Maulana Ahmad Lath
Masyeikh India
Nizammuddin, New Delhi
India
Bayan Subuh
Bayan Maulana Ahmad Lath
Assalamu alaikum Wr Wb.
Alhamdulillah, Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT,
shalawat serta salam kita panjatkankan kepada Nabi Muhammad Saw beserta
keluarganya yang mulia dan para sahabat yang agung, juga kepada
pengikutnya yang setia hingga akhir zaman, bahwasanya kita semuanya
masih diberikan kesehatan dan kesempatan pada hari ini untuk sama-sama
melaksanakan perintah-Nya dan beribadah kepada Allah SWT.
Segala sesuatu ada awalnya dan ada akhirnya, tetapi Allah adalah yang
pertama yang tidak punya awal (The First that have no beginning) dan
yang terakhir tetapi tidak punya pengakhiran (The last that have no
end). Setiap ciptaan punya kehidupan dan kematian, tetapi Allah adalah
yang hidup dan yang tidak pernah mati. Bahkan Allah yang menghidupkan,
memberi kehidupan, dan yang mematikan, lalu membangkitkannya ciptaanNya.
Segala sesuatu yang mempunyai awal dan akhir telah dicatat di lauh
mahfudz. Seseorang tidak dapat menghindari atau lari dari Rizki
sebagaimana mereka tidak dapat lari dari kematian. Perkara ini telah
Allah tetapkan di dalam Lauh Mahfudz 50.000 tahun sebelum Allah ciptakan
segala sesuatu. Mati akan datang kepada kita walaupun kita dilindungi
oleh benteng yang paling kuat. Dan Rizki akan datang kepada kita
walaupun kita bersembunyi ditempat yang tidak diketahui manusia. Rizki
dan Mati ini perkara yang tidak bisa dipisahkan. Tidak mungkin seseorang
mati sebelum rizkinya habis. Mati ini akan datang setelah rizki kita
habis. Tidak ada satu mahlukpun yang mati kekurangan rizki, mati dan
rizki ini telah ditentukan. Mati ini ketentuan Allah, dan Rizkipun
ketentuan Allah, namun Allah berikan kita asbab-asbab kematian dan rizki
untuk menguji keyakinan kita.
Allah Maha mengetahui segala kejadian, dan segala kejadian ini adalah
hasil kerjanya Allah Ta’ala. Seluruh Alam ini bergerak atas Qudrat dan
IradahNya, Kekuasaan dan KehendakNya. Tidak ada sesuatu yang dapat
terjadi diluar izin Allah Ta’ala, semuanya harus ada izin Allah. Semua
yang bergerak atas dasar ketaatan akan membawa Ridho Allah, dan semua
yang bergerak atas kemaksiatan kepada Allah akan membawa murkanya. Semua
yang terjadi dimasa lalu dan dimasa akan datang adalah perkara lama
bagi Allah, bukan hal baru, semuanya telah Allah ketahui.
Pengorbanan disisi Allah tidak ada yang sia-sia, Allah akan berikan
setiap pengorbanan, balasan yang baik dunia dan akherat. Allah akan
gandakan setiap kebaikan yang kita buat sebanyak yang Allah mau nanti di
akherat. Di dunia setiap kebendaan, harga diri, jabatan, harta yang
kita korbankan untuk agama akan Allah gantikan dengan sesuatu yang lebih
baik. Di dunia, Allah akan masukkan kedalam mereka Ketaqwaan dan Qonaah
ketika hidup di dunia. Di dalam kehidupan mereka akan Allah hadirkan
suasana sakinah penghuni surga. Di akherat mereka akan Allah berikan
kenikmatan yang tidak pernah terbesit oleh hati, terlihat oleh mata,
bahkan terpikirkan oleh akal. Allah akan beri kita satu amal saja dengan
balasan di akherat yang luasnya 10 kali lipat melebihi luas langit dan
bumi.
