Hari ini agama telah jadi satu benda yang ikhtiar dan infradi[1], satu benda pilihan dan bersifat peribadi. Sedangkan agama adalah bersifat ijtimai[2]. Asalnya agama bersifat ijtimai dan umum. Agama perlu diamalkan secara ijtimai. Oleh kerana tiada usaha atas agama, maka dari hati orang Islam sendiri telah tidak ada keyakinan pada agama. Telah tidak ada penggantungan pada agama bahawa dengan agama kita akan dapat kejayaan. Punca utama ialah kerana usaha agama telah ditinggalkan.
Muhammad Saad Kandhalawi : Ijtimak Malaysia, 11 Julai 2009.
Hari ini usaha atas agama telah ditinggalkan, usaha atas iman telah ditinggalkan oleh manusia. Oleh kerana itu, keyakinan atas agama telah keluar daripada hati manusia. Hari ini agama telah jadi satu benda yang ikhtiar dan infradi[1], satu benda pilihan dan bersifat peribadi. Sedangkan agama adalah bersifat ijtimai[2]. Asalnya agama bersifat ijtimai dan umum. Agama perlu diamalkan secara ijtimai. Oleh kerana tiada usaha atas agama, maka dari hati orang Islam sendiri telah tidak ada keyakinan pada agama. Telah tidak ada penggantungan pada agama bahawa dengan agama kita akan dapat kejayaan. Punca utama ialah kerana usaha agama telah ditinggalkan.
Muhammad Saad Kandhalawi : Ijtimak Malaysia, 11 Julai 2009.
Tuesday, December 18, 2012
Mujahid Fikir Umat
Dari Abdullah bin Umar r.a bahawa Rasulullah SAW telah menukilkan satu firman Allah SWT di dalam sebuah hadis qudsi: Mana-mana hambaku yang semata-mata mendapat redhaKu mereka keluar sebagai mujahid, maka Aku memberi jaminan bahawa Aku akan memulangkannya ke rumah dengan pahala dan harta rampasan, dan jika Aku memanggilnya kembali, maka Aku akan mengampunkannya, merahmatinya dan akan memasukkanya ke dalam syurga. (HR Ahmad)
Dari Hind bin Abi Halab r.a ketika menceritakan peribadi Nabi SAW berkata bahawa Rasulullah SAW; (kerana umatnya) berterusan bersedih dan sentiasa berfikir, tidak langsung berasa tenang bila-bila masa pun. Baginda selalu diam dan tidak akan berbicara jika tidak perlu. (HR Tirmizi)
Dari Hind bin Abi Halab r.a ketika menceritakan peribadi Nabi SAW berkata bahawa Rasulullah SAW; (kerana umatnya) berterusan bersedih dan sentiasa berfikir, tidak langsung berasa tenang bila-bila masa pun. Baginda selalu diam dan tidak akan berbicara jika tidak perlu. (HR Tirmizi)
Subscribe to:
Posts (Atom)