Di akherat nanti semua orang akan terkejut melihat semuanya yaitu
kedahsyatan huru-hara di akherat. Semua mata waktu itu akan terbuka
selebar-lebarnya. Ketika inilah penglihatan sebenarnya akan dibukakan
Allah, segala sesuatu yang ghaib akan terlihat. Semua yang tadinya hanya
terdengar sebagai cerita telah menjadi kenyataan. Ketika itu semua
orang akan sepakat dan satu kata : “Ya Allah, kini kami bersaksi akan
kebenaran ini, dan kami menyesal. Kembalikanlah kami kedunia, maka kami
akan beramal.” Namun ketika ini segala penyesalan sudah tidak ada
gunanya lagi. Semua orang akan menyematkan dirinya masing-masing. Bahkan
seorang ibu yang rela mati didunia buat anaknya, tidak akan bisa atau
mau menolong anaknya di akherat nanti.
Manusia ini sebenarnya buta, mereka tidak bisa melihat yang
sebenarnya yaitu : kubur, mahsyar, shirot, surga, dan neraka. Padahal
itu semua bukan cerita dongeng. Celakanya seorang yang buta bukan karena
dia tidak bisa melihat, tetapi karena dia tidak mau mendengar orang
yang bisa melihat. Sebagaimana para nabi yang telah melihat perkara yang
ghaib memperingatkan kita yang buta tentang kehidupan sesudah mati.
Para nabi AS ini adalah orang-orang yang telah Allah perlihatkan
kehidupan sesudah mati. Bagi mereka dari kubur hingga surga dan neraka
bukan lagi sebagai cerita, tetapi kenyataan yang menunggu umat manusia.
Para Nabi dapat melihat hal yang sebenarnya, sedangkan kita tidak.
Celakanya kita sebagai orang tidak dapat melihat adalah tidak mau
mendengar kata Nabi sebagai orang yang bisa dan telah melihat.
Segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini ada batasnya, seperti
penglihatan, pendengaran, kesehatan, umur, bahkan kesenangan dan
kesedihan sekalipun. Tetapi setelah masuk kubur sesuatu yang terbatas
menjadi tidak terbatas seperti penglihatan, pendengaran, umur, rasa
sakit dan rasa senang. Semua batas akan Allah angkat, sehingga segala
yang ghaib menjadi nyata setelah kita mati.
Allah menguji kita :
1. ketika kaya dan ketika miskin
2. ketika sehat dan ketika sakit
3. Ketika senang dan ketika susah
4. Ketika disakiti dan ketika mampu menyakiti
5. Ketika kita melihat kesenangan orang dan ketika kita melihat kesusahan orang.
Semua ini adalah ujian dari Allah, dan Allah catat semua perbuatan
kita ini untuk dipertanggung jawabkan di pengadilan Allah. Allah telah
uji Bani Israil ketika mereka dalam keadan susah, menjadi budak dan
takut kepada Firaun. Lalu Allah keluarkan mereka dari budak firaun
menjadi budak Allah, dari rasa takut terhadap firaun menjadi takut
kepada Allah. Kehidupan Bani Israil setelah itu membaik, tidak ada lagi
rasa takut, yang ada rasa aman dan sejahtera. Namun celakanya Bani
Israil ini adalah ketika mereka dalam keadaan senang ini mereka lalai
dan kufur dari Nikmat Allah. Mereka durhaka kepada Allah, sehingga Allah
hancurkan mereka sebagaimana Allah telah hancurkan Firaun. Allah
hinakan mereka seperti Allah hinakan Firaun. Allah binasakan dan hinakan
mereka yang durhaka dan kufur kepada Allah seperti Iblis, Qorun,
Firaun, dan lain-lain.
Tragedi terbesar dalam kehidupan manusia adalah bukan ketika ekonomi
dunia hancur, atau ketika manusia gagal pergi ke mars, atau rusaknya
odzon, tetapi ketika dunia ini telah kehilangan Nabi SAW. Kehadiran Nabi
SAW ini di dunia ini adalah sebagai Rahmatan Lil Alamain, Rahmat bagi
seluruh Alam. Satu-satunya nama yang bersanding dengan nama Allah di
arasyNya. Keberkahan beliau tidak hanya untuk manusia saja, tetapi untuk
binatang, tumbuh-tumbuhan, juga para jin sekalipun. Awan selalu
menaunginya dari panas matahari, batu-batuan memberi salam kepadanya,
pohon-pohon membungkuk kepadanya, binatang mengadu kepadanya, asbabnya
Jinpun masuk kedalam Islam. Inilah kemuliaan Nabi Muhammad SAW sebagai
rahmat Allah untuk seluruh alam.
Karena beliau derajat umat ini naik
disisi Allah melebihi derajat umat-umat sebelumnya.
Seseorang ini akan dinilai oleh Allah, sejauh mana ia mampu
menyempurnakan hidupnya seperti hidup Nabi SAW. Hidupnya Nabi SAW adalah
kesempurnaan hidup yang telah Allah buat untuk manusia mengikutinya.
Kesempurnaan Hidup yang dicontohkan oleh Nabi ini adalah Cara Hidup
Islam. Islam ini adalah cara hidup rasullullah SAW selama 24 jam. Setiap
perbuatan dan perkataan Nabi SAW adalah amal. Semua kehidupan selain
kehidupan Nabi SAW tidak mendatangkan nilai apapun disisi Allah Ta’ala.
Ketika Nabi SAW mengutus sahabat untuk mengantar surat kepada seorang
Raja untuk menawarkan Agama. Nabi SAW menulis : Lihatlah sahabatku dan
segala prilakunya jika engkau ingin mempelajari Islam. Pendidikan
keimanan yang Nabi SAW ajarkan kepada para sahabat hasilnya membuat
kehidupan Sahabat sulit dibedakan dengan kehidupan Nabi SAW. Inilah
kesempurnaan Iman para sahabat sehingga Keberkahan Hidup yang Allah
berikan kepada Nabi SAW juga Allah berikan kepada sahabat RA. Sahabat
mengetahui tingginya nilai Iman dan Amal, sehingga segala sesuatu yang
Nabi SAW lakukan, pasti mereka lakukan. Apapun yang dilakukan Nabi SAW
menjadi agama dan mendatangkan nilai disisi Allah.
Nabi SAW bersabda, mahfum :
“ Berimanlah kamu seperti sahabat-sahabatku beriman.”
(Al Hadits)
Sahabat mencintai Nabi SAW melebihi cinta mereka kepada anaknya,
ayahnya, istrinya, hartanya, bahkan jiwa mereka sekalipun. Mereka siap
tidak mengakui anak mereka, orang tua mereka, harta mereka, kerabat
mereka, jika itu semua dapat menjauhkan mereka dari nabi SAW. Seorang
sahabat, Zaid RA, hendak dijemput oleh ayahnya yang telah terpisah
bertahun-tahun. Tetapi Zaid RA menolaknya karena ia ingin selalu dekat
dengan Nabi SAW. Abu Bakar RA pernah berkata kepada anaknya bahwa dia
rela membunuh anaknya yang belum masuk islam di perang badr karena dia
lebih mencintai Allah dan RasulNya. Sahabat tidak masalah hidup tidak
berjumpa anak, istri, harta, dan orang tua mereka ketika hijrah ke
madinah, namun sahabat RA tidurpun tidak bisa sebelum berjumpa dengan
Nabi SAW.
Nabi SAW bersabda mahfum :
“Tidak Sempurna Iman kalian sebelum kalian mencintaiku melebihi hal-hal yang kalian cintai.”
Seseorang datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Saya ini benar-benar
Mukmin (beriman).” Lalu Nabi SAW berkata, “Katakanlah saya ini muslim
(Islam), bukan mengatakan saya ini mukmin (beriman).” Islam ini adalah
cara hidup, sedangkan Iman adalah keyakinan yang sempurna dan mutlak
kepada Allah.
Jika kita sudah hidup dengan keyakinan yang sempurna maka
hidup kita akan menjadi kehidupan yang penuh dengan karomah seperti
kehidupan sahabat :
1. Suatu ketika Khalid bin Walid RA diminta untuk meminum Racun jika
dia benar-benar yakin kepada Allah. Lalu Khalid RA meminum racun itu
seperti dia meminum air putih. Bukannya mati setelah meminum racun,
tatapi asbab meminum racun itu penyakit yang dideritanya malah hilang.
2. Sahabat Saad RA melintasi sungai dengan tentaranya tanpa air menyentuh telapak kaki kuda.
3. Sahabat hanya dengan sholat 2 rakaat dapat menyebabkan orang yang mati menjadi hidup kembali.
Ini semua dapat terjadi karena keimanan sahabat yang sempurna kepada
Allah Ta’ala. Ketika seseorang menginjak semut apakah dia akan takut
lalu menjerit ? tentu tidak karena semut itu kecil dimatanya. Inilah
yang dilihat sahabat ketika menghadapi masalah seperti gempa, lahar
gunung, tentara musuh, singa, racun, dan lain-lain. Mereka melihat
masalah ini seperti mereka melihat semut kecil tadi. Semua masalah
adalah mahluk Allah, mahluk tidak perlu ditakuti. Mahluk tidak dapat
menyakiti tanpa seizin Allah.
Kelemahan dalam kehidupan manusia terjadi karena manusia tidak
percaya dan tidak yakin pada Allah. Ini hanya menimbulkan kerugian dalam
kehidupan mereka sendiri dan kehidupan setelah mati. Segala sesuatu
dalam kehidupan manusia menjadi tidak beres bahkan mendatangkan mudharat
kepada yang lain asbab manusia tidak yakin pada Allah. Jika semua
manusia taat dan yakin pada Allah, maka tidak akan terjadi kerusakan dan
kesedihan di dunia ini. Kerusakan dan penderitaan yang dihadapi manusia
terjadi hanya karena mereka tidak mau taat dengan apa yang Allah
bilang.
Agama akan datang dalam kehidupan kita jika kita ada fikir dan risau
terhadap agama. Sebagaimana Agama datang kepada Ibrahim AS setelah
beliau ada fikir atas agama, fikir atas penciptaan dan penciptanya.
Agama turun di mekah setelah Nabi SAW ada fikir dan risau atas agama dan
umat. Jika kita mempunyai fikir dan risau seperti Nabi SAW, maka
kehidupan kita akan terbentuk seperti kehidupan Nabi SAW. Namun untuk
dapat mendapatkan fikir dan risau ini diperlukan latihan yang terus
menerus.
Kita harus bisa merubah keyakinan kita terhadap kebendaan menjadi
yakin pada Allah dan Amal. Kebendaan yang kita miliki ini tidak akan
pernah dapat memberikan kebahagiaan atau manfaat kepada kita, selain
dari yang Allah telah tetapkan. Seluruh kebahagiaan ini merupakan
pemberian dari Allah dan karena IradahNya, keinginanNya. Jika kita mau
bahagia, berdo’a, minta saja pada Allah. Setelah berdo’a baru kita
tunaikan hak dari berdo’a yaitu dengan melengkapi asbab-asbabnya.
Sahabat dahulu orang yang jahil, namun karena mereka berkorban banyak
untuk agama, sehingga Allah ridho pada mereka dan Allah ampuni
dosa-dosa mereka. Penting kita tingkatkan perngorbanan kita sehingga
sampai kepada level pengorbanan para sahabat seperti Bilal RA, Kabab RA,
Umair RA, dan lain-lain. Sahabat sampai disiksa karena mereka
mempertahankan keyakinannya, sedangkan hari ini kita tidak ada yang
menyiksa malah meninggalkan keyakinan kita. Inilah perbedaan keadaan
kita sekarang dengan keadaan sahabat dulu. Allah akan sudi mengampuni
kita dan mengangkat derajat kita di akherat, jika kita mau berkorban
demi memperjuangkan agama Allah. Asbab pengorbanan dan ketabahan sahabat
menghadapi penderitaan sehingga agama dapat wujud dalam diri mereka,
keluarga mereka, dan umat di seluruh alam. Perlu kita tanamkan semangat
dalam diri kita untuk melakukan pengorbanan yang sama dengan sahabat
dalam mempertahankan agama Allah.
Kemuliaan dan Kesuksesan yang di
berikan Allah kepada sahabat RA akan di berikan kepada umat ini jika
umat ini mau melakukan pengorbanan seperti yang dilakukan oleh para
Sahabat RA.
Sahabat dahulu tidak pernah mencari alasan untuk meninggalkan
ketaatan kepada Allah. Bahkan dalam keadaan beralasan sekalipun, seperti
ada udzur sakit sekalipun, sahabat tidak pernah meninggalkan ketaatan
kepada Allah. Hari ini umat diajak untuk taat malah mencari alasan untuk
meninggalkan ketaatan. Suatu hari ada jemaah yang pergi ke daerah orang
miskin. Lalu ada seorang miskin yang tidak pernah ke mesjid, di datangi
oleh jemaah. Si miskin minta di do’akan agar ia dapat kerja, sehingga
ia bisa ke mesjid. Sebab kemiskinannya telah menyebabkan dia sibuk
mencari kerja dan menjaga anak. Ia berkata, “Saya tidak ada waktu ke
mesjid sedangkan keluarga saya hidup kelaparan !” Lalu seminggu
kemudian, ada pabrik buka di daerah si miskin tadi. Akhirnya si miskin
tadi bisa mendapat pekerjaan. Selang berapa lama, akhirnya ada rombongan
berikutnya masuk ke daerah si miskin tadi. Namun kali ini setelah di
ajak untuk ke mesjid, dia berkata, ”Saya tidak ada waktu untuk ke mesjid
karena saya sibuk kerja di pabrik dan mengurus keluarga.” Lalu jemaah
berkata, “Kalau begitu saya do’akan tuan agar bisa punya waktu untuk ke
mesjid.” Namun orang itu malah berkata, “Jangan pabrik itu baru buka,
kalau kamu do’akan biar saya punya waktu luang berarti pabrik itu harus
tutup. Kalau pabrik tutup saya dan keluarga saya mau makan pakai apa?”
Hari ini umat di waktu yang luang dan waktu yang sempit tetap tidak bisa
taat kepada Allah. Mau kehidupannya senang ataupun susah, tetap tidak
dapat memberikan waktunya untuk Allah. Inilah umat saat ini, bisanya
hanya mencari alasan untuk tidak taat kepada Allah. Sungguh beda
kehidupan kita dengan sahabat RA.
Allah telah berikan agama kepada manusia untuk membedakan mereka
dengan hewan. Jika kita lihat kehidupan hewan ini adalah kawin,
melahirkan, makan, minum, kerja, cari makan, lalu mati. Tanpa agama,
maka kehidupan kita tidak ada bedanya dengan kehidupan hewan yang hina
dan rendah. Begitulah Allah memandang manusia yang tidak mau taat pada
Allah, seperti manusia melihat binatang. Kehidupan yang tidak ada agama
di mata Allah adalah seperti kehidupan hewan yang hina di mata manusia.
Kini kehidupan manusia sudah seperti kehidupan binatang karena jauhnya
kehidupan mereka dari agama. Bahkan kini manusia asbab mereka jauh dari
agama, hal-hal yang binatang tidak mau lakukan malah dilakukan oleh
manusia. Seperti : orang tua membunuh anaknya dengan aborsi atau anak
membunuh orang tua demi warisan. Padahal hewan pun masih bisa menjaga
kasih sayang di antara keluarganya. Tanpa Agama kehidupan manusia bisa
jadi lebih rendah dibanding kehidupan binatang.
Agama itu adalah cara hidup manusia yang telah Allah siapkan untuk di
ikuti. Allah akan berikan kepada orang yang taat terhadap aturanNya,
kebaikan-kebaikan dunia dan akherat. Di balik perintah Allah ini ada
janji-janji Allah dan ada pertolongan dari Allah. Janji Allah dalam
setiap perintahNya ini lebih pasti dibandingkan dengan janjinya seorang
manusia. Allah sudah tetapkan cara hidup nabi SAW ini sebagai
satu-satunya cara yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan
hidup di dunia dan di akherat. Segala prilaku nabi, pekerjaan nabi, pola
hidup nabi SAW telah Allah jadikan sebagai tolak ukur amal kebaikan
yang mendatangkan pertolongan Allah. Sudah menjadi ketetapan Allah,
selain dari kehidupan Nabi SAW hanya akan mendatangkan kesusahan dan
penderitaan yang tidak terbatas. Semua cara hidup selain dari cara hidup
Nabi SAW akan mengantarkan manusia kepada kebinasaan. Satu-satunya
jalan hidup yang mendatangkan nilai disisi Allah hanya jalan hidup nabi
SAW. Inilah yang di ikuti oleh para sahabat, dan inilah yang harus kita
ikuti. Jika kita mau mengikuti kehidupan Nabi dan para Sahabat maka
nanti Allah akan bangkitkan kita bersama mereka, bukannya bersama
Firaun, Qorun, atau Hamman.
Dalam hadits mahfum :
“Barang siapa yang mengikuti kehidupan suatu kaum maka Allah akan
bangkitkan dia bersama kaum yang di ikuti tersebut” ( Al Hadits )
Akherat adalah kehidupan yang terbentuk dari amal yang kita lakukan
di dunia. Apakah orang itu ketika hidup di dunia memilih hidup cara
kekasih Allah atau cara Musuh Allah. Jalan kehidupan Nabi SAW adalah
satu-satunya jalan hidup yang dapat menghantarkan kita kepada SurgaNya
Allah Ta’ala. Inilah yang namanya jalan keselamatan atau Darrussalam.
Para Nabi dan sahabat mengajak manusia kepada jalan keselamatan,
sedangkan musuh-musuh nabi mengajak manusia kepada jalan kebinasaan.
Allah beri kita kebebasan untuk memilih jalan hidup, jalan mana yang mau
kita ambil. Salah ambil keputusan akibatnya adalah kesengsaraan yang
tidak ada batasnya. Seseorang menjelang sakratul maut, maka Allah akan
tampakkan kepadanya Surga dan Neraka sebagai tempat dia kembali.
Kehidupan yang wujud amal-amal agama akan mengantarkan seseorang ke
surgaNya Allah. Kehidupan yang tidak wujud amal-amal agama akan
mengantarkan orang tersebut ke Neraka JahannamNya Allah.
Iman ini mempunyai rasa, sama seperti rasa buah-buahan, ada yang
manis, ada yang hambar, dan ada yang asam. Namun Iman ini hanya bisa
dirasakan oleh kita sendiri bukan orang lain. Ketika seseorang suka
terhadap suatu makanan, tanpa disuruhpun orang tersebut akan memakannya
lagi dan lagi. Begitu juga orang yang merasakan manisnya usaha Iman.
Iman ini akan terasa manis sejauh mana kita mengenal Allah. Di mulai
dari Allah adalah Rabb kita, yaitu pemelihara tunggal. Jika kita telah
mengenal dan meyakini bahwa Allah adalah Rabb kita, maka kita akan
menyibukkan diri kita hanya dengan ketaatan kepada Allah. Namun hari ini
asbab manusia tidak yakin Allah sebagai pemelihara mereka, yang
rizkinya adalah Allah yang menanggung, sehingga hari ini banyak manusia
yang lari mencari pertolongan dari selain Allah. Rizki manusia ini
seluruhnya datangnya dari Allah, berapa jumlahnya dan kapan habisnya ini
hanya Allah yang tau. Rizki ini tidak harus berupa makanan dan
kebendaan, tetapi bisa juga berupa ketaatan. Nanti akan datang suatu
masa dimana sengan dzikir saja Allah akan berikan orang itu kekenyangan.
Jika Iman lemah maka ibadah-ibadah lain akan lemah, dan do’apun akan
melemah. Do’a kita akan mempunyai kekuatan jika Iman kita kuat. Iman
yang kuat akan membuat do’a menjadi efektif. Saat ini yang paling
penting buat kita adalah bagaimana selama 24 jam ini kita pelihara dan
tingkatkan Iman kita. Jadikan usaha atas Iman ini seperti kita menghirup
udara, tidak mungkin kita stop menghirup udara. Jika kita keluar 4
bulan setiap tahun, itu baru 1/3 dari udara yang kita perlukan. Mengapa
hari ini kita tidak bisa menikmati yang namanya Iman, ini karena kita
tidak ada usaha atas Iman. Rasa dari suatu usaha akan timbul dari
pengorbanan kita atas usaha tersebut.
Iman akan terasa manis ketika kita mengetahui dan mengenal Allah
sebagai Rabb kita. Ketika ini kita akan lupakan pekerjaan kita, kita
akan lupakan, perdagangan kita, kita akan lupakan pertanian kita, yang
kita mau lakukan hanya menyenangkan Allah. Kita harus mempunyai
keyakinan bahwa Allah adalah Rabb kita satu-satunya, pemelihara tunggal.
Dari yakin yang kuat akan menghasilkan amal yang kuat. Amal yang
berkeyakinan inilah yang Allah mau. Sejauh mana kita menyenangkan tuan
kita, sejauh itu tuan kita akan memelihara kita dengan baik, seperti
inilah antara Allah dengan hambanya. Jika Allah tunjukkan dirinya pada
kita, maka segalanya akan berubah bagi kita di dunia ini. Kita akan
melupakan dunia dan hanya mengabdi pada Allah. Mudah saja bagi Allah
membuat manusia ini beriman, tetapi yang Allah mau adalah melihat
manusia ini berkorban untuk perkara Iman. Allah sudah punya malaikat
sebagai ahli ibadah yang dapat mengetahui langsung Allah sebagai Rabb
seluruh alam. Inilah yang menyebabkan iman manusia lebih afdhol
dibanding iman para malaikat.
Manusia mempunyai tradisi, namun jika agama sudah siap kita ambil
sebagai pedoman hidup, maka yang namanya tradisi ini harus ditinggalkan.
Dan Agama juga bukan tradisi atau sekedar ibadah-ibadah formalitas.
Kita membuat agama menjadi tradisi dan formalitas karena kita tidak
mengenal agama kita sendiri. Agama ini adalah solusi bagi seluruh
masalah kita jika kita yakini dan kita jalani dengan benar. Masalahnya
hari ini karena kelemahan Iman kita, sehingga kita jalani agama ini
sebatas rutinitas ibadah dan formalitas. Untuk dapat menghilangkan
tradisi adat istiadat dan ibadah formalitas, kita harus yakin dulu pada
perintah Allah dan apa yang diucapkan oleh Nabi SAW. Jika kita tidak mau
meninggalkan tradisi demi perintah Allah dan sunnah Nabi SAW maka adzab
Allah akan turun. Masalah akan datang jika kita tinggalkan perintah
Allah dan Sunnah Nabi SAW. Sedangkan adzab Allah ini terjadi di dunia
dan di akherat, di duniapun Allah akan adzab kita jika kita tidak mau
taat.
Segala sesuatu yang kita lakukan ini di dunia telah tercatat oleh
malaikat “Kiroman Katibin”, Malaikat pencatat. Ini adalah suatu
kenyataan yang tidak bisa di pungkiri oleh orang yang mempunyai Iman.
Semua alat tubuh kita dari tangan, kaki, mata, telinga, perut, hati, dan
fikiran adalah alat untuk mendapatkan Iman. Jika ini tidak kita gunakan
untuk Allah, maka kita akn gunakan untuk selain Allah, dan ini akan
Allah hisab. Semuanya akan menjadi saksi atas amal baik dan amal buruk
yang kita kerjakan. Peralatan tubuh ini dapat menjadi alat untuk
mendapatkan Iman atau merusak Iman, semuanya tergantung pada kita. Kita
akan di hisab oleh Allah untuk setiap waktu yang di gunakan, nikmat yang
telah di berikan,amal yang telah di kerjakan, dan keburukan yang telah
kita lakukan. Segala hasil yang kita terima di kehidupan Akherat akan
dinilai dari kebaikan dan keburukan yang kita lakukan di dunia.
Perbedaan antara orang kafir dan orang beriman terletak pada
keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati. Hari ini kenapa kehidupan
kita tidak jauh seperti orang kafir. Ini karena keyakinan kita terhadap
kehidupan sesudah mati sama seperti mereka. Kalau kita mempunyai
keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati, maka seluruh nikmat dunia
kita akan terasa hambar dan kita hanya akan memikirkan kehidupan akherat
kita saja. Ketika kita berikrar :
1. Rodhi tubillah hi Rabba :
Mengakui Allah sebagai Rabb kita
2. Wabil Islami Dina :
Mengakui Islam sebagai Cara Hidup kita
3. Wabil Muhammaddiya wa Rasulla :
Mengakui Muhammad sebagai Rasul
4. Wabil Qur’anni Imama wa Hakama :
Mengakui Qur’an sebagai Imam dan sumber hukum
Jika ini sudah kita ikrarkan maka sudah seharusnya tugas kita tidak
lain adalah menyenangkan Allah semata. Segala Imbalan yang Allah berikan
kepada kita di dunia dan di akherat hanya bisa di dapat dengan Agama.
Sejauh mana kita menjalankan ini secara sempurna, sejauh itu Allah akan
memberikan kepada kita imbalan di dunia dan di akherat. Nabi SAW telah
memberikan hidupnya selama 24 jam kepada manusia untuk di ikuti, dan
tidak ada yang dirahasiakan Nabi SAW kepada manusia.
Dengan Dakwah maka akan tercipta suasana Imaniat dan suasana Amaliat.
Jika suasana Agama terbentuk maka Iman kita akan terjaga dan
terpelihara. Suasana Amal Madinah adalah salah satu sarana yang
menyebabkan Iman para sahabat terpelihara dan terjaga. Sahabat berkata
“Tuhanku adalah tuhan yang satu yaitu Allah dan Nabiku adalah Muhammad
Rasullullah. Tiada cara hidup lain yang saya ikuti selain cara hidup
Rasullullah SAW. Hidupku hanya untuk Allah dan RasulNya semata. Seluruh
yang aku miliki hanya untuk Allah dan Rasulnya semata.” Inilah keyakinan
sahabat, sehingga berbagai penderitaan dan cobaan sanggup mereka
lewati.
Iman sahabat adalah bukti Iman dan kehidupan yang sempurna. Kehidupan
Nabi SAW adalah contoh kehidupan yang sempurna disisi Allah. Sahabat
semuanya dapat mengikuti kehidupan yang telah di contohkan oleh Nabi
SAW. Para kaum kafirin dengan siksaan yang telah mereka berikan kepada
sahabat, berharap agar sahabat mau meninggalkan keimanan mereka. Namun
apa yang terjadi, justru asbab penyiksaan para kaum kafirin, Iman
sahabat jadi meningkat, tidak berkurang sedikitpun. Bilal RA pernah di
tanya kapan masa dia paling bahagia, dia menjawab, “Ketika aku disiksa
oleh majikanku Abu Jahal ketika itu, di panggang dibawah terik matahari
dan di tindih dengan batu yang besarnya melebihi bobotku.” Inilah asbab
keimanan sahabat yaitu dengan pengorbanan dan bersusah payah untuk Iman.
Sahabat disiksa karena melakukan usaha atas Iman. Sahabat juga
berdagang, hanya saja perdagangan mereka sering diganggu oleh kaum kafir
asbab usaha dakwah yang mereka lakukan. Inilah pengorbanan sahabat buat
agama. Untuk perkara ini kita perlu siapkan diri kita berkorban seperti
Sahabat RA. Tahap pertama adalah belajar berkorban keluar di jalan
Allah untuk mendapatkan Iman
.
Penulis : Buya Atha’illah
Percakapan Laa ilaa ha ilallah
Thursday, December 26, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment